News

Arteria Dahlan Melanggar Etik, Lebih Buruk dari Pidana

Pernyataannya meminta Jaksa Agung memecat Kepala Kejaksaan karena berbicara menggunakan bahasa Sunda sangat melukai masyarakat Sunda


Arteria Dahlan Melanggar Etik, Lebih Buruk dari Pidana
Akademisi Rocky Gerung saat menjadi saksi pada persidangan Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (23/4/3019). Rocky Gerung menjadi salah satu saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum di persidangan kasus berita bohong Ratna Sarumpaet (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Pengamat politik Rocky Gerung tidak mempersoalkan langkah kepolisian memberhentikan penyelidikan kasus dugaan ujaran kebencian 'Bahas Sunda' oleh Arteria Dahlan dengan alasan hak imunitas yang dimiliki anggota DPR.

Meski begitu Rocky tetap menilai Arteria telah melakukan kesalahan fatal. 

"Ia tidak bisa dipidana karena memang dasar hukumnya tidak ada. Namun dia sudah melanggar hal yang lebih buruk, yaitu etik," ungkap Rocky seperti dikutip redaksi di channel Youtube Rocky Gerung Official, Senin (7/2/2022). 

baca juga:

Rocky mengungkapkan Arteria sudah membuat luka masyarakat Sunda atas pernyataannya yang meminta Jaksa Agung memecat Kepala Kejaksaan karena berbicara menggunakan bahasa Sunda. Dengan pernyataan tersebut, Rocky Gerung juga menganggap Arteria tidak memiliki kepekaan yang seharusnya dimiliki pejabat.

“Kepekaan dia itu nggak ada, padahal sebetulnya seorang pejabat publik dituntut untuk peka, kan itu intinya kan, dia cara membaca teori imunitas tuh ngaco,” ujar Rocky Gerung.

Lebih lanjut Rocky menilai kasus 'Bahasa Sunda' Arteria serupa dengan kasus 'Tempat Buang Jin' Edy Mulyadi, yakni sama-sama kecelakaan naratif. Meskipun belakangan, polisi menetapkan Edy sebagai tersnagka ujaran kebencian dan ditahan. 

"Secara fakta keduanya sama-sama melakukan kesalahan, dimana keduanya sama-sama buruk secara etis," ujarnya.

Menurutnya, Arteria harus berhenti membuat sensasi dan tidak melontarkan pernyataan negatif. Namun Rocky sekali lagi menyinggung baik kasus Arteria maupun Edy perlu dilihat dari kacamata intelektual.

"Masyarakat tidak dapat melihat ini dengan kacamata intelektual karena saat ini sudah banyak masyarakat yang termakan oleh isu isu politik yang ada," pungkasnya.[]