News

AS Peringatkan Invasi Rusia ke Ukraina Tak Lama Lagi, Ini Antisipasi Gedung Putih

AS telah mengirim pasukan ke Polandia dan mengancam sanksi ekonomi terhadap Rusia jika menyerang Ukraina.

AS Peringatkan Invasi Rusia ke Ukraina Tak Lama Lagi, Ini Antisipasi Gedung Putih
Seorang personel militer Ukraina di posisi tempur dekat garis pemisahan dari pemberontak yang didukung Rusia di Wilayah Luhansk pada Minggu (6/2). (Foto: REUTERS) ()

AKURAT.CO, Presiden Rusia Vladimir Putin dapat memerintahkan serangan ke Ukraina dalam beberapa hari atau pekan mendatang, menurut peringatan penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, pada Minggu (6/2). Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sekutu Eropanya melanjutkan upaya diplomatik kepada Putin.

"Setiap hari atau beberapa pekan mulai dari sekarang, Rusia dapat melancarkan tindakan militer terhadap Ukraina atau memilih untuk mengambil jalur diplomatik sebagai gantinya," ungkapnya di acara 'Fox News Sunday', dilansir dari Reuters.

Pada Sabtu (5/2), 2 pejabat AS mengatakan bahwa Rusia menyiapkan sekitar 70 persen dari kekuatan tempurnya yang diyakini akan dibutuhkan untuk invasi skala penuh ke Ukraina. Sebaliknya, Negeri Beruang Merah mengaku tak merencanakan invasi. Namun, negara itu telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu tentara di dekat perbatasan dan mengancam akan mengambil tindakan militer jika tuntutan keamanannya tak dipenuhi. Tuntutan itu termasuk janji bahwa NATO tak akan pernah mengakui Ukraina.

baca juga:

Jika Putin tak terhalang oleh desakan diplomatik, Rusia diduga akan mencaplok wilayah Donbass Ukraina, tempat separatis yang didukung Rusia memisahkan diri dari kendali pemerintah Ukraina pada 2014, melancarkan serangan siber, atau invasi skala penuh ke Ukraina, menurut Sullivan.

Sementara itu, pemerintah AS bertekad tak akan mengirim tentaranya untuk membela Ukraina. Namun, Negeri Paman Sam telah memberikan senjatanya kepada Kyiv. Pekan lalu, AS juga mengatakan akan mengirim hampir 3 ribu tentara tambahan ke Polandia dan Rumania dengan alasan untuk melindungi Eropa Timur dari cipratan krisis.

Sebuah pesawat yang mengangkut pasukan AS mendarat di Polandia pada Minggu (6/2), menurut saksi mata Reuters. Menurut Pentagon pada Rabu (2/2), sekitar 1.700 personel, terutama dari Divisi Lintas Udara ke-82, akan dikerahkan dari Fort Bragg, Carolina Utara, ke Polandia.

Presiden AS Joe Biden pun menelepon Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Minggu (6/2), menjelang kunjungan Macron ke Moskow pada Senin (7/2). Panggilan telepon selama 40 menit itu memungkinkan kedua pemimpin berkoordinasi sebelum kunjungan tersebut, menurut sumber Kepresidenan Prancis.

Sementara itu, Kanselir Jerman Olaf Scholz akan bertemu Biden di Gedung Putih pada Senin (7/2). Scholz pun memberi isyarat pada Minggu (6/2) bahwa ia terbuka untuk mengerahkan lebih banyak pasukan ke Lituania untuk memperkuat sayap timur NATO.

AS dan sekutunya telah mengancam sanksi ekonomi yang luas terhadap Rusia jika menyerang, termasuk sanksi keuangan serta tindakan pengendalian ekspor. Wakil Menteri Keuangan AS Wally Adeyemo pada Minggu (6/2) yakin sanksi apa pun akan memukul keras Putin dan elite Rusia, mengingat ketergantungan mereka pada dolar AS dan Eropa yang jadi mitra dagang terbesar Rusia.

"Dengan bertindak kompak antara AS dan Eropa, kami menempatkan diri pada posisi yang tak hanya akan berdampak pada ekonomi Rusia secara keseluruhan, tetapi juga berdampak langsung pada Presiden Putin yang terkait dengan ekonomi Rusia," terangnya.

Setiap hari, lembaga keuangan Rusia bertransaksi senilai USD 46 miliar secara global. Sebanyak 80 persen di antaranya menggunakan dolar AS, menurut Adeyemo. Sementara itu, Eropa menyumbang sekitar 40 persen dari perdagangan Rusia.

Ditanya apakan Rusia akan beralih ke China, Adeyemo menjawab bahwa beratnya rencana sanksi AS dan hubungan Rusia dengan Barat akan mempersulitnya.

"China tak punya akses ke teknologi penting yang diandalkan Rusia dari AS dan sekutunya. Elite Rusia yang akan terputus dari sistem keuangan global pun tak menyimpan uang mereka di China. Mereka menaruhnya di Eropa dan AS," pungkasnya. []