Ekonomi

Apindo Desak Pemerintah Buka Keran Persaingan Maskapai untuk Tekan Harga Tiket


Apindo Desak Pemerintah Buka Keran Persaingan Maskapai untuk Tekan Harga Tiket
Pesawat Garuda saat menurunkan penumpang di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (27/3/2019). Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman memberi ultimatum kepada maskapai penerbangan agar penurunan tiket pesawat di semua rute terhitung pada awal April 2019. Pasalnya, dengan kenaikkan harga tiket pesawat ini telah mengakibatkan sektor pariwisata terkena dampak (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah untuk segera membuka keran persaingan maskapai di Tanah Air. Hal ini supaya terciptanya keseimbangan terhadap tarif hingga layanan.

Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani mengatakan, dua maskapai penerbangan yang saat ini menguasai pangsa pasar Indonesia dikhawatirkan tidak akan membuat daya saing lebih baik. Seperti diketahui, Garuda Indonesia menguasai 46 persen dan Lion Air Group 51 persen.

"Kami sambut baik langkah pemerintah menurunkan tarif pesawat. Tapi kami melihat dua penerbangan, memang terus terang kita khawatir tidak ada akan membuat arah daripada daya saing kita lebih baik. Jadi, pemerintah perlu membuka keran persaingan supaya ada balancing terhadap tarif, layanan dan lain-lain," ucapnya kepada Akurat, Jakarta, belum lama ini.

Menurut Hariyadi, membuka keran persaingan yang dimaksud adalah pemain atau maskapai lama yang diberikan rute baru atau diperluas rutenya. Atau bahkan bisa saja memberikan kesempatan bagi pemain baru lokal yang ingin berbisnis di sektor penerbangan.

"Bukan (maskapai asing). Maksudnya di sini adalah maskapai yang dia harus mengikuti aturan yang ada. Bukannya asing terbang seenaknya, enggak bisa, kan kedaulatan negara. Tapi pemain yang memang akan memperbesar (pasar atau rute) dari ketersediaan pesawat yang ada," tegasnya.

Namun dalam berbisnis di sektor penerbangan, katanya, diakui memang tidak mudah. Apalagi membutuhkan modal yang tidak sedikit dan diawasi secara ketat (highly regulated).

"Tapi bukannya tidak bisa, kalau semua pihak membuat kondisi yang fair untuk semuanya, saya rasa sih enggak ada masalah. Karena tadi saya bilang, industri ini sudah sesuatu yang sangat transparan," paparnya.

Ia menambahkan, transportasi udara selama ini merupakan tulang punggung pariwisata dan ekonomi yang menyangkut kegiatan-kegiatan di daerah. Oleh karenanya, tarif penerbangan yang tinggi dipastikan akan memukul industri tersebut.

"Pada waktu semester I-2019 memang sudah confirm industri hotel turun signifikan 10-30 persen. Paling berat adalah Indonesia Timur. Bahkan ada laporan Jayapura drop 70 persen di Juni. Ternyata memang impact besar. Kenaikan harga tiket dan Pemilu juga kontribusi turunkan okupansi," pungkasnya. []