image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Akurat.co. Pernah bekerja untuk Majalah World Soccer Indonesia.

Kegembiraan Indonesia dan Lubang Hitam yang Harus Dihindari

Hervin Saputra

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Image

Warga menikmati panggung musik saat malam puncak penutupan Asian games 2018 di Stadion Gelora Wijaya Komplek Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatra Selatan, Minggu (2/9/2018). Acara penutupan tersebut berkonsep | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Di tengah indahnya tarian, tata cahaya, dan kembang api di langit Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Upacara Penutupan Asian Games Jakarta-Palembang, Minggu (2/8), saya teringat akan perjalanan persiapan pesta olahraga se-Asia itu.

Selain panitia penyelenggara, agaknya tidak ada yang lebih cemas dengan Asian Games Jakarta-Palembang 2018 selain jurnalis lokal.

Urusan tiket pesawat yang ruwet saat para jurnalis dan perwakilan Komite Olimpiade Negara (NOC) peserta mengunjungi venue pada November 2017, Kali Sentiong yang bau dan berwarna hitam di dekat Kampung Atlet Kemayoran, bayangan terhadap bagaimana kemacetan harus diatasi untuk melayani tamu asing, bahkan “ucapan dalam hati” agar tak ada bom dan aksi terorisme, adalah beberapa di antara kecemasan itu.

baca juga:

Semua itu menunjukkan bahwa Asian Games 2018 adalah tantangan terhadap “harga diri” dan “kepercayaan diri” Indonesia sebagai bangsa yang, bisa dikatakan, seakan membangun ulang dirinya setelah Reformasi 1998.

Mengapa harus menyebut 1998? Tentu saja, karena perubahan politik ini membuat Indonesia seakan membangun olahraga dari awal. Krisis ekonomi dan berhentinya sistem politik otoritarianisme ala Orde Baru memberikan optimisme sekaligus chaos karena era reformasi memberikan tekanan dan rasa frustasi yang mendalam terhadap harapan yang digaungkan dalam sejarah itu.

Olahraga jatuh ditandai dengan runtuhnya dominasi Indonesia di event multicabang seperti SEA Games, juga meredupnya kejayaan bulutangkis. Dan, siapa sangka? Dua puluh tahun kemudian, harapan bagi negara yang masyarakatnya selalu cemas dan tak pernah puas dengan kinerja pemerintahannya ini terwujud pada Asian Games 2018.

Pesona kembang api penutupan Asian Games Jakarta-Palembang 2018 di Stadion Gelora Bung Karno. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Seiring dengan ditutupnya Asian Games 2018 melalui pesta penutupan di Stadion Gelora Bung Karno, dunia “kembali” melihat Indonesia sebagai negara besar seakan-akan kembali kepada Asian Games pertama pada 1962 di mana helat dilakukan untuk memperkuat persaudaraan antar sesama negara Asia setelah Perang Dunia II.

Media internasional memberikan pujian yang bisa kita rasakan kejujurannya. Bahwa mereka memaklumi betapa singkatnya Indonesia menyiapkan Asian Games karena limpahan Vietnam yang mengundurkan diri disertai dengan pesta perpisahan yang “penuh perasaan.”

Indonesia menggelar perpisahan yang emosional untuk Asian Games ke-18 di bawah guyuran hujan senja di Stadion Gelora Bung Karno disertai seruan Presiden Komite Olimpiade Asia yang menyebut event ini sebagai sebuah ‘kesuksesan bersejarah’”, tulis Reuters.

Sementara itu, media China, Xinhua, menulis “meskipun Jakarta harus menggelar event dalan waktu yang singkat, anggaran yang ketat, ibukota negara ini telah membuktikan bahwa mereka bisa menjadi tuan rumah event internasional yang melibatkan 45 negara.”

Dari Singapura, The Strait Times menggambarkan penutupan Asian Games dengan menulis “ketika para atlet berjalan masuk (ke Stadion Gelora Bung Karno), satu di antara mereka melihat telepon genggam mereka yang bertuliskan: Terima Kasih Indonesia.”

Kontingen Malaysia di Penutupan Asian Games Jakarta-Palembang 2018. REUTERS/Athit Perawongmetha.

Bahkan oleh media Malaysia, yang memberikan bumbu dalam kesuksesan Indonesia merebut rekor 31 medali emas dengan menuding kecurangan tuan rumah di cabang pencak silat, tak bisa menyembunyikan pujian mereka untuk saudara serumpunnya.

