Lifestyle

Anak Mulai Pacararan, Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua

Dari sisi psikologi, pacaran tidak masalah asal anak tetap diberi batas


Anak Mulai Pacararan, Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua
Ilustrasi ibu dan anaknya yang remaja (SHUTTERSTOCK)

AKURAT.CO Masa remaja anak-anak dimulai sekitar usia 12-16 tahun. Di masa itu pula, anak-anak mulai banyak berteman dengan lawan jenis, bahkan bisa memiliki perasaan lebih kepada teman lawan jenisnya itu.

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 menyebut bahwa 81 persen wanita telah berpacaran, sedangkan pada pria sebanyak 84 persen sudah berpacaran. Bahkan, mereka mulai berpacaran rata-rata sejak usia 10 hingga 17 tahun.

Dari sisi psikologi, pacaran tidak masalah asal anak tetap diberi batas, demikian diungkapkan psikolog anak dan remaja dari RSAB Harapan Kita, Ade Dian Komala, saat berbincang dengan para wartawan beberapa waktu lalu.

"Orang tuanya bisa bilang bawa aja temannya ke rumah. Pacar itu kan teman dekat, suruh anak ngajak teman dekatnya itu ke rumah dan kenalin ke ayah atau bundanya. Karena sebenarnya pacaran itu bisa jadi salah satu tugas perkembangan yang mesti dilewati oleh anak. Oh begini toh berhubungan dengan lawan jenis," ujar Ade.

Meski Ayah dan Bunda berpikir bahwa usia anak masih terlalu belia untuk cinta-cintaan. Menurut Ade kalian disarankan untuk tidak menghakimi anak tanpa memahami sudut pandangnya. Lagi pula, ingat, Ayah dan Bunda pernah muda, kan?

Nah, jika Ayah dan Bunda mendapati anak mengaku punya pacar, sebagai orang tua, lakukan hal-hal di bawah ini.

Obrolkan Soal Bagaimana Sosok Pacarnya

Saat anak remaja sudah punya pacar, biasanya dia mulai membuat jarak dengan orang tua. Alasannya bisa karena malu atau canggung. Misal, setiap berangkat Bunda mencium pipi anak kini anak menolak dicium. Terkadang anak pun takut dirinya diremehkan oleh teman-teman di sekelilingnya, dengan sebutan ‘anak kecil’, ‘anak mamih’ atau ‘anak manja’.

Supaya jarak antara anak dan orang tua tak makin melebar, cobalah untuk turunkan ego dan diskusikan hal tersebut dengan cara halus, terbuka, dan pada waktu yang tepat. Misalnya, saat anak sedang senggang di kamarnya, maka ketuklah pintu dan masuk dengan ramah. Jangan sampai ada raut wajah curiga yang dilihat oleh anak, karena anak bisa-bisa tak mau berbicara dengan Ayah atau Bunda.