Lifestyle

Asal Usul Istilah Nusantara, Muncul Sejak Masa Kerajaan Majapahit

Istilah Nusantara sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk


Asal Usul Istilah Nusantara, Muncul Sejak Masa Kerajaan Majapahit
Sudut timur laut monumen nasional (monas) Indonesia. Pada bagian ini digambarkan Kerajaan Majapahit termasuk Gajah Mada - Kata Nusantara muncul kira-kira pada abad ke-14 untuk mendefinisikan konsep kenegaraan di bawah kemegahan kerajaan Majapahit (Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 3.0 )

AKURAT.CO Nusantara adalah alternatif untuk menyebut Indonesia. Adapun nusantara terdiri dari dua kata, yaitu nusa dan antara. Kata nusa berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti pulau, sedang antara berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna perbedaan, jarak, ataupun luar.

Meskipun kini Nusantara dianggap sama dengan Indonesia, istilah ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk.

Kata Nusantara muncul kira-kira pada abad ke-14 untuk mendefinisikan konsep kenegaraan di bawah kemegahan kerajaan Majapahit, jauh setelah jatuhnya Sriwijaya. Kediri, dan Singhasari.

baca juga:

Pada masa itu, Nusantara mencakup rangkaian pulau yang terdapat di antara benua Asia dan Australia, bahkan termasuk Semenanjung Malaya. Hal ini diucapkan oleh patih Majapahit, Gajah Mada, dalam supahnya yang dikenal sebagai Sumpah Palapa. 

"Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa."

Artinya, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun (Lombok), Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatra Utara), Pahang (Malaya), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), Tumasik (Singapura), demikian saya (baru akan) melepaskan puasa.

Intinya, Nusantara digunakan oleh Patih Gajah Mada untuk menyebutkan daerah-daerah yag ingin ditaklukkan Kerajaan Majapahit.  Sementara kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Singasari, Daha, Kahuripan, Lasem, Matahun, Wengker, dan Pajang, tidak disebutkan karena sudah berada dibawah pemerintahan Majapahit. 

Namun, seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit, istilah Nusantara pun mulai dilupakan. Istilah Nusantara kembali digunakan sekitar  abad ke-20 oleh tokoh Tiga Serangkai sekaligus pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara. Kala itu Ki Hajar Dewantara menggunakan kata Nusantara sebagai alternatif dari Nederlandsch Oost-Indie atau Hindia Belanda.

Sementara pada tahun 1920 tokoh Tiga Serangkai lainnya, yakni Edward Douwes Dekker, memaknai Nusantara sebagai nusa di antara dua benua dan dua samudera.