Lifestyle

Apa Kabar Vaksin Covid-19 Untuk Ibu Hamil?

BPOM belum mengeluarkan izin resmi vaksin Covid-19 untuk ibu hamil. Sementara Menkes Budi Sadikin menyebut bumil boleh divaksin dengan syarat tertentu.


Apa Kabar Vaksin Covid-19 Untuk Ibu Hamil?
Ilustrasi Ibu Hamil (pixabay.com)

AKURAT.C, Ditengah gencarnya vaksinasi Covid-19 di tengah masyarakat, pemerintah masih belum menyediakan vaksin untuk ibu hamil. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa belum adaada emergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil. Oleh sebab itu, pemerintah hingga saat ini masih menunda vaksinasi Covid-19 untuk ibu hamil.

"Belum dapat diberikan kepada anak-anak pada usia kurang 12 tahun dan juga kepada ibu hamil,” ucapnya lagi pada 7 Juli 2021. 

Kondisi ini tentunya sangat disayangkan, meningat ibu hamil juga termasuk dalam kategori rentan. Ya, ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 tak hanya berisiko mengalami gejala berat tetapi juga bisa membahayakan janinnya. Salah satunya adalah kelahiran prematur. 

Menurut data Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI)  sejak April 2020 hingga April 2021ditemukan 536 ibu hamil dinyatakan positif Covid-19 selama setahun terakhir. Dan tiga persen dari data tersebut dinyatakan meninggal dunia. 

"Kita mendapatkan ada 536 ibu hamil yang positif terpapar Covid-19. Kalau dilihat dari angka kematian Covid-nya, dari data kita terima 3 persen," ucap Ari pada awal Juli 2021. 

Sementara itu, sebanyak 4,5 persen dari total jumlah ibu hamil yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut membutuhkan perawatan di ruang ICU.

Melihat adanya peningkatan kasus Covid-19 untuk ibu hamil, kebijakan ibu hamil tidak boleh divaksin pun akhirnya direvisi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut berdasarkan rekomendasi terbaru, ibu hamil dengan kondisi tertentu sudah boleh menerima vaksin Covid-19. Budi menyatakan sebelum divaksin ibu hamil harus memiliki surat keterangan dari dokter yang menyatakan aman untuk menerima vaksin Covid-19. 

"Kalau untuk ibu hamil harus ada rekomendasi dari dokter masing-masing. Karena ibu hamil kan dalam kandungannya mengeluarkan imun secara alamiah, sedangkan kalau vaksinasi imunnya dirancang secara nonalamiah," ujar Menkes Budi pada 28 Juni 2021.

Tak hanya itu saja, Budi juga menyarankan agar ibu hamil dikawal dokter saat menerima dan sesudah vaksin. Ini berguna untuk mengantisipasi risiko muncul indikasi pascavaksinasi. 

Hal yang sama diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Budi Wiweko. 

"Kami sebagai organisasi profesi, mengacu pada data studi dan analogi pada vaksin, merekomendasikan vaksin Covid-19 pada ibu hamil di bawah pengawasan dokter," ujarnya. 

Senada dengan referensi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PGOI mengungkpakan syarat vaksinasi Covid-19 untuk ibu hamil, yaitu :

  • Ibu hamil berisiko tinggi, yakni berusia di atas 35 tahun
  • Memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) melebihi 40
  • Memiliki penyakit komorbid (penyakit bawaan) seperti diabetes dan hipertensi
  • Ibu hamil yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan turut menjadi prioritas

Budi Wiweko menyarankan untuk memberikan vaksin Covid-19  ketika kandungan berusia 33 minggu agar janis bisa merasakan efek perlindungan dan pembentukan antibodi terhadap virus corona. Sementara pembeian vaksin paling cepat dilakukan pada ketika kandungan berusia 12 minggu

"Kami sarankan pemberian vaksin dilakukan di atas kehamilan 12 minggu, hal itu bertujuan menghindari masalah pada proses organogenesis meski hingga saat ini penelitian menunjukkan tidak ada masalah pembentukan organ pada kelahiran bayi setelah ibu divaksin," kata Budi Wiweko.

Adapun untuk jenis vaksin yang direkomendasikan POGI  untuk ibu hamil adalah  vaksin jenis Sinovac. Jenis vaksin ini direkomendasikan karena sejumlah penelitian membuktikan jika jenis vaksin Sinovac untuk ibu hamil memiliki risiko paling kecil. 

"Sinovac adalah vaksin inactivated, basis RNA virus, sub unit protein, atau vektor virus, tidak dapat bereplikasi, dibandingkan vaksin lain sejenis (vaksin tetanus, difteri, atau influenza) secara umum vaksin jenis ini aman, dapat memberikan proteksi pasif untuk neonatur (bayi baru lahir)," dikutip dari akun Facebook resmi PGOI.

Selain Sinovac, jenis vaksin lain seperti Pfizer, AstraZeneca, Sinovac, Moderna dan Sinopharm juga direkomendasikan diberikan kepada ibu hamil.

Meski sudah ada rekomendasi, masyarakat harus bersabar untuk menunggu keputusan resmi dari BPOM.[]