News

Anies Tutup Tempat Ibadah, tapi Izinkan Warga Gelar Hajatan Sampai Pergi ke Mal

Anies Baswedan melarang warga menjalani salat di masjid atau musala menyusul kasus COVID-19 di Jakarta alami kenaikan signifikan.


Anies Tutup Tempat Ibadah, tapi Izinkan Warga Gelar Hajatan Sampai Pergi ke Mal
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat mendatangi Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meniadakan sementara kegiataan peribadatan di rumah ibadah mengingat kasus COVID-19 terus melonjak.

Peraturan itu tertuang dalam Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 796 Tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Berbasis Mikro yang berlaku sejak 22 Juni kemarin hingga 5 Juli 2021.

Sebelum ledakan COVID-19 terjadi dua pekan lalu, kegiatan peribadatan sudah diperbolehkan dengan kapasitas 50 persen dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Kegiatan peribadatan dilakukan di rumah," bunyi salah satu poin Kepgub 796/2021 yang diteken Anies Baswedan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, penutupan tidak hanya dilakukan di rumah ibadah, tapi juga tempat rekreasi atau wisata sampai hiburan malam. Alasannya karena tempat tersebut rawan penyebaran COVID-19.

"Tempat ibadah kami minta beribadah di rumah saja. Banyak sekali kegiatan seperti bioskop, live musik, dan lain-lain kini ditiadakan, pariwisata tempat ruang hijau itu dinolkan, artinya ditutup," tegas Ariza.

Berikut pembatasan yang dilakukan Anies Baswedan demi meminimalkan penularan COVID-19 di Jakarta:

Kegiatan pada tempat kerja/perkantoran

  • Perkantoran/tempat kerja milik swasta, BUMN/BUMD:

Work From Home (WFH) sebesar 75% dan Work From Office (WFO) 25% dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

  • Perkantoran/ tempat kerja milik instansi pemerintah:

Work From Home (WFH) sebesar 75% dan Work From Office (WFO) 25% dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan pada Sektor Esensial

  • Sektor energi, komunikasi dan IT, keuangan, logistik, perhotelan, industri, pelayanan dasar, utilitas publik dan objek vital nasional, serta tempat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, antara lain pasar rakyat, toko swalayan, berjenis minimarket, supermarket, hypermarket, perkulakan dan toko khusus baik yang berdiri sendiri maupun yang berada di pusat perbelanjaan dan toko/ warung kelontong:

Beroperasi 100% (seratus persen) dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan Konstruksi

Tempat konstruksi: Beroperasi 100% (seratus persen) dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan Belajar Mengajar

Sekolah/Perguruan Tinggi/Akademi/ Tempat Pendidikan/Pelatihan: Dilaksanakan secara daring/online.

Kegiatan Restoran

  • Warung makan, rumah makan, kafe, restoran, pedagang kaki lima/lapak jajanan pada lokasi binaan dan lokasi sementara:

Makan/minum di tempat paling banyak 25% (dua puluh lima persen) kapasitas pengunjung;

  • Dine-in sampai dengan pukul 20.00 WIB;

Dapat melayani take away/ delivery sesuai jam operasional restoran (24 jam) dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat;

Kegiatan pada Pusat Perbelanjaan/Mal

Pembatasan pengunjung 25% kapasitas dan jam operasional sampai dengan pukul 20.00 WIB dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Kegiatan Peribadatan

Dilaksanakan di rumah

Kegiatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Beroperasi 100% dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Kegiatan pada Area Publik dan Tempat Lainnya yang Dapat Menimbulkan Kerumunan Massa

Area publik dan tempat lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan massa ditiadakan.

Kegiatan Seni, Sosial dan Budaya

Area publik dan tempat lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan massa ditiadakan, dan khusus kegiatan hajatan (kemasyarakatan) paling banyak 25% dari kapasitas dan tidak ada hidangan makan di tempat.

Kegiatan pada Moda Transportasi

  • Kendaraan Umum Angkutan Massal, taksi (konvensional dan online) dan kendaraan rental:

Maksimal penumpang 50% dari kapasitas dan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

  • Ojek (online dan pangkalan)

Penumpang 100% dari kapasitas dan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.[]