Rahmah

Apakah Menolak Variasi Bercinta Termasuk Nusyuz?

Ketahui agar tidak salah paham soal hubungan dengan pasangan.


Apakah Menolak Variasi Bercinta Termasuk Nusyuz?
Ilustrasi kamar suami istri. (Pexels/lalesh aldarwish)

AKURAT.CO Berhubungan intim antar suami dan istri merupakan kebutuhan antar masing-masing keduanya yang telah disahkan dalam tata aturan hukum Islam. Bahkan, jika diniatkan ibadah, akan mendapatkan pahala.

Seorang istri sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Baqarah 223 berlaku sebagai lahan yang boleh ditanami apapun oleh sang suami. 

Allah SWT berfirman,

baca juga:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya: "Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman."

Meskipun demikian, Islam pun telah mengatur berbagai tata norma kehidupan antara suami dan istri. Termasuk di dalamnya terkait dengan etika berhubungan intim.

Lalu, bagaimanakah jika seorang istri menolak untuk memenuhi tuntutan suami dalam melakukan variasi bercinta? Apakah istri telah melakukan pembangkangan terhadap suami (nusyuz)? 

Mengutip NU Online, penolakan seorang istri terhadap permintaan suami dalam melayani variasi bercintanya tidaklah termasuk dalam kategori membangkan (nusyuz, dalam fiqih mengakibatkan hak suami berhak memberhentikan nafkah kepada istriI) karena pada dasarnya kewajiban melayani hubungan seks seorang istri adalah sewajarnya saja. 

Kecuali apabila seorang suami tidak bisa mengeluarkan sperma tanpa variasi tersebut atau akan menyebabkan kerepotan yang lain, maka bagi istri memenuhi permintaan suaminya tersebut hukumnya adalah wajib. Itupun selama bentuk variasi itu masih dalam kewajaran. Misalnya dengan berbagai gaya ( jurus cakar elang, hariamau menerkam dan lain-lain) atau sekedar bermain-main dengan tangan dan jari-jari di wilayah mister v, atau menggunakan tangan istri untuk mempermainkan dzakar dan lainnya.  

Akan tetapi jika variasi itu telah melanggar norma agama, maka tidak wajib bagi istri untuk menurutinya misalnya dengan menggunakan jalur belakang. Demikian keterangan dalam kitab Fathul Muin dan juga kitab-kitab lainnya semisal dalam al-Fatawy al-Fiqhiyyah al-kubra karangan Ibnu Hajar al-Haytami:

الواجب عليها هو التمكين من الوطء ولايجب عليها ما وراء ذلك مما هو معروف وان ترتب عليه مزيد قوة لهمة الرجل وتنشيط للجماع هذا هو الذى يتجه ويحتمل أن يجب عليها ما يتوقف عليه الانزال او مايترتب على تركه ضرر للرجل   

Wallahu A'lam bi as-shawab.[]

Sumber: NU Online