“Sukan Asia ke-18 melabuhkan tirainya dalam upacara gilang gemilang di Jakarta malam ini ketika tuan rumah Indonesia memasang impian menjadi tuan rumah Olimpik 2032,” tulis Berita Harian.

Pesta Asia

Agaknya, setelah 1998, belum pernah ada kegembiraan semacam ini yang bisa dirasakan secara massal oleh warga negara tropis ini. Kemeriahan upacara penutupan Asian Games memberikan suasana persaudaraan yang kadangkala bisa berbelok pada perselisihan di arena dan meninggalkan jejak yang tak mengenakkan.

Namun, Indonesia bisa membawa suasana Asia dengan menampilkan tarian asal China untuk menghormati negara tersebut sebagai penyelenggara Asian Games 2022 di Hangzhou, juga penyanyi India dengan lagu Kuch Kuch Hota Hai yang populer pada 1990-an, disertai dengan bintang K-Pop asal Korea Selatan, Super Junior.

Penampilan sejumlah artis ini mewujudkan impian untuk membuat Asian Games adalah persaudaraan Asia. Dan upacara penutupan memberikan perasaan semacam itu kepada seluruh warga Asia yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno atau juga yang menyaksikan hajat tersebut melalui televisi.

Indonesia, terima kasih banyak! Kami cinta kalian! Thank You Jakarta! Thank You Palembang! Anda telah melakukannya, Anda telah membuat mimpi Asia menjadi nyata,” ucap Ketua Komite Olimpiade Asia, Ahmad Sabah Al Fahad, saat menutup seremoni.

Penari memeragakan tarian China pada penutupan Asian Games Jakarta-Palembang 2018. REUTERS/Athit Perawongmetha.

Itu sebabnya, para penonton yang memadati Stadion Gelora Bung Karno di akhir pekan yang basah itu bisa pulang dengan kegembiraan. Di depan Pusat Pers Utama (MPC) Asian Games 2018 di Jakarta Convention Center, panitia menyediakan makanan dan musik yang menghibur jurnalis serta sukarelawan hingga tengah malam.

Jika itu masih kurang, Anda bisa melihat apa yang dilakukan oleh Syekh Ahmad Sabah Al Fahad saat mengucapkan “kami cinta kalian” pada upacara penutupan dengan melingkarkan tangannya di atas kepala membentuk lambang hati. Ekspresi ini adalah ekspresi yang ringan, bersahaja, dan gembira mengingat Al Fahad adalah politisi terkemuka dari Kuwait yang berbicara dengan kafiyeh-nya.

Di ruang internasional broadcast, sejumlah pekerja asing yang sebagian besar adalah “bule” melakukan foto bersama dengan riuh seakan merayakan kesuksesan pekerjaan mereka. Sebagaimana juga yang dilakukan oleh para jurnalis lokal saat berfoto bersama di lobby MPC.

Dan pada dimensi yang berbeda, Asian Games secara ikonik telah memberikan pandangan yang lain di tengah pertarungan menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden ketika dua kandidat, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, “dipaksa” berpelukan oleh atlet pencak silat peraih emas kelas 55-60 kilogram, Hanifan Hudani Kusumah.

“Alasan saya kenapa harus mempererat (merangkul) seperti itu karena Indonesia harus saling menghargai. Di media sosial kan banyak yang saling mencerca Prabowo dan Jokowi,” kata Hanifan.

Olimpiade dan Lubang Hitam

Untuk berusaha menjadi bijaksana, kegembiraan ini haruslah dikontrol agar pencapaian yang telah disentuh tak mengalami kemunduran. Sisi gelap masa lalu tidak bisa disangkal untuk mengukur karakter kita sebagai “Indonesia” yang, sekali lagi, setelah 1998, seperti mencari definisi barunya.

Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, yang menyempatkan hadir ke Indonesia untuk melihat langsung Asian Games, memberikan ekspresi yang tepat tentang sisi gelap Indonesia di tengah optimisme yang membuncah dalam dada orang Indonesia.

Bach menghubungkan situasi itu dengan keputusan mengejutkan yang disampaikan Joko Widodo sebelum penutupan Asian Games: menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

“Dengan kesuksesan Asian Games ini, Indonesia telah membentangkan fondasi yang sangat solid sebagai salah satu kandidat (tuan rumah Olimpiade). Anda bisa lihat bumbu-bumbunya ada di sana, Anda bisa melihat sebuah negara muda dan antusias. Bergairah dengan olahraga, bekerja dengan efisiensi tinggi dalam organisasi… ini (Indonesia) akan menjadi kandidat yang sangat kuat,” ucap Bach.

