News

Angka Kematian Tembus 180 Ribu Jiwa, India Minta Bayar Rp480 Ribu untuk Urus Mayat Korban Corona?

India dikabarkan masih menuntut biaya dari warga untuk mengurus jenazah keluarga yang terkena corona.


Angka Kematian Tembus 180 Ribu Jiwa, India Minta Bayar Rp480 Ribu untuk Urus Mayat Korban Corona?
Keluarga dari korban yang meninggal karena COVID-19 kabarnya harus membayar Rs. 2.500 (Rp483 ribu) untuk biaya kepengurusan jenazah (Report Wire)

AKURAT.CO, Situasi krisis COVID-19 di India terus menuai perhatian media massa. Setelah negara ini menempati posisi kedua dengan jumlah infeksi terbanyak, kini India dikabarkan masih menuntut biaya dari warga untuk mengurus jenazah keluarga yang terkena corona.

Laporan itu awalnya diembuskan oleh sejumlah media lokal India, seperti Report Wire dan Opinindia. Dalam liputannya itu, keduanya pun sama-sama menulis bagaimana aturan tarif pengurusan jenazah itu ditetapkan oleh pemerintahan negara bagian Chhattisgarh. 

Dalam aturannya itulah, menurut kedua media itu, Kongres Chhattisgarh menetapkan bahwa siapapun yang anggota keluarganya meninggal karena COVID-19 harus membayar 2.500 rupee (Rp483 ribu). Biaya hampir Rp500 ribu yang nantinya akan digunakan untuk keperluan pengurusan jenazah, termasuk penyimpanan serta penyediaan keranda mayat.

Setelahnya disebutkan bagaimana perintah itu telah diterapkan oleh wakil Menteri Kesehatan Chhattisgarh, dan pada ujungnya menuai kritikan keras dari banyak pihak, termasuk warga setempat hingga Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa.

Berita ini pun sempat diunggah oleh warganet dengan video yang menampakkan mayat-mayat berjejeran di sebuah gedung kumuh. Di video itu, diperlihatkan pula sejumlah petugas dengan pakaian pelindung tampak berjaga-jaga di sekitar jenazah.

Namun, setelah berita ini mendapatkan perhatian, ANI hingga Ekonomic Times India membeberkan bahwa biaya tersebut sebenarnya untuk batasan biaya kepengurusan jenazah bagi rumah sakit-rumah sakit swasta di Chhattisgarh.

Sementara rumah sakit pemerintahan tetap membebaskan biaya untuk keperluan penanganan hingga penyimpanan jenazah korban COVID-19.

Dikonfirmasi pula bahwa aturan 2500 rupee itu sebenarnya justru muncul karena banyaknya keluhan keluarga korban COVID-19 yang memprotes besarnya biaya yang ditarik dari beberapa rumah sakit swasta. 

"Pemerintah Chhattisgarh pada Rabu (14/4) mengatur batasan biaya penanganan korban COVID-19 untuk semua rumah sakit swasta di negara bagian agar tidak melebihi 2.500 rupee untuk penanganan, penyimpanan, dan kepengurusan pasien yang meninggal karena COVID-19," tulis ANI pada Kamis (15/4) lalu.

Hal ini juga telah diklarifikasi langsung oleh Menteri Kesehatan Chhattisgarh, TS Singh Deo.

"Saya ingin mengklarifikasi bahwa jumlah 2.500 rupee yang ditetapkan untuk rumah sakit swasta jika terjadi kematian akibat COVID-19. Jumlah maksimum 2.500 rupee tetap tidak berubah & batas ditetapkan untuk memberikan bantuan kepada keluarga di saat kesedihan dan kesusahan ini,"

"Aturan ini untuk rumah sakit swasta dan gratis di rumah sakit pemerintah. Rumah sakit pemerintah tidak memungut biaya apa pun untuk kasus seperti itu dan disediakan gratis," ucap Singh seperti dikutip dari Ekonomic Times India hingga ANI News.

Terlepas dari kasus ini, India sendiri memang tengah dihantam gelombang COVID-19 dengan jumlah infeksi harian bisa mencapai hingga lebih dari 200 ribu kasus. Pada Senin lalu misalnya (19/4), Worldometer mencatat tambahan infeksi sebanyak 256 ribu lebih. 

Sementara kini, jumlah total infeksi dikatakan sudah menembus hingga lebih dari 15,3 juta kasus. Sedangkan, jumlah kematian telah menyentuh angka 180.550.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu