News

ASN Kulon Progo Ngaku Disekap Usai Persoalkan Pengadaan Seragam SMAN 1 Wates

ASN Kulon Progo Ngaku Disekap Usai Persoalkan Pengadaan Seragam SMAN 1 Wates
ASN Pemkab Kulon Progo Agung Purnomo mengaku disekap. (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Seorang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Kulon Progo, bernama Agung Purnomo mengaku jadi korban intimidasi dan penyekapan karena mempermasalahkan pengadaan seragam sekolah di SMAN 1 Wates, Kulon Progo. Agung pun telah melaporkan kejadian yang menimpanya ini ke Polda DIY.

Agung menceritakan apa yang dialaminya berawal saat ia sebagai orangtua salah seorang siswa dan beberapa wali murid SMAN 1 Wates lainnya mempertanyakan soal standar bahan dan tarif seragam yang dijual lewat Paguyuban Orang Tua (POT).

Dia mempersoalkan biaya yang dikenakan POT sebesar Rp1,7 juta hingga Rp1,8 juta untuk kualitas bahan yang rendah. Sementara, hasil surveinya di 3 toko lain tanpa menawar harga eceran tertingginya bisa selisih sekitar 30 persen lebih murah.

baca juga:

Padahal, secara kualitas juga sama. Tapi, per meternya harganya bisa separuhnya jika di toko.

"Apakah barang seperti ini barangnya standar, harganya wajar?" kata Agung di Kantor LBH Yogyakarta, Senin (3/10/2022).

Agus menyebut, para orangtua/wali murid memang tak diwajibkan membeli seragam yang dijual lewat POT ini. Akan tetapi, menurutnya sangat tidak mungkin orangtua memberikan seragam kepada anaknya berbeda dari siswa lain di sekolahya.

"Setiap Senin sampai Jumat itu ada satu setel, kemudian kaos olahraga, jas almamater, satu baju lurik. Tidak membeli pun diperbolehkan oleh pihak sekolah, tapi ketika sekolah sudah menentukan tipenya (seragam) seperti ini, Anda bisa nggak membayangkan anak lain pakai batik kuning, anak Anda sendiri pakai hijau," kata Agus.

Agus mengaku memaparkan harga di toko tadi sebatas sebagai pembanding dan pihak sekolah mengeklaim sudah sesuai antara harga dan kualitas. Meski, menurutnya dari POT yang membelanjakannya ke satu toko tertentu tak sesuai Kerangka Acuan Kerja (KAK) pengadaan barang dan jasa, meliputi spek bahan, serta harga perkiraan sendiri (HPS) berdasakan harga di minimal 3 toko lainnya.

Tidak puas mendapat jawaban dari POT, Agus berkata akan membawa persoalan ini ke Ombudsman. Hingga 29 September 2022, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Penataan Ruang Dispertaru Kulon Progo itu sekitar 14.00 WIB dihubungi untuk datang ke Kantor Satpol PP Kulon Progo.

Agung yang diminta menemui Kepala Satpol PP Kulon Progo tak curiga sama sekali terkait pemanggilan ini, lantaran di benaknya, pemanggilan ini ada kaitannya dengan profesinya sebagai penyidik PPNS yang memiliki kantor sekretariat di Kantor Satpol PP. Apalagi pemanggilan dilakukan di jam kerja.

"Dan di ruang aset milik negara. Tapi apa yang terjadi, ketika saya datang ke sana kemudian saya ada di dalam ruangan itu, selain ada dua oknum Satpol PP, ada orang dari SMA, ada satu kepala dan dua waka, kemudian ada dua dari unsur POT, satu lagi dari komite," bebernya.

Sepenuturan Agung, dari orang polisi pamong praja yang saat itu berada di ruangan adalah Kepala dan Kabid Tibum Tranmas Satpol PP Kulon Progo. Dia menuding keduanya terlibat dalam intimidasi kali ini.

Agung mengaku mulai diintimidasi. Ia ditanya soal motivasi mempertanyakan pengadaan seragam di SMAN 1 Wates. Dia dituduh berniat membuat gaduh di sekolah tersebut sebagai alumnus SMAN 2 Wates.

"Ini nggak ada hubungannya dengan itu, toh anak saya juga saya sekolahkan di SMAN 1 Wates," kata Agus menirukan dirinya saat diinterogasi.

Emosi Agung pun terpancing sampai akhirnya atmosfer di ruangan itu berubah panas. Lalu, seorang oknum Satpol PP datang dan menggebrak meja.

"Kamu jangan nggak sopan di sini ya, maksudmu opo," kata Agus menirukan oknum Satpol PP tersebut. 

"Wes dirampungke ning kene wae, rampungke sisan," kata Agung menirukan oknum Satpol PP lainnya.

"Pada saat itu saya sudah sangat ketakutan, saya cuma membayangkan seperti ASN di Semarang yang dimutilasi dan dibakar karena jadi saksi korupsi," ucap Agung emosional.

Beruntung, saat itu ada anggota komite SMAN 1 Wates yang menengahi situasi ini. Ia meminta semua orang di ruangan tenang mengingat tujuan dari pemanggilan ini hanya memintai keterangan Agung.

"Saya minta keluar, tetapi ada oknum Satpol PP yang bilang kamu nggak akan bisa keluar sebelum memberikan jawaban, apa yang sebenarnya terjadi dan motif kamu apa," ujarnya.

Terpaksa, Agung membocorkan jika dugaan penyelewengan pengadaan seragam sekolah SMAN 1 Wates ini telah dilaporkan ke Ombudsman. Anggota komite sekolah tadi kemudian meyakinkan orang-orang di ruangan kalau cara mengorek keterangan seperti ini salah dan meminta mereka agar memperbolehkan Agung meninggalkan lokasi.

Agung pulang sambil bertanya di benaknya apa salah dirinya hingga diperlakukan demikian. Termasuk apa kewenangan Satpol PP dengan urusan seragam sekolah saat Balai Pendidikan Menengah (Baldikmen) dan Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi lebih berkompeten.

Intimidasi kepada Agung ternyata berlanjut. Dia mengaku dihubungi dan didatangi oleh anggota Satpol PP Kulon Progo serta jajaran aparat dari insitusi lain. Terpaksa, dia meminta perlindungan LPSK. Agung juga harus mengambil cuti dan mengungsikan anggota keluarganya ke luar kota per Jumat (30/9) kemarin demi keamanan mereka.

Agung juga secara resmi telah melaporkan Kepala Satpol PP dan Kabid Tibum Tranmas Satpol PP Kulon Progo ke Polda DIY, termasuk Kepala SMAN 1 Wates.

"Tapi insya Allah saya tidak akan menyerah, saya berjuang bukan untuk saya. Saya seorang ASN dengan jabatan dan gaji setiap bulan tapi ada orangtua miskin yang harus banting tulang demi mendapatkan Rp1,7 juta agar anak-anaknya bisa memiliki seragam seperti yang lain," tegasnya.

Terpisah, Wadir Reskrimum Polda DIY AKBP K. Tri Panungko membenarkan adanya pelaporan oleh Agung ini. Pihaknya sejauh ini masih melakukan pendalaman dengan memanggil dan memeriksa para pihak terkait.

"Proses penyelidikan terus kita laksanakan," kata Tri di Mapolda DIY, Senin (3/10/2022). []