Lifestyle

Anak Korban Kekerasan Seksual Tak Mendapat Rehabilitasi Bisa Jadi Pelaku Baru

Tidak mudah bagi anak untuk melepaskan trauma bagi anak kekerasan seksual


Anak Korban Kekerasan Seksual Tak Mendapat Rehabilitasi Bisa Jadi Pelaku Baru
Ilustrasi temuan kasus perdagangan seks siber anak (Channelnewsasia)

AKURAT.CO Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat ada belasan ribu kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan sepanjang tahun 2021.

Untuk kasus kekerasan terhadap anak, trennya lebih memprihatinkan. Sebab, kasus kekerasan seksual mengambil porsi yang besar dalam data kekerasan terhadap anak dan perempuan. 

"Pada kasus kekerasan terhadap anak, 45,1 persen kasus dari 14.517 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, merupakan kasus kekerasan seksual," ujarnya Menteri PPPA Bintang Puspayoga dalam jumpa pers virtual, dikutip pada Jumat (21/01).

baca juga:

Jumlah itu setara dengan sekitar 6.547 kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi selama tahun 2021.

Tenaga Ahli Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta, Margaretha Hanita mengatakan bahwa dirinya melihat fakta lapangan, anak dari korban kekerasan tidak mendapat rehabilitasi dari tenaga ahli psikologis hingga selesai, sehingga korban tersebut menjadi pelaku sodomi ke sesama temannya.  

"Ditemukannya anak korban kekerasan seksual tidak mendapatkan rehabilitasi secara paripurna sehingga akhirnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Hal-hal ini tentunya perlu menjadi pertimbangan juga,“ jelas Hanita, melalui media briefing secara virtual ‘Sejauhmana RUU TPKS Melindungi Anak Korban Kekerasan Seksual’.

Sama seperti Hanita, Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Endang Ekowarni, mengatakan, tidak mudah bagi anak untuk melepaskan trauma kekerasan seksual, apalagi pelaku masih dalam lingkunga anak.

"Trauma yang terbangun dalam memori reka kekerasan dan pelecehan seksual yang telah terjadi, akan mengikuti karakter perkembangan anak. Sesuatu yang dipikirkan terus akan menjadi sebuah obsesi sehingga muncul perilaku karena imajinasi erotis," tulis Endang Ekowarni yang dikutip dari laman UGM, pada Selasa lalu, (7/9/2021).

"Ibarat orang yang belum pernah minum anggur, sekali mencoba, meski tidak enak tetap berusaha untuk mengulangnya kembali. Besar kemungkinan si anak saat remaja atau dewasa yang menjadi korban mencoba kembali pengalaman yang tidak mengenakkan meski tidak dengan pelaku yang sama," sambung Endang.

Oleh karena itu, Hanita mengatakan bahwa ada lima tantangan perlindungan korban dan pelaku kekerasan seksual anak. Lima hal itu belum diakomodir di dalam RUU TPKS, di antaranya:

  • Dalam Pasal 26 RUU TPKS, kewajiban melapor hanya diberikan kepada tenaga kesehatan. Harusnya keluarga, tenaga pendidik, masyarakat juga memiliki kewajiban yang sama.
  • Belum adanya poin aborsi.
  • Belum adanya poin pencegahan kehamilan bagi korban pemerkosaan.
  • Terbatasnya rumah aman dinas sosial bagi korban.
  • Anak korban kekerasan seksual tidak mendapatkan rehabilitasi secara paripurna sehingga akhirnya menjadi pelaku kekerasan seksual.