Olahraga

Apa sih Sebenarnya European Super League?

Dua belas klub terbesar dari Inggris, Italia, dan Spanyol setuju bergabung dengan ESL. Bayern Muenchen dan Paris Saint-Germain belum menentukan sikap.


Apa sih Sebenarnya European Super League?
Para pemain Real Madrid sedang fokus latihan jelang melawan Liverpool di babak perempat final Liga Champions 2020-2021. ( UEFA.COM)

AKURAT.CO, Sejalan dengan bersedianya enam klub besar Liga Primer Inggris untuk bergabung dengan kejuaraan format baru antar klub di Benua Eropa, European Super League (ESL), perdebatan kini menggelinding. Dua belas klub yang sudah menyatakan diri bergabung dengan gerakan yang kini menghadapi “perang publik”.

Apa sih sebenarnya ESL?

Idenya dimulai pada 1998 ketika rekanan media Italia berencana menggelar kejuaraan Eropa yang diikuti 38 klub dengan sistem klasemen sebagaimana kompetisi domestik. 

Dipimpin oleh bos Real Madrid, Florentino Perez, ESL dalam format terbaru terdiri dari 20 klub yang terbagi dalam dua grup di mana setiap grupnya diisi oleh sepuluh tim. Masing-masing klub akan saling berhadapan dalam format tandang-kandang dengan sistem penghitungan poin klasemen.

Dimainkan di tengah pekan, tiga tim teratas di masing-masing grup akan lolos ke perempat final. Sementara dua jatah lain akan diperebutkan oleh tim peringkat empat dan lima melalui play-off.

Perempat final sampai semifinal akan dilangsungkan dua leg sementara partai final hanya digelar satu pertandingan. Seperti juga Liga Champions, final akan dihelat di venue netral.

Dalam skemanya Perez, turnamen ini dihelat untuk mempertemukan tim-tim terbaik yang dianggapnya tak terjadi di Liga Champions. Dengan kata lain, ESL adalah pertandingan untuk tim-tim besar yang berada di papan atas kompetisi domestik masing-masing demi menjamin tim terbaik akan bertanding dengan yang terbaik.

Sejauh ini, 12 klub yang disebut sebagai klub pendiri turnamen terpisah ini adalah Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Juventus, AC Milan, Inter Milan, Manchester United, Manchester City, Tottenham Hotspur, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool.

Alasan lainnya adalah untuk membuka kemungkinan ekonomi yang lebih luas dengan menawarkan banyak pertandingan berisikan tim-tim besar bersama pemain-pemain besar. Perez mengklaim bahwa ESL justru menjawab gairah miliaran penggemar sepakbola di dunia.

Lalu, mengapa ESL dikritik?

Kritik yang paling menonjol adalah ESL telah menjadi arena bagi segelintir klub-klub besar untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Gelandang Real Madrid dan Tim Nasional Jerman, Toni Kroos, misalnya, menganggap bahwa kejuaraan ini hanya akan memperlebar kesenjangan tim besar dan tim kecil.

FIFA, UEFA, serta beberapa kelompok suporter sejauh ini telah menolak untuk mengakui ESL. Sebagai reaksinya, mereka sudah mengirimkan surat kepada FIFA dan UEFA untuk memberitahu bahwa ESL akan mengambil langkah hukum jika dua lembaga tersebut menghalangi pembentukan kejuaraan mereka.[]

Hervin Saputra

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu