News

AS: Rusia 'Setir' Politik di 24 Negara, Kucurkan Rp4,4 Triliun

AS: Rusia 'Setir' Politik di 24 Negara, Kucurkan Rp4,4 Triliun
Tahun lalu, laporan penilaian intelijen AS mengungkap bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan telah mengizinkan upaya untuk mempengaruhi Pemilu AS tahun 2020 demi mantan Presiden Donald Trump. (EPA via BBC)

AKURAT.CO Rusia diam-diam telah menggelontorkan lebih dari USD 300 juta (Rp4,4 triliun) sejak 2014 untuk mencampuri panggung politik di lebih dari 24 negara, menurut klaim Amerika Serikat (AS). Tuduhan Departemen Luar Negeri AS ini didasarkan pada penilaian deklasifikasi intelijen AS yang dirilis pada Selasa (13/9).

"Kami pikir ini baru puncak gunung es," kata seorang pejabat senior dari pemerintahan Presiden Joe Biden, dilansir dari BBC.

Rusia belum secara terbuka mengomentari masalah ini. Namun, Moskow sendiri sudah berulang kali menuduh AS ikut campur urusan luar negeri.

baca juga:

"Intelijen Amerika menilai ini baru gambaran minimum. Rusia juga diyakini diam-diam telah mentransfer dalam kasus-kasus yang tak terdeteksi," sambungnya.

Pejabat itu membocorkannya dengan syarat anonim.

Penilaian intelijen AS yang dirilis melalui kawat ini tak menyebutkan negara maupun pejabat tertentu yang diyakini menjadi sasaran Rusia. Namun, mereka tersebar di 4 benua.

Menurut pejabat administrasi tersebut, komunitas intelijen AS kini secara pribadi memberi pengarahan kepada negara-negara tertentu soal dugaan pembiayaan rahasia Rusia. Pengarahan itu akan tetap dirahasiakan.

Menurut sumber administrasi yang mengetahui temuan tersebut, Rusia dituduh telah menggelontorkan sekitar USD 500 ribu (Rp7,4 miliar) untuk mendukung Partai Demokrat kanan-tengah di Albania dalam Pemilu 2017. Negara itu juga dituding membiayai partai atau kandidat di Bosnia, Montenegro, dan Madagaskar.

Kremlin pun disebut-sebut telah memanfaatkan Brussel sebagai pusat yayasan dan front lain yang mendukung kandidat sayap kanan. Mereka memanfaatkan perusahaan fiktif untuk mendanai partai-partai Eropa dan 'membeli' pengaruh di kawasan lain.

Otoritas Rusia sejauh ini belum merilis pernyataan publik tentang klaim AS tersebut.

Moskow sebelumnya menyalahkan badan intelijen AS, CIA, karena ikut campur dalam urusan negara lain, termasuk dengan mendukung berbagai kudeta di seluruh dunia.

Menurut basis data yang disimpan Dov Levin, peneliti Universitas Carnegie Mellon, AS telah ikut campur dalam Pemilu asing lebih dari 80 kali di seluruh dunia pada 1946-2000.

Dugaan pendanaan rahasia Rusia pun dianggap Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price sebagai serangan terhadap kedaulatan.

Tahun lalu, laporan penilaian intelijen AS mengungkap bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin kemungkinan telah mengizinkan upaya untuk memengaruhi Pemilu AS tahun 2020 demi mantan Presiden Donald Trump. Namun, dikatakan tak ada pemerintah asing yang mengkompromikan hasil akhir. Rusia pun menyebut tuduhan ikut campur Pemilu itu tak berdasar.[]