Rahmah

Anak Sanggah Pandangan Orang Tua, Termasuk Akhlak Buruk?

Seorang anak lebih memilih mengurungkan niatnya untuk meluruskan pandangan orangtua. Alasannya, karena takut durhaka dan termasuk dalam sifat tercela.


Anak Sanggah Pandangan Orang Tua, Termasuk Akhlak Buruk?
Hubungan anak dan orangtua (Themuslimvibe.com)

AKURAT.CO  Perbedaan pandangan dengan orangtua mungkin menjadi satu hal yang sulit untuk dihindari. Hal yang sering terjadi ketika anak memiliki pendapat berbeda kemudian ingin meluruskan pandangan orangtuanya.

Namun dalam kenyataannya, seorang anak lebih memilih mengurungkan niatnya untuk meluruskan pandangan orangtua. Alasannya, karena takut durhaka dan termasuk dalam sifat tercela.

Oleh karena itu, apakah benar perbuatan tersebut termasuk durhaka dan su'ul adab ?

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa upaya menjelaskan atau meluruskan masalah meskipun dari anak terhadap orang tua merupakan tindakan terpuji menurut syariat. Kalau pun meminjam istilah durhaka terhadap orang tua, maka tindakan anak terhadap kedua orang tuanya ini merupakan “durhaka terpuji.”

وأما إذا كان لإحقاق حق وإبطال باطل أي لإظهار حقيقة الحق وإظهار بطلان الباطل فممدوح شرعا ولو من ولد لوالده فيكون عقوقا محمودا

Artinya: "Adapun bila itu bersifat mengungkapkan yang hak dan menyatakan kebatilan, yaitu menjelaskan hakikat yang hak danmenjelaskan kebatilan sesuatu yang batil, maka itu terpuji menurut syariat, sekali pun itu dilakukan oleh anak terhadap kedua orang tuanya, maka itu terbilang ‘durhaka’ yang terpuji,”. (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, SyarahTuhfatul Muridala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124). 

Tindakan berdebat, menyanggah, membantah, mengkritik, meluruskan, menjelaskan duduk perkara, atau menyatakan yang hak, dan memisahkannya dari yang batil menjadi tercela menurut agama kalau berisi konten yang merendahkan orang lain dan mengangkat diri kita. Ini membuat tindakan tersebut menjadi tercela sebagaimana keterangan berikut ini:

كالمراء) هو لغة الاستخراج يقال ما روى فلان فلانا إذا استخرج ما عنده وعرفا منازعة الغير فيما يدعي صوابه ومحل كونه مذموما إذا كان لتحقير غيرك وإظهار مزيتك عليه

Artinya: “[Jauhi tindakan tercela] (seperti berdebat), secara bahasa artinya mengeluarkan sebagaimana kalimat, ‘Fulan mengeluarkan fulan,’ yaitu ketika si fulan meminta mengeluarkan sesuatu yang ada pada fulan. Secara adat, debat itu berselisih [debat atau sanggah] orang lain perihal sesuatu yang didakwakan kebenarannya. Tindakan ini menjadi tercela karena terletak pada sikap meremehkan orang lain dan menyatakan keistimewaan kita atas orang lain itu” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Syarah Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 124).

Kita harus hati-hati melihat persoalan ini karena selama ini perbedaan sikap durhaka (melawan orang tua) dan upaya mendudukkan persoalan secara proporsional oleh anak sangat tipis di masyarakat. 

Jika kembali ke masalah awal, maka yang perlu diberikan catatan adalah bahwa tindakan anak meluruskan pandangan orang tua tidak menyalahi norma sosial dan norma agama seperti durhaka, melawan orang tua, tidak sopan, su’ul adab, dan seterusnya. Dengan kata lain, tindakan anak meluruskan pandangan orang tua boleh menurut agama. Wallahu A'lam. []

Sumber: Nu Online