Ekonomi

APBN 2021 Sudah Tekor Rp219 Triliun, Ekonom: Cukup Menghawatirkan!

Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 dinilai menghawatirkan.


APBN 2021 Sudah Tekor Rp219 Triliun, Ekonom: Cukup Menghawatirkan!
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira. (Dok. Istimewa)

AKURAT.CO Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 dinilai menghawatirkan. Sebab, besaran defisit yang telah mencapai Rp219,3 triliun per Mei 2021 atau setara dengan 1,32 persen dari PDB.

“Kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan karena baru bulan Mei defisit APBN sudah mencapai 1,32 persen," ujar Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira kepada Akurat.co, Jakarta, Selasa (22/6/2021).

Sementara di akhir tahun, pemerintah biasanya akan mendorong serapan anggaran dengan proyeksi defisit melebar di atas 6 persen.

Di sisi lain, kata Bhima, pemerintah juga dihadapkan pada penurunan rasio pajak tahun ini karena pemulihan ekonomi tergganggu akibat naiknya kasus positif Covid-19 serta insentif perpajakan yang tidak tepat sasaran.

“Apalagi konsekuensi dari adanya ledakan kasus Covid-19 adalah naiknya belanja perlindungan sosial hingga kesiapan pemerintah membiayai skenario PSBB ketat bahkan lockdown,” lanjutnya.

Bhima juga mengatakan, pemerintah akan terjebak pada skenario dilematis yakni menurunkan defisit dengan austerity atau pangkas belanja sosial maka orang miskin akan menjerit. Sedangkan jika defisit terus melebar maka kepercayaan kreditur utang menurun.

“Tapi kita flashback ke masa sebelum pandemi memang fundamental fiskal atau APBN rapuh,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah masih ada senjata pamungkas yaitu realokasi anggaran ekstrem dengan batalkan Rp413 triliun anggaran proyek infrastruktur dan perjalanan dinas.

Kemudian tunda terlebih dahulu belanja-belanja yang tidak urgen. Di sisi lain, naikkan penerimaan pajak dengan mengejar wajib pajak kakap sekaligus mengurangi obral insentif pajak kepada korporasi.

“Jangan anggap enteng pelebaran defisit karena ujungnya penerbitan utang lebih agresif dan itu berbahaya bagi sistem keuangan karena menimbulkan crowding out effect,” tambahnya. []