News

Ashraf Ghani Minta Maaf Pada Rakyat Afganistan, Akui Kabur Demi Jaga Perdamaian 

Ashraf Ghani mengaku tidak berniat 'meninggalkan rakyat' di hari yang sama ketika Taliban menduduki Kabul.


Ashraf Ghani Minta Maaf Pada Rakyat Afganistan, Akui Kabur Demi Jaga Perdamaian 
Ashraf Ghani: 'Meninggalkan Kabul adalah keputusan tersulit dalam hidup saya' (Tangkapan layar melalui Facebook/AFP)

AKURAT.CO Mantan Presiden Ashraf Ghani akhirnya angkat bicara soal aksinya yang kabur dari Afganistan. Ghani pun meminta maaf kepada warga Afganistan karena pemerintahannya harus berakhir dengan cara seperti itu. Ia juga mengaku tidak berniat 'meninggalkan rakyat' di hari yang sama ketika Taliban menduduki Kabul.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di Twitter pada hari Rabu (8/9), Ghani mengatakan dia pergi pada 15 Agustus atas desakan keamanan istana untuk menghindari risiko pertempuran jalanan berdarah. Ghani, yang saat ini berada di Abu Dhabi, menyesalkan bahwa seperti para pendahulunya, dia juga tidak mampu membawa perdamaian dan kemakmuran ke negara yang dilanda perang itu.

"Dengan penyesalan yang sangat mendalam, bab (pemerintahan) saya sendiri berakhir dengan tragedi yang sama dengan pendahulu saya. Saya meminta maaf kepada orang-orang Afganistan bahwa saya tidak bisa mengakhirinya dengan cara yang berbeda.

"Meninggalkan Kabul adalah keputusan paling sulit dalam hidup saya, tapi saya percaya itu satu-satunya cara untuk membungkam senjata dan menyelamatkan Kabul dan 6 juta warganya," kata Ghani dalam surat pernyataannya yang panjang.

Namun, dalam suratnya itu juga, Ghani mengambil kesempatan untuk kembali menyangkal tudingan bahwa dia telah menggondol jutaan dolar dari perbendaharaan negara dan membawanya ke luar negeri ketika melarikan diri. Bahkan, ia mengatakan siap untuk diselidiki demi membuktikan bahwa dia tidak bersalah.

Seperti diketahui, klaim bahwa Ghani membawa uang negara mulanya diembuskan oleh mantan duta besar Afganistan untuk negara tetangga Tajikistan, Zahir Aghbar. Dalam tuduhannya itu, Aghbar mengatakan bahwa Ghani telah membawa sekitar USD 169 juta (Rp2,4 triliun) bersamanya ketika lari dari Afganistan.

Baca Juga: Kabur dari Taliban, 5 Fakta Penting Presiden Afganistan Ashraf Ghani

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, pejuang Taliban mengambil alih Kabul setelah serangan kilat diluncurkannya pada Mei saat AS dan NATO mulai menarik pasukan.

Dalam waktu 10 hari sebelum merebut ibu kota, Taliban berhasil merebut kota-kota lain. Dalam upayanya menguasai Afganistan itu, mereka hanya menghadapi sedikit perlawanan, atau terkadang tidak sama sekali. Pemerintahan Ghani pun kalah dengan sangat mengejutkan. 

Sementara dalam sebuah wawancara dengan outlet Afganistan TOLO News, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan hal sebaliknya. Saat itu, Blinken mengaku sempat berbicara dengan Ghani malam sebelum dia meninggalkan Afganistan. Dalam pembicaraannya itulah, Ghani mengatakan kepada Blinken bahwa 'dia siap berperang sampai mati'.

"Saya tentu tidak tahu tentang itu, dan kami tentu tidak melakukan apa pun untuk memfasilitasinya," kata Blinken.

Menanggapi pertanyaan lain, Blinken mengaku tidak mengetahui apakah Ghani telah membawa uang tunai jutaan dolar bersamanya atau tidak.

"Itu, saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah dia meninggalkan negara itu, dan sekali lagi, dalam waktu yang sangat singkat. Pasukan keamanan sebagai sebuah institusi runtuh dan begitu pula pemerintah," sambung Blinken seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan terbaru Ghani muncul sehari setelah Taliban mengumumkan pemerintahan sementara baru mereka. Namun, seperti bisa ditebak, dalam pemerintahan baru itu, posisi-posisi penting hanya diisi oleh para tokoh senior --tidak ada prempuan. Sementara diketahui, usai mengambil alih Kabul, Taliban sudah berjanji untuk membentuk pemerintahan yang inklusif.

Sementara, secara terpisah pada hari Rabu, Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Peter Maurer mengimbau organisasi kemanusiaan lainnya untuk kembali ke Afganistan. Selain itu, Maurer juga mendesak agar Bank Dunia membuka dana untuk mendukung sistem perawatan kesehatan Afganistan yang lemah.[]