News

AS: Afghanistan Bakal Jadi 'Negara Pariah' Jika Taliban Merebut Kekuasaan Secara Paksa

Jika Afghanistan berstatus sebagai negara pariah, maka ia tidak lagi menjadi bagian dari dalam komunitas internasional


AS: Afghanistan Bakal Jadi 'Negara Pariah' Jika Taliban Merebut Kekuasaan Secara Paksa
AS menyebut bahwa Afghanistan akan menjadi negara pariah jika Taliban secara paksa merebut kekuasaan di negara itu (REUTERS / STRINGER)

AKURAT.CO, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken mengatakan bahwa Afghanistan akan menjadi 'negara pariah' jika Taliban berhasil mengambil kendali dengan paksa. 

Sementara diketahui, jika Afghanistan berstatus sebagai negara pariah, maka ia tidak lagi menjadi bagian dari dalam komunitas internasional. Afghanistan juga terancam akan mengalami isolasi internasional, sanksi, atau bahkan invasi dari negara-negara yang menganggap kebijakan, aksi, atau keberadaannya sebagai hal yang tidak bisa diterima.

"Afghanistan yang tidak bisa menghormati hak-hak rakyatnya, Afghanistan yang melakukan kekejaman terhadap rakyatnya sendiri akan menjadi negara paria," kata Blinken kepada wartawan selama kunjungan resmi pertamanya di India pada Rabu (28/7) waktu setempat.

AS: Afghanistan Bakal Jadi Negara Pariah Jika Taliban Merebut Kekuasaan Secara Paksa - Foto 1
 Jonathan Ernst/Reuters 

Pernyataan Blinken itu muncul bersamaan ketika Taliban berkunjung ke China dan mencoba 'merangkul' negara tetangganya tersebut. Taliban pun mengirim beberapa delegasi untuk memperlancar diplomasinya dengan China. Di antaranya termasuk salah satu pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar. Sementara China diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi.

Dalam pembicaraan itu, Taliban meyakinkan Beijing bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Afghanistan digunakan sebagai pangkalan untuk berkomplot melawan negara lain.

Namun, Beijing dilaporkan khawatir jika nantinya Afghanistan digunakan sebagai pangkalan bagi kaum separatis Uighur di Xinjiang. Terlebih, garis perbatasan China-Afghanistan hanya sepanjang 76 kilometer dan berada di ketinggian terjal tanpa persimpangan jalan.

Menanggapi itu, juru bicara Taliban Mohammad Naeem mengklaim bahwa kekhawatiran China tidak berdasar. 

"Emirat Islam Afghanistan (pemerintahan yang dibentuk Taliban) telah meyakinkan China bahwa tanah Afghanistan tidak akan digunakan untuk melawan keamanan negara mana pun … Mereka (China) berjanji untuk tidak ikut campur dalam urusan Afghanistan tetapi sebaliknya membantu memecahkan masalah dan membawa perdamaian," katanya kepada kantor berita AFP.

Menurut para ahli, posisi China sudah jelas karena kebijakan luar negerinya adalah non-intervensi dalam masalah negara lain. Analisis juga mengatakan bahwa China sebenarnya merasa muak dengan religiusitas Taliban mengingat kedekatannya dengan Xinjiang yang mayoritas Muslim.

Namun pertemuan itu pada akhirnya tetap memberikan legitimasi kepada Taliban yang menginginkan pengakuan internasional hingga 'perisai diplomatik' di PBB.

Bagi Beijing sendiri, pemerintahan yang stabil dan kooperatif di Kabul akan membuka jalan bagi perluasan proyek Satu Sabuk, Satu Jalan (BRI) ke Afghanistan. Sementara Taliban akan menganggap China sebagai sumber dukungan ekonomi yang penting.

"Dengan mendapatkan pihak China di pihak mereka, China akan dapat memberi mereka perlindungan diplomatik di Dewan Keamanan.

"Penting untuk dicatat … ketika negara-negara lain membuka pintu mereka dan terlibat dengan Taliban, itu melemahkan legitimasi pemerintah Afghanistan dan menghadirkan Taliban hampir sebagai pemerintah yang menunggu (giliran)," kata pakar Afghanistan yang berbasis di Australia Nishank Motwani kepada AFP.

Sementara itu, di Kabul, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah mendesak masyarakat internasional 'untuk meninjau kembali narasi kesediaan Taliban untuk merangkul solusi politik mereka'.

"Dipandang dalam segi skala, ruang lingkup, dan waktu, kami menghadapi invasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 30 tahun terakhir. 

"Ini bukan Taliban abad ke-20 … tetapi manifestasi dari hubungan antara jaringan teroris transnasional dan organisasi kriminal transnasional," kata Ghani dalam pidatonya pada Rabu.

Di New Delhi, Blinken memperingatkan Taliban bahwa mereka harus berubah jika menginginkan penerimaan global. 

"Taliban mengatakan bahwa mereka mencari pengakuan internasional, bahwa mereka menginginkan dukungan internasional untuk Afghanistan. Agaknya, ingin pemimpinnya bisa bebas bepergian di dunia, sanksi dicabut, dan lain-lain.

"Pengambilalihan negara dengan paksa dan menyalahgunakan hak-hak rakyatnya bukanlah jalan untuk mencapai tujuan tersebut," tegasnya. 

Moskow, sementara itu, mengatakan akan memperkuat militer Tajikistan dengan senjata dan peralatan karena situasi Afghanistan yang makin memburuk. []