News

Soal Pajak Sembako, APSI: Ini Soal Perut, Tolong Pertimbangkan Keadaan

Pasalnya saat ini masyarakat sedang dirundung COVID-19


Soal Pajak Sembako, APSI: Ini Soal Perut, Tolong Pertimbangkan Keadaan
Anggota Dewan Pengupahan , Sarman Simanjorang menilai sudah ada dasar yang kuat dalam menetapkan kenaikan UMP, dan itu harus digunakan (AKURAT.CO/Arief Munandar)

AKURAT.CO  Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APSI) Sarman Simanjorang meminta rencana pungutan pajak Sembako akan semakin memberatkan perekonomian masyarakat.

Momentum saat ini, kata dia, belum tepat untuk mewujudkan rencana tersebut. Sebab, pungutan pajak sembako akan semakin menurunkan daya beli masyarakat. 

"Sembako ini kan sembilan bahan pokok masyarakat kita. Jadi ini menyangkut isi perut ini. Dalam hal ini apakah momentumnya sudah tepat pemerintah mengenakan pajak terhadap barang sembako tersebut," katanya, Senin (14/6/2021). 

Dia beralasan, kondisi ekonomi saat ini masih sangat tertekan. Pertumbuhan ekonomi masih minus di angka 2,5 persen. Pada momentum tertekannya ekonomi masyarakat, konsumsi rumah tangga harusnya tetap terjaga dengan stabil. 

"Karena konsumsi rumah tangga itu penyumbang 60 persen pertumbuhan ekonomi kita," katanya. 

Dia mengatakan, bila pungutan pajak diberlakukan, daya beli masyarakat akan semakin terpukul.

Padahal, kata dia, harusnya konsumsi masyarakat itu harus dijaga agar tetap naik. 

"Jadi, dengan adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi 2,5 persen ini kita harapkan bisa tetap naik, bukannya makin berkurang. Ini kan berpotensi berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang msh negatif," katanya. 

Selain itu, rencana pungutan pajak Sembako itu bakan menyebabkan inflasi. Sebab, kemampuan masyarakat untuk belanja akan berkurang. Menurut dia, masyarakat mungkin tak akan keberatan bila rencana itu dilakukan pada masa normal. 

"Kalau kondisi ekonominya normal, saya rasa mungkin masyarakat tidak keberatan. Tapi dalam kondisi seperti ini perlu pertimbangan dari pemerintah," katanya.