Rahmah

Apakah Vaksin dapat Membatalkan Puasa?

Bolehkah vaksin di bulan puasa?


Apakah Vaksin dapat Membatalkan Puasa?
Berdasarkan data uji klinis awal, Sinovac mengatakan vaksin COVID-19 buatannya aman untuk anak-anak usia 3-17 tahun (Bussines Standard)

AKURAT.CO, Hingga saat ini, pemberian vaksin COVID-19 adalah solusi yang dinilai paling jitu untuk mengurangi jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Demikian ditegaskan oleh Alodokter di dalam situsnya.

Lalu, bagaimana jika vaksin dilakukan pada bulan puasa? Apakah vaksin yang dengan menggunakan injeksi itu dapat membatalkan ibadah puasa atau tidak?

Sebelum menjelaskan boleh atau tidaknya, dikutip dari NU Online bahwa berobat untuk menghindari penyakit dan atau wabah adalah wajib. 

إن كان بكم أذى من مطر أو كنتم مرضى أن تضعوا أسلحتكم [النساء: 102] فيه بيانُ الرخصةِ في وضْعِ الأَسْلِحةِ إنْ ثَقُل عليهمْ حَمْلُها بِسببِ مَا يَبُلُّهُم مِن مطرٍ أوْ يُضْعِفُهمْ مِن مرَضٍ وأمَرَهُمْ معَ ذلك بِأخذِ الحذْرِ لِئلا يَغْفَلوا فيَهجُمُ عليهمُ العدوُّ، ودلَّ ذلك على وُجوْبِ الحذرِ عن جميعِ المضارِّ المظنونةِ، ومِنْ ثَمَّ عُلِم أنَّ العلاجَ بالدواءِ والاحْترازَ عنِ الوباءِ والتحرُّزَ عن الجلوسِ تحتَ الجدارَ المائلَ واجبٌ.

Artinya: “(Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit) (al-Nisaa:102). Di dalam ayat ini adanya keringanan untuk meletakkan senjata saat para pasukan terbebani dengan bawaan, seperti dalam keadaan basah kuyup kehujanan atau karena sakit. Meskipun demikian mereka tetap harus waspada terhadap musuh. Ayat tersebut juga menunjukkan wajibnya menjaga kewaspadaan dari segala bahaya yang akan datang. Dari sinilah difahami bahwa berobat dengan obat dan menjaga diri dari wabah penyakit serta menghindari dari duduk-duduk di bawah dinding yang miring adalah wajib."

Terkait dengan injeksi di bulan puasa, Ibnu al-Hammam al-Hanafi dalam kitab Fathu al-Qadir (2/330) bahwa yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk lewat rongga yang lazim, seperti mulut, kubul, dan dubur. Dikatakan demikian:

(قَوْلُهُ وَلَوْ اكْتَحَلَ لَمْ يُفْطِرْ) سَوَاءٌ وّجَدَ ظَعْمَهُ حَلْقِهِ أَوْلَا لِأَنَّ الْمَوْجُودَ فِي حَلْقِهِ أَثَرُهُ دَاخِلًا مِنَ الْمَسَا مِّ وَالْمُفْطِرُ الدَّاخِلُ مِنْ الْمَنَا فِذِ كَا الْمُدْ خَلِ وَالْمُخْرَجَ لَا مِنْ الْمَسَا مِّ

Artinya: "(Ungkapan “Dan jika memakai celak maka tidak membatalkan puasa”) baik tenggorokannya dapat merasakan suatu makanan atau tidak, karena zat yang berada di tenggorokan adalah sisa-sisa yang masuk lewat pori-pori. Sedangkan, yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk lewat rongga yang terbuka seperti jalan masuk ke tubuh atau jalur keluar darinya, dan bukan dari pori-pori."

Melalui penjelasan di atas, vaksin di bulan puasa tidaklah membatalkan puasa. Selama tidak ada bahaya (dlarar). Ini juga sebagaimana fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) no 13 tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 Saat Berpuasa.[]

Sumber: NU Online

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu