Ekonomi

APINDO Akui Mahalnya Tiket Pesawat Gerus Laba Hotel 'Budget'


APINDO Akui Mahalnya Tiket Pesawat Gerus Laba Hotel 'Budget'
Apindo saat jumpa pers mengenai RUU SDA di kantornya, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (23/7/2019). (Dhera Arizona/Akurat.co)

AKURAT.CO Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan, kenaikan tarif pesawat sejak akhir tahun lalu utamanya lebih berdampak pada sejumlah hotel non-bintang atau budget hotel di Tanah Air. Hal ini tercermin dari rendahnya tingkat okupansi hingga akhirnya turut menurunkan laba kotor operasional (gross operating profit/GOP).

Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani mengatakan, sejak terjadinya kenaikan tarif penerbangan, hotel non-bintang atau budget hotel mendapati penurunan tingkat okupansi. Padahal, mereka baru bisa mendapatkan GOP jika tingkat okupansi mencapai di atas 70 persen.

"Contohnya adalah yang budget hotel, itu banyak. Budget hotel ini target market LCC, itu banyak loss-nya. Mereka dapat GOP kalau okupansi di atas 70 persen," ucapnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Sedangkan untuk hotel bintang 3 ke atas, penurunan okupansinya masih relatif minim. Sehingga, tidak bisa disamaratakan dengan budget hotel dan non-bintang.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Kebijakan Publik Apindo Soetrisno Iwantono menuturkan, rata-rata tingkat okupansi hotel berbintang pada tahun ini tercatat 52 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar 57 persen.

Kemudian, penurunan tingkat okupansi juga terjadi pada hotel bintang 2 ke bawah seperti non-bintang dan budget hotel. Adapun rata-rata tingkat okupansinya 33 persen. 

"Hotel berbintang tidak banyak turun. Non-bintang sekarang okupansi 33 persen," jelasnya.

Menurut Iwantono, hal tersebut terjadi lantaran orang yang biasa bermalam di hotel berbintang 3 ke atas merupakan para eksekutif. Mereka yang melakukan perjalanan dinas dibiayai oleh perusahaan, ataupun pemerintah.

"Mereka biasanya tidak pernah mau naik LCC. Yang pakai low cost memang untuk pelancong. Kemudian dia yang nginep di bintang 2, bintang 3, dan non bintang. Itu kemudian terkena paling besar dampaknya karena menggunakan uang pribadi," paparnya.

Kemudian, kata Iwantono, tarif penerbangan sekarang seharusnya bisa lebih diturunkan lagi oleh pemerintah karena bukan musim liburan (peak season). Namun, sayangnya pemerintah hanya menurunkan tiket di hari-hari dan jam-jam tertentu.

"Ini yang kita lihat memang masih setenah hati," tegasnya.

"Bayangkan terbang ke Surabaya, kelas ekonomi Rp1,4 juta, PP Rp3 juta. Sementara ke KL Rp1,4 juta. Kenapa gitu? Karena ada kompetisi yg bisa jual lebih murah kalau enggak ada kompetisi, orang enggak jual murah," pungkasnya. []