News

AS Tambah Bantuan Senjata Senilai Rp14 Triliun untuk Ukraina

Persenjataan yang dikirim termasuk 18 howitzer, 36 ribu butir amunisi, dua sistem pertahanan pantai Harpoon, roket artileri, serta dana untuk pelatihan.

AS Tambah Bantuan Senjata Senilai Rp14 Triliun untuk Ukraina
Presiden Joe Biden mengumumkan suntikan senjata baru senilai USD1 miliar untuk Ukraina yang mencakup sistem roket anti-kapal, roket artileri, howitzer dan amunisi (Arab News)

AKURAT.CO Amerika Serikat (AS) telah memberikan suntikan senjata baru untuk Ukraina, dengan nilai mencapai USD1 miliar (Rp14,3 triliun). 

Presiden AS, Joe Biden mengumumkan tambahan bantuan pada Rabu (15/6), dengan menyebut bantuan senjata mencakup sistem roket anti-kapal, roket artileri, howitzer, hingga amunisi. Bantuan senjata ini, kata Biden, juga diinformasikan langsung kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui sambungan telepon.

"Saya memberi tahu Presiden Zelensky bahwa AS kembali memberikan bantuan keamanan senilai USD1 miliar untuk Ukraina, termasuk artileri tambahan dan senjata pertahanan pantai, serta amunisi untuk artileri dan sistem roket canggih," kata Biden usai pangggilan 41 menitnya bersama dengan Presiden Volodymyr Zelensky.

baca juga:

Selain sokongan senjata, Biden juga mengumumkan soal bantuan kemanusiaan tambahan untuk membantu orang-orang di Ukraina. Bantuan itu, yang nilainya USD225 juta (Rp3,3 triliun) termasuk menyediakan air minum yang aman, pasokan medis, perawatan kesehatan penting, makanan, tempat tinggal, serta uang tunai untuk keluarga guna membeli barang-barang penting.

Pentagon, sementara itu, merinci paket senjata baru untuk Ukraina yang dilanda perang. Menurut mereka, persenjataan yang dikirim termasuk 18 howitzer, 36 ribu butir amunisi, dua sistem pertahanan pantai Harpoon, roket artileri, radio, ribuan perangkat malam (night vision), serta dana untuk pelatihan.

Diwartakan Arab News, paket bantuan baru untuk Ukraina datang saat Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin bertemu dengan para mitra di Brussel, Belgia. Bantuan itu telah dibagi menjadi dua kategori: transfer kelebihan barang pertahanan dari stok AS dan senjata lain yang didanai oleh Inisiatif Bantuan Keamanan Ukraina (USAI). USAI menjadi program pendanaan terpisah, yang dipimpin Departemen Pertahanan AS, dan telah disahkan kongres.

Sementara AS mengumumkan bantuannya, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia kembali mengonfrontasi negara-negara Barat, menuduh mereka 'menyulut perang proksi dengan Rusia'.

"Saya ingin mengatakan kepada negara-negara Barat yang memasok persenjataan ke Ukraina – darah warga sipil ada di tangan Anda," kata Nebenzia.

Ukraina sendiri berulang kali mendesak AS dan negara-negara Barat lainnya untuk pengiriman cepat senjata. Seruan ini makin digaungkan terutama setelah Ukraina menghadapi tekanan yang kian meningkat dari pasukan Kremlin di wilayah Donbass timur.

"Kami membutuhkan semua senjata ini untuk dikonsentrasikan dalam satu waktu, demi untuk mengalahkan Rusia, tidak hanya terus datang setiap dua atau tiga minggu," kata Oleksandra Ustinova, anggota Parlemen Ukraina, mengatakan kepada wartawan di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Dana Marshall Jerman.

Pada bulan Mei, pemerintahan Biden mengumumkan rencana untuk memberi Ukraina Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi M142. Langkah itu diambil usai Washington menerima jaminan dari Kyiv bahwa mereka tidak akan menggunakannya untuk mencapai target di dalam wilayah Rusia. Dilaporkan bahwa Biden memberlakukan syarat itu demi menghindari eskalasi lebih lanjut dari perang Ukraina.

Artileri roket dalam paket bantuan ini akan memiliki jangkauan yang sama seperti pengiriman roket AS sebelumnya. Senjata itu didanai menggunakan Presidential Drawdown Authority, atau PDA, di mana presiden dapat mengizinkan transfer barang dan layanan dari stok AS tanpa persetujuan kongres sebagai tanggapan atas kondisi darurat.

Untuk pertama kalinya, AS juga mengirimkan peluncur Harpoon berbasis darat. Pada bulan Mei, Reuters melaporkan bahwa AS sedang menggodok solusi potensial untuk membantu menyediakan kemampuan peluncuran rudal Harpoon ke Ukraina. Adapun upaya termasuk mencabut peluncur dari kapal AS 

Harpoon yang dibuat oleh Boeing Co. berharga sekitar USD1,5 juta (Rp22 miliar) per rudal, menurut para ahli dan eksekutif industri.[]