“Jadi, saat ini Anda jangan jatuh ke dalam ‘lubang hitam’ setelah semua orang meninggalkan momen ini.”

Ketua Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach (tengah), dan Ketua Komite Olimpiade Asia, Ahmad Sabah Al Fahad (kanan). REUTERS/Athit Perawongmetha

Tidak terlalu sulit untuk meraba maksud “lubang hitam” yang disebutkan oleh Bach. Kita hanya perlu kembali pada perhelatan multicabang terakhir yang digelar Indonesia: SEA Games 2011.

Semua tahu bahwa Indonesia kembali menjadi juara SEA Games setelah 14 tahun sejak menjadi tuan rumah SEA Games 1997. Namun, kejayaan regional itu dikhianati dengan dijebloskannya sejumlah pejabat dari partai berkuasa saat itu karena melakukan korupsi pada event olahraga dan pembangunan proyek olahraga.

Hanya dalam waktu tiga pekan menjelang pelaksaan SEA Games 2011, kasus korupsi SEA Games dan pembangunan pusat olahraga Hambalang, Jawa Barat, telah menyerat Bendahara Partai Demokrat, Muhammad Nazarudin, Menteri Olahraga Andi Mallarangeng, dan Ketua Partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Efeknya adalah sejak itu prestasi Indonesia di SEA Games semakin merosot. Ditandai dengan pencapaian terburuk dengan berakhir di posisi kelima pada SEA Games terakhir yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, Agustus tahun lalu.

Pengalaman ini membuat Indonesia meragukan diri sendiri untuk bisa menyelenggarakan event olahraga terbesar. Benar bahwa pengambilalihan Asian Games dari Vietnam dilakukan oleh presiden berkuasa saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, kasus korupsi yang melanda telah membuat Indonesia memiliki semacam “ketidakpercayaan diri” menjelang Asian Games tahun ini.

Presiden Joko Widodo saat meninjau Pusat Pelatihan Olahraga Hambalang pada Maret 2016. KOMPAS/Ramdhan Triyadi Bempah.

Semua ini, atau Asian Games 2018, telah membawa kita pada satu muara persoalan mendasar dalam usaha untuk menjadi negara besar setelah 20 tahun reformasi. Apa yang dikatakan Bach adalah peringatan agar Indonesia tidak lagi menggunakan event multicabang sebagai lumbung korupsi.

Selain itu, optimisme Bach dan kehangatan Syekh Ahmad Sabah Al Fahad, juga menunjukkan kepercayaannya karena Indonesia bisa menyelenggarakan Asian Games secara smooth.

Asian Games telah membuat Indonesia bisa memberikan teladan kepada negara Asia dan dunia bahwa negeri kepulauan ini adalah tempat yang damai meski masyarakatnya majemuk, religius, dan, dilanda sejumlah ledakan bom yang membawa-bawa nama agama.[]

 

 

  

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Pemberdayaan Perempuan

Thohir: Empat Puluh Persen Medali Asian Games dari Atlet Putri

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Jusuf Kalla: Kesuksesan Asian Games Harumkan Indonesia

Image

Olahraga

PSSI

Lagi, AFC Jatuhkan Sanksi kepada PSSI

Image

Asian Games

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Honor Penari Pembukaan Asian Games Macet di Sekolah?

Image

Olahraga

Sportainment

Pasca Asian Games, Seragam Volunteer Dijual dengan Harga Selangit

Image

Hiburan

Sering Mengenakan Jaket, Inilah 10 Gaya Panggung JFlow

Image

Asian Games

Tenis

Christoper Mengaku Tak Menyangka Bisa Bawa Pulang Medali Emas

Image

Asian Games

Asian Games 2018 Jakarta-Palembang

Usai Raih Emas di Asian Games, Aldila Punya Mimpi yang Lebih Besar

Image

Asian Games

Sepak Takraw

Raih Medali Perunggu Asian Games, Lena-Leni Belum Tentu Turun di SEA Games

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Asian Games

Pria Paruh Baya Diduga Epilepsi Ditemukan Tewas Tenggelam di Kolam Majalaya

Kepala Polsek Majalaya Komisaris Laurensius Napitupulu menuturkan, sebelumnya mayat tersebut tidak diketahui identitasnya.

Image
Asian Games
Sepakbola

Timnas U-23 Kembali Gelar Latihan

Latihan yang berlangsung pada pukul 05.50 ini dipimpin langsung oleh pelatih Indra Sjafri.

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Honor Penari Pembukaan Asian Games Macet di Sekolah?

