News

AstraZeneca Akui Obat Antibodinya Gagal Cegah Gejala COVID-19 pada Pasien yang Baru Terpapar Virus

Pengumuman itu baru saja disampaikan AstraZeneca pada Selasa (15/6) hari ini. 


AstraZeneca Akui Obat Antibodinya Gagal Cegah Gejala COVID-19 pada Pasien yang Baru Terpapar Virus
Foto menunjukkan botol vaksin AstraZeneca selama sesi vaksinasi untuk orang tua di sebuah gereja di Taipei, 15 Juni 2021 (Reuters via Straits Times)

AKURAT.CO, Perusahaan farmasi dan bioteknologi multinasional Inggris-Swedia, AstraZeneca telah mengumumkan hasil studi pengobatan antibodi monoklonalnya, AZD7442. Namun, dalam pengumumannya itu, AstraZeneca mengaku bahwa AZD7442 'belum mampu' memenuhi tujuan utamanya untuk mencegah gejala COVID-19 pada orang yang baru saja terpapar virus corona baru. 

Diwartakan Reuters hingga Times of India, pengumuman soal AZD7442 itu baru saja disampaikan AstraZeneca pada Selasa (15/6) hari ini. 

AstraZeneca mengatakan bahwa AZD7442 hanya mampu mengurangi risiko pengembangan gejala COVID-19 sebesar 33 persen dibandingkan dengan plasebo atau obat kosong yang diberikan pada para relawan. Sementara diketahui, dalam uji cobanya itu, AstraZeneca melibatkan hingga 1.121 relawan. Mereka terdiri dari orang dewasa berusia lebih dari 18 tahun, dan tidak divaksinasi COVID-19.

Dalam prosesnya, para relawan itupun dikonfirmasi menjalin kontak dan terpapar virus dari pasien COVID-19 selama setidaknya delapan hari terakhir.

Tak ayal, hasil ini menjadi pukulan bagi AstraZeneca yang sebelumnya berhasil berkerja sama dengan Universitas Oxford dalam memproduksi vaksin COVID-19. 

Terlebih, saingan AstraZeneca seperti GlaxoSmithKline Plc (GSK) sukses memproduksi pengobatan serupa melalui uji klinisnya. Obat antibodi GSK itu bernama Sotrovimab, dan dikembangkan bersama dengan Vir Biotechnology. Pada Mei lalu, Sotrovimab telah disetujui oleh FDA AS untuk orang yang berisiko terkena penyakit parah atau tidak dapat divaksinasi.

Rival lain AstraZeneca, Regeneron Pharmaceuticals dan Eli Lilly juga diketahui telah mengembangkan terapi antibodi monoklonal. Sama seperti GSK, obat antibodi mereka juga telah diizinkan untuk merawat pasien COVID-19 di AS.

Sementara kini, obat antibodi dari Regeneron dan Eli Lilly tengah dipertimbangkan oleh European Medicines Agency (EMA) bersama dengan obat lain dari Celltrion, GSK dan Vir Biotechnology.

Kendati 'masih kalah', AstraZeneca tetap optimis untuk mengembangkan obat monoklonalnyanya, terutama setelah melihat beberapa peserta dites negatif setelah menerima AZD7442.

"Meskipun uji coba ini belum memenuhi titik akhir utama terhadap penyakit simtomatik, kami didorong oleh perlindungan yang terlihat pada peserta negatif tes PCR (polymerase chain reaction) setelah pengobatan dengan AZD7442," Dr Mene Pangalos, wakil presiden eksekutif AstraZeneca, mengatakan dalam sebuah pernyataan. 

"Masih ada kebutuhan yang signifikan untuk pilihan pencegahan dan pengobatan untuk populasi tertentu, termasuk mereka yang tidak dapat divaksinasi atau mereka yang mungkin memiliki respons yang tidak memadai terhadap vaksinasi," tambah Myron Levin, peneliti utama studi AZD7442 sekaligus profesor kedokteran di Universitas Colorado.

Obat monoklonal AstraZeneca sendiri sempat begitu menarik minat negara-negara kaya bahkan sebelum terbukti khasiatnya. AS misalnya, dilaporkan sampai memesan hingga 700 ribu dosis obat untuk pengiriman pada tahun 2021. Sementara Inggris sudah mempertimbangkan pesanan untuk satu juta dosis. []