Abiwodo, S.E., M.M.

Penulis adalah praktisi perbankan
Ekonomi

Andil G20 untuk Ketahanan Perbankan Indonesia

Andil G20 untuk Ketahanan Perbankan Indonesia
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Indonesia Joko Widodo bertemu di sela-sela KTT G20 di Bali, Senin (14/11) (Reuters)

AKURAT.CO Tidak sedikit yang masih bertanya, apa sih pengaruh G20 untuk ketahanan perbankan kita? Saya pikir pertanyaan ini sangat wajar tatkala ancaman resesi global di depan mata. Terlebih Indonesia punya trauma runtuhnya industri perbankan di krisis moneter 1997, yang berdampak pada rontoknya sendi-sendi ekonomi dan sosial.

Meski perekonomian kita saat ini cukup sehat dan kuat untuk menghadapi ketidakpastian global, namun kita wajib waspada terhadap dampaknya. Setidaknya, jika negara-negara besar mengalami resesi, tentu dampaknya juga terasa pada Indonesia.

Bukan cuma Amerika dan Eropa. Saat ini, perekonomian Tiongkok juga sedang tidak baik-baik saja. Kita lihat saja, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2022 adalah 3.2%, di bawah target pemerintah yang seharusnya 5.5%.

baca juga:

Pada sisi lain Tiongkok merupakan pasar ekspor yang cukup besar untuk Indonesia. Sebaliknya, 33.8% impor kita berasal dari China. Sebab itulah Indonesia juga harus bersiap dalam menghadapi perlambatan ekonomi dan resesi global 2023.

Apalagi belakangan ini bank-bank sentral berbagai negara secara bersamaan menaikan suku bunganya untuk merespons inflasi. Sudah tentu ketahanan perbankan dipertaruhkan. Di sinilah kita patut bersyukur dengan adanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, dan Indonesia didapuk sebagai Presidensi G20 saat ini.

Seperti yang kita tahu, peran G20 saat ini sangat penting untuk mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Artinya, pertemuan, kesepakatan dan kerjasama yang dibuahkan G20 bisa berpengaruh baik bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Jika pertumbuhan ekonomi baik, pertumbuhan dana di masyarakat juga terkerek naik. Dengan begitu, ketahanan perbankan bisa ikut terjaga, sebab ketahanan perbankan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dana masyarakat. Alhasil perekonomian pun akan seimbang.

Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, dilansir dari djkn.kemenkeu.go.id, mengatakan kalau perhelatan G20 ini akan menciptakan kontribusi sebesar 7.4 triliun pada PDB Indonesia.

Pada sisi lain, perhelatan G20 ini menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mendorong investor untuk berinvestasi di UMKM dalam negeri. Saat ini investor global Indonesia, 80% diantaranya adalah dari negara G20.

Sejauh ini Indonesia mampu menunjukkan keberhasilan reformasi struktural, antara lain dengan adanya UU Cipta Kerja yang berhasil meningkatkan kepercayaan investor global. Dengan banyaknya Investor, perekonomian di Indonesia akan tumbuh dengan bagus. Dengan begitu, Ketahanan Perbankan di Indonesia juga akan terjaga dengan baik.

Perhelatan G20 juga meningkatkan sektor pariwisata di Indonesia. Bayangkan, dari perhelatan ini proyeksi meningkatnya wisatawan mancanegara sekitar 1.8 juta hingga 3.3 juta. Angka ini tentu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan lagi-lagi pasti berpengaruh baik untuk ketahanan perbankan.

Sementara itu, dalam mewujudkan perhelatan besar sekelas KTT G20 ini melibatkan banyak orang lho. Paling tidak ada penyerapan tenaga kerja yang cukup besar dalam rangkaian pelaksanaan G20 ini, termasuk kontribusi untuk UMKM secara langsung.

Tercatat ada penyerapan tenaga kerja sebanyak 33.000 orang dalam perhelatan G20 ini. Sementara dari sektor pariwisata, ada 600-700 ribu lapangan pekerjaan baru. Dari sini saja sudah terlihat adanya potensi pertumbuhan dana masyarakat, yang akan berpengaruh pada terjaganya ketahanan perbankan.

Selain tiga pengaruh besar tadi, ada sisi baik lainnya dari G20 untuk ketahanan perbankan Indonesia. Sebagai Presidensi G20, Indonesia berkesempatan terlibat langsung dalam mendesain perekonomian dunia. Salah satunya, desain ekonomi yang dibangun bisa diarahkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

Sebagai kesimpulan, dari semua perkiraan pertumbuhan ekonomi dari G20 ini, diperkirakan konsumsi masyarakat juga bisa meningkat. Dengan begitu, pendapatan pajak akan naik hingga lebih dari 18%, lebih dari 24% penerimaan bea cukai, dan tentunya penerimaan PNBP diperkirakan juga akan naik lebih dari 23%.

Jadi sudah jelas, pengaruh G20 terhadap ketahanan perbankan di Indonesia cukup besar. Dengan industri perbankan yang sehat dan kuat, Indonesia diyakini mampu menghadapi resesi global yang diperkirakan terjadi pada 2023.

Mari manfaatkan peluang ini dengan maksimal. Ekonomi meningkat, ketahanan perbankan kuat. Sukses untuk perhelatan Presidensi G20. Recover Together, Recover Stronger.[]