"Di mana hak yang seharusnya kami terima setelah pengabdian kami kepada negara?” tulis pengantar petisi hak penari pembukaan Asian Games.

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Wow, Ternyata Begini Kampung Halaman Rusa Maskot Asian Games 2018

Rusa dari Pulau Bawean menjadi maskot Asian Games 2018. Hewan ini tergolong unik. Begitu pula asalnya yang indah.

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Mau Kirim Karangan Bunga pada Atlet? Begini Caranya

Kini, Masyarakat bisa memberikan apresiasi kepada atlet yang meraih medali emas Asian Games 2018 lewat karangan bunga.

Image
Asian Games
Tenis

Christoper Mengaku Tak Menyangka Bisa Bawa Pulang Medali Emas

"Pengurus Pelti kaget, bahkan saya juga kaget, karena kami hanya ditargetkan untuk meraih perunggu."

Image
Asian Games
Asian Games 2018 Jakarta - Palembang 2018

Kerja Keras dan Masa Depan Atlet Indonesia

Kerja keras berhasil membawa atlet Indonesia meraih apa yang menjadi impian mereka dan bangsa Indonesia.

Image
Asian Games
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang

Usai Raih Emas di Asian Games, Aldila Punya Mimpi yang Lebih Besar

Persiapan Aldila Sutjiadi menuju Olimpiade Jepang 2020

Image
Asian Games
GoJek

Atlet Indonesia Panen Apresiasi dari Berbagai Pihak

Selain pemerintah, apresiasi juga datang dari perusahaan swasta dan masyarakat Indonesia.

Image
Asian Games
Basket

Ini Upaya Presiden SBP agar Clarkson Bela Filipina di Asian Games

Panlilio terbang ke New York, Amerika Serikat untuk membujuk NBA agar mengijinkan Clarkson bertanding di Asian Games 2018.

terpopuler

  1. Dari India hingga Mesir, Ini 5 Negara Paling Rasis di Dunia

  2. Diminta Senyum oleh Donald Trump saat Berfoto, Reaksi 'Enggan' Ibu Negara AS jadi Sorotan

  3. Sebut Ada Pihak yang Diam-diam Ingin Kudeta Jokowi, Fadli Zon ke Boni Hargens: Cuci Muka Dulu

  4. 3 Zodiak Ini Diramal Hoki Banget di Bulan Juni, Siapa Saja?

  5. 5 Gaya Welber 'Neymar dari Indonesia' Diwawancara Reporter Cantik Ini Bikin Gereget, PD dan Tak Canggung

  6. Viral, Driver Ojol Kena Suspend Gara-gara Kembalian Kurang Rp200, Warganet: Dikira Tahun 90-an

  7. Bukan Disebabkan Corona, Pengacara Sebut George Floyd Tewas karena 'Pandemi Rasisme'

  8. Kamu si Pemilik 4 Zodiak Ini Wajib Berhati-hati Jaga Keuangan Ya Selama Pandemi

  9. Tuai Simpati, Pengunjuk Rasa George Floyd Lindungi Demonstran Muslim Salat di Jalanan

  10. Hendak Bubarkan Demonstran, Viral Polisi AS Malah Dihujani 'Tembakan' oleh Puluhan Warga

fokus

Lebaran di Tengah Pandemi
Pulih dengan Terapi Musik
Wabah Corona

kolom

Image
Ujang Komarudin

Milenial Reform

Image
Dewi Kartika

Inspirasi dan Legacy Prof Sediono Tjondronegoro untuk Petani

Image
Achmad Fachrudin

Jebakan Kampanye Virtual di Pilkada 2020

Image
Imam Shamsi Ali

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Wawancara

Image
News

Interview Siti Fadilah, dari Keadaannya di Penjara yang Mengharukan, Blak-blakan Covid-19 sampai Fitnah yang Menyerangnya

Image
News

Interview Rizal Ramli: Indonesia Diberi Berkah Luar Biasa oleh Tuhan, Cuma Kita Harus Punya Visi Mau Ngapain ke Depan

Image
News

Interview Leony Si Driver Ojol Lulus Cum Laude Sampai Raih Beasiswa Ilmu Hukum

Sosok

Image
News

Bikin Bangga, Mantan Stafsus Presiden Jokowi Terpilih Menjadi Alumni Terbaik Harvard University

Image
News

Kisah Raeni, Anak Tukang Becak yang Kini Sukses dari Unnes hingga Raih Beasiswa S3 di Inggris

Image
News

Ngopi di Teras hingga Main Bareng Cucu, 6 Potret Santai Bamsoet saat di Rumah