Olahraga

AS Putuskan tak Kirim Utusan Diplomatik ke Olimpiade Musim Dingin 2022

Media asing menyebut tindakan AS tersebut sebagai “boikot”.


AS Putuskan tak Kirim Utusan Diplomatik ke Olimpiade Musim Dingin 2022
Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. (FOTO/Design Build Network.)

AKURAT.CO, Ketegangan diplomatik tampaknya sudah mulai memanas menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, 4-20 Februari tahun depan. Amerika Serikat secara resmi tidak akan mengirimkan pejabat resmi mereka ke pesta olahraga musim dingin sedunia tersebut.

Media asing menyebut tindakan AS tersebut sebagai “boikot”. AS mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk tak mengirim utusan menyoroti pelanggaran hak asasi manusia oleh negara tersebut.

Sekretaris Bidang Pers Gedung Putih, Jen Psaki, secara spesifik mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan dugaan pembunuhan massal dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam kasus muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

Pun demikian, AS tetap mengirimkan atlet yang akan bertanding di sana. AS sudah menyiapkan 82 atlet yang terdiri dari 40 atlet putra dan 42 atlet putri yang bertanding di lima cabang olahraga.

“Atlet dari Tim Nasional AS mendapatkan dukungan penuh dari kami,” kata Jen Psaki sebagaimana dipetik dari The Guardian. “Kami akan berada di belakang mereka 100 persen ketika kami menyemangati mereka dari rumah. (Tetapi) kami tidak akan menyumbangkan kemeriahan perhelatan.”

China membalas dengan mengatakan bahwa boikot AS merupakan manipulasi politik dan mengatakan bahwa mereka tidak akan mengundang diplomat negara rival itu ke Olimpiade Musim Dingin.

“AS harus berhenti mempolitisasi olahraga, dan berhenti mengganggu dan menghancurkan Olimpiade Musim Dingin, sekurangnya itu akan berdampak pada dialog bilateral dan kerjasama di area-area penting dan isu-isu regional serta internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian.

“Politisi AS terus membesar-besarkan ‘boikot diplomatik’ bahkan tanpa diundang ke perhelatan. Pikiran berharap dan kesombongan murni ini diarahkan untuk manipulasi politik.”

Sementara itu, tindakan AS juga “memancing” beberapa negara lain untuk mengambil sikap serupa. Di antaranya adalah Selandia Baru, Inggris, Kanada, Australia, bahkan Lithuania.

Selain itu, tekanan terhadap China meningkat selepas petenis terkemuka negara tersebut, Peng Shuai, mempublikasikan serangan seksual yang dilakukan mantan Wakil Presiden China, Zhang Gaoli, awal November lalu.

Peng Shuai sempat menghilang sebelum akhirnya muncul dalam dialog melalui video bersama Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach, dan diyakini saat ini berada dalam pengawasan otoritas.[]