Lifestyle

Anak Jadi Korban, Kenali Parental Burnout yang Rentan Dialami Orangtua


Anak Jadi Korban, Kenali Parental Burnout yang Rentan Dialami Orangtua
Ilustrasi parental burnout (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Meskipun memiliki anak adalah harapan semua orangtua, namun dalam proses merawatnya, tak selalu menyenangkan. Akan selalu muncul hal-hal baru yang membuat orangtua bingung, khawatir dan stress.

Stres berkepanjang yang tak dikelola dan diatasi dengan baik saat mengasuh anak nilah yang akan memicu parental burnout pada orangtua. Dan nantinya, anak akan menjadi korban dari hal tersebut.

Parental burnout ini sebenernya karena stresnya udah berkepanjangan. Stres kan adalah situasi yang normal ya. Tapi kalau dosisnya udah kelebihan, sampai mengganggu keseharian kita, terutama kalau di parental ini kita ngeliatnya bisa ke efek (pada anak),” ungkap Saskhya Aulia Prima, M.Psi, Psikolog anak dan Co-Founder Rumah Konsultasi TigaGenerasi dalam kegiatan AQUA memperkenalkan Raisa Andriana, penyanyi wanita Indonesia, sebagai Brand Partner di keluarga besar AQUA secara virtual pada Jumat (4/9/2020).

Saskhya menambahkan, efek yang dapat dirasakan adalah orangtua akan merasa tidak senang bertemu anak, bahkan ketika berinteraksi dengan anak akan timbul perasaan sensitif seperti mudah marah.

Tak jarang juga, parental burnout yang umumnya dialami ibu ini, akan membuatnya merasa menjadi orangtua adalah beban dan timbul rasa ingin menyerah. