Ekonomi

Ancam Nasib Petani Tembakau, Komisi IV DPR Tolak Revisi PP 109/2012

Komisi IV DPR RI meminta pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait revisi PP 109/2012.


Ancam Nasib Petani Tembakau, Komisi IV DPR Tolak Revisi PP 109/2012
Petani merawat tanaman tembakau, di Pamekasan, Jawa Timur, Senin (6/7). Kesepakatan pabrikan dengan pemerintah kabupaten setempat menetapkan Break Even Point (BEP) tembakau minimal sebesar Rp30.381 perkilogram atau naik dari tahun 2014 sebesar Rp29.526. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri/Rei/foc/15.)

AKURAT.CO Komisi IV DPR RI meminta pemerintah berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait revisi PP 109/2012. Sebab, revisi ini dinilai akan mengancam keberadaaan petani tembakau di Indonesia dan menimbulkan persoalan baru seperti PHK besar-besaran padahal ekonomi belum pulih akibat pandemi Covid-19.

“Saya tentu menolak karena pertimbangan terhadap nasib jutaan tenaga kerja terutama petani yang harus kita lindungi. Pemerintah harus berhati-hati untuk mengambil kebijakan yang sifatnya strategis, apalagi kalau urusannya terkait dengan nasib petani, buruh dan pihak-pihak yang berhubungan dengan industri tembakau,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan di Jakarta, Jumat (4/6/2021).

Untuk itu, Daniel meminta pemerintah melakukan kajian komprehensif yang mengutamakan kepentingan petani sebagai dasar pembuatan kebijakan pemerintah. Apalagi dampaknya besar bagi negara dan industri pertembakauan. 

“Bukannya mendatangkan manfaat tetapi berdampak pada industri pertembakauan, baik dari hulu ke hilir (petani hingga pada buruh pabrik rokok). Ini akan menambah masalah baru dan jumlah pengangguran baru,” ujar Daniel.

Lebih lanjut, kata Daniel, rantai industri IHT dari hulu ke hilir saling terhubung. Maka, jika salah satu putus maka akan merusak tatanan industri itu sendiri. 

“Yang rugi siapa, tentu negara karena menyebabkan penganguran jutaan orang secara sitematis,” tuturnya. 

Sebagai informasi, tembakau merupakan jenis tanaman semusim yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu tumbuh dengan baik di daerah yang kering dimana jenis tumbuhan lain tidak dapat tumbuh. Beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat merupakan sentra perkebunan tembakau di Indonesia. Tembakau memberikan nilai ekonomi luar biasa kepada petani dan belum ada jenis tanaman lain yang mampu memberikan dampak sejenis kepada petani.

Selain Daniel, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar Firman Soebagyo menyatakan Indonesia merupakan negara yang berdaulat sehingga negara harus hadir untuk melihat situasi dan kondisi rakyatnya. 

“Apa artinya kalau industri hasil tembakau ini kemudian dimatikan dan tenaga kerjanya akan di-PHK? Indonesia itu adalah negara yang berdaulat, maka kita tidak serta merta bahwa harus menjalankan apa yang menjadi kemauan WHO, karena WHO juga ada agenda agenda terselubung dalam masalah persoalan IHT,” pungkasnya.

Firman melihat kesehatan memang penting namun tidak serta merta kematian berasal dari tembakau. Oleh karena itu terkait revisi PP 109/2012, bentuk kehadiran negara harus memberikan rasa adil, memberikan kepastian hukum kepada rakyatnya yang memberikan kepastian lapangan pekerjaan dan membutuhkan peningkatan kesejahteraan hasil tembakau dan hasil dari bekerja di pabrik rokok.

Hal senada juga disampaikan oleh Bambang Purwanto anggota komisi IV DPR fraksi Demokrat yang menyatakan revisi PP 109/2012 akan berdampak pada pendapatan masyarakat, kehilangan mata pencaharian dan akan menjadi masalah sendiri bagi Pemerintah. 

“Harus disikapi dengan hati-hati, cermat dan cerdas,” ujar Bambang. 

Terkait dengan persoalan kesehatan, sudah seharusnya pemerintah meningkatkan sosialisasi. “Yang saat ini kan belum ada di masyarakat, hanya melalui stiker-stiker, enggak ngaruh itu. Harusnya sosialisasi dari tingkat puskesmas ke tingkat dinas, itu harus digalakkan,” tegasnya. []