News

Andi Irfan Jaya Didakwa Perantara Suap ke Pinangki

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Andi Irfan Jaya sebagai perantara suap kepada Jaksa Pinangki Sirna Malasari.


Andi Irfan Jaya Didakwa Perantara Suap ke Pinangki
Pengusaha Andi Irfan Jaya (AKURAT.CO/Yudi Permana)

AKURAT.CO, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Andi Irfan Jaya sebagai perantara suap kepada Jaksa Pinangki Sirna Malasari dalam rangka pengurusan penerbitan fatwa Mahkamah Agung (MA). Hal tersebut terungkap dalam sidang dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2020). 

Eks kader Partai NasDem itu didakwa memberikan uang senilai 500 ribu Dollar Amerika Serikat dari Djoko Tjandra kepada Jaksa Pinangki Sirna Malasari. Uang itu diberikan pada Pinangki guna mengurus fatwa MA yang diajukan Kejaksaan Agung (Kejagung).         

Penerbitan fatwa MA agar Djoko Tjandra bisa kembali ke Indonesia tanpa harus dieksekusi jaksa eksekutor. Hal tersebut berdasarkan putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009.

"Pinangki Sirna Malasari selaku Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara mengurus Fatwa Mahkamah Agung (MA) melalui Kejaksaan Agung agar pidana penjara yang dijatuhkan kepada Joko Soegiarto Tjandra berdasarkan Putusan PK Nomor 12 Tanggal 11 Juni 2009 tidak bisa dieksekusi. Sehingga Joko Soegiarto Tjandra bisa kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani pidana," kata Jaksa dalam membacakan surat dakwaan.      

Perkara suap dan gratifikasi penerbitan fatwa MA bermula saat Pinangki menghubungi Andi Irfan pada 22 November 2019. Saat itu, Pinangki mengajak Andi Irfan ke Kuala Lumpur Malaysia pada 25 November 2019 dalam rangka bertemu Djoko Tjandra.     

Andi Irfan setuju dengan ajakan Pinangki. Kemudian mereka berangkat ke Malaysia untuk membahas pengurusan fatwa MA. Pada 25 November 2020, Andi Irfan bersama Pinangki dan Anita Kolopaking bertemu Djoko Tjandra di Kantor The Exchange 106 Kuala Lumpur Malaysia.        

Selanjutnya, Pinangki mengenalkan Andi Irfan sebagai konsultan yang akan meredam pemberitaan di media massa pada saat Djoko Tjandra kembali ke Tanah Air.         

"Bahwa dalam pertemuan tersebut, Pinangki Sirna Malasari memperkenalkan terdakwa Andi Irfan Jaya sebagai konsultan yang akan meredam pemberitaan di media massa apabila Joko Soegiarto Tjandra kembali ke Indonesia," jelasnya.      

Kemudian, Pinangki dan Anita Kolopaking menjelaskan mengenai rencana action plan pada Djoko Tjandra. Action plan itu dibuat guna mengurus fatwa MA melalui Kejagung.       

Atas perbuatannya, Andi Irfan Jaya didakwa melanggar Pasal 5 ayat (2) Juncto Pasal 5 ayat (1) huruf a dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 56 ke-1 KUHP. []