Lifestyle

Anak yang Sering Digendong Katanya Bakal Keras Kepala, Apa Hubungannya?

Salah satu cara terbaik untuk menenangkan anak adalah dengan menggendongnya. Namun, ini disebut bisa buat anak jadi keras kepala.


Anak yang Sering Digendong Katanya Bakal Keras Kepala, Apa Hubungannya?
Ilustrasi - menggendong anak (Freepik/Cookie_studio)

AKURAT.CO, Salah satu cara terbaik untuk menenangkan anak atau menunjukkan kasih sayang adalah dengan menggendongnya. Namun, Bunda mungkin pernah mendengar nasihat agar tidak sering menggendong Si Kecil karena itu dikhawatirkan akan membuatnya menjadi anak yang keras kepala.

Bunda mungkin langsung menggendong Si Kecil kala dia meminta digendong karena merasa tidak tega dan bersalah jika tidak menuruti keinginannya. Jika ini dilakukan terus-menerus, hal ini dikhawatirkan akan menciptakan sifat keras kepala pada anak. 

Dikutip dari Stay At Home Mom, sifat anak yang keras kepala merupakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya dan akan menjadi beban berat apabila tidak segera diatasi.

Perlu diketahui, bayi dan balita memang masih suka digendong karena mereka sering merasa cemas saat tidak bersama dengan orangtuanya. Ini merupakan kondisi yang wajar dalam tahap perkembangan di usia bayi sampai balita.

Bahkan dalam jurnal Parenting International, disebutkan bahwa bayi baru lahir yang lebih sering digendong justru cenderung lebih jarang menangis, lebih percaya diri, dan lebih mandiri di kemudian hari. Namun, menggendong anak memang ada batas waktunya.

Anak yang sudah agak besar sebaiknya tidak terus-menerus digendong oleh orangtuanya. Setelah enam bulan, Bunda tidak wajib menggendong Si Kecil untuk menenangkannya. Misalnya, pada saat dia terbangun di malam hari, Bunda tidak harus menggendong selama kebutuhannya sudah terpenuhi.

Misalnya, mengganti popoknya yang kurang nyaman dan menyusuinya saat ia haus. Selain itu, jangan membiasakan Si Kecil harus digendong saat ia ingin tidur. Pasalnya, dia nanti akan kesulitan untuk tidur bila tidak digendong, menurut Lynne Murray, profesor psikologi perkembangan.

Tak hanya itu saja, selalu menggendong Si Kecil juga berpotensi menghambat kemampuan motorik anak untuk berjalan, melompat, atau berlari. Itu juga dapat membatasi pergerakan anak untuk menjelajahi lingkungan sekitarnya dan menjadi ketergantungan. Oleh karena itu, pada saat ia mulai aktif, cobalah mengurangi kebiasaan menggendong.

"Jangan selalu digendong. Digendong hanya seperlunya saja. Kalau terus digendong, bisa memerlambat perkembangannya," kata dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik, Maria Eva Dana, dikutip AKURAT.CO pada Selasa, (26/10/2021). 

Kemampuan berjalan, berlari, dan melompat anak sudah meningkat pada saat berusia dua atau tiga tahun. Bunda pun bisa mulai membatasi diri untuk menggendongnya. Namun, bukan berarti Bunda tidak menggendongnya sama sekali. Tetap gendong saat dia membutuhkan Bunda, seperti saat ketakutan, bersedih, kelelahan dan mengantuk saat bepergian, atau menyeberang jalan, tentunya.

Seiring bertambahnya usia anak, Bunda harus mengurangi frekuensi hingga akhirnya pada akhirnya dia tidak perlu digendong, bahkan tak suka digendong lagi. Dilansir Close Enough to Kiss, biasanya, anak masih bisa digendong sampai usia tiga sampai empat tahun. Sementara pada usia empat atau lima tahun, anak akan mulai mengghindar saat digendong.[]