Olahraga

Argumen Para Pelatih Bikin ESL Layu sebelum Berkembang

Pep Guardiola dan Marcelo Bielsa adalah dua pelatih yang menentang Liga Super Eropa.


Argumen Para Pelatih Bikin ESL Layu sebelum Berkembang
Pep Guardiola saat mendampingi Manchester City dalam pertandingan menghadapi West Ham United di London, Inggris, 24 Oktober 2020. (MANCITY.COM)

AKURAT.CO, Ketika 12 klub besar Eropa mengumumkan akan turut serta dalam Liga Super Eropa (ESL) pada awal pekan ini, bos Juventus, Andrea Agnelli, adalah tokoh yang cukup optimistis dengan gelombang tersebut. Namun, dua hari kemudian, Agnelli mengaku kalah.

“Terus terang dan jujur saja, tidak, faktanya ini tidak akan terjadi,” kata Agnelli tentang masa depan ESL setelah enam klub Liga Primer Inggris memutuskan mundur pada Rabu pagi kemarin sebagaimana dipetik dari The Guardian.

Apa yang mengejutkan dari polemik ini sebenarnya bukan saja bahwa ESL merupakan “menara gading” 12 klub kaya Eropa yang mendapatkan posisi permanen tanpa turun kasta. Namun juga karena 12 klub besar tersebut telah terlanjur menyatakan kesediaan mereka untuk ikut ESL.

Dua belas klub ini bukan “kaleng-kaleng”. Yakni Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Juventus, Inter Milan, AC Milan, Chelsea, Manchester City, Manchester United, Tottenham Hotspur, Arsenal, dan juara bertahan Liga Primer Inggris, Liverpool.

Selain kritik dari suporter dan pengamat, gagalnya kampanye ESL tak terlepas dari sikap para pemain utama dalam industri sepakbola: pemain dan pelatih. Pendapat publik semakin mengerucut ketika pemain dan pelatih secara terbuka mengambil posisi berseberangan dengan pemilik klub mereka dalam isu ESL.

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, adalah salah satu orang dengan pendapat yang paling kuat. Baginya, ESL tidak dilaksanakan untuk kepentingan olahraga karena sudah menjamin sejumlah tim untuk bertahan di posisi teratas apapun yang terjadi dengan klub-klub tersebut.

“Bukan olahraga jika hubungan antara usaha dan kesuksesan tidak ada. Itu bukan olahraga. Bukan olahraga jika sukses sudah dijamin. Bukan olahraga jika kekalahan bukanlah persoalan,” kata Guardiola.

“Dan tidak adil jika satu tim bertarung, bertarung, bertarung dan sampai ke puncak dan setelah itu tidak bisa lolos karena kesuksesan sudah dijamin untuk segelintir klub.”

Pelatih Leeds United, Marcelo Bielsa, bicara dengan nada yang lebih keras lagi. Baginya ESL adalah ego klub besar yang menganggap bahwa klub kecil tidak lagi penting karena klub besar adalah penghasil pendapatn terbesar.

“Pikirkan logikanya, ketika tim lain yang tersisa sudah tidak dibutuhkan lagi oleh mereka, mereka mengambil keistimewaan dalam kepentingan mereka sendiri dan melupakan yang lain,” kata Bielsa.

Di samping kritik suporter, pernyataan dari sosok pelatih seperti Guardiola dan Bielsa tampaknya cukup masuk akal untuk menentang ESL. Sehari setelah Guardiola, Bielsa, dan bahkan mantan pemain Manchester United yang kini jadi pengamat sepakbola, Gary Neville, menentang ESL, sembilan klub telah memutuskan mundur kecuali Juventus, Real Madrid, dan Barcelona.[]

Hervin Saputra

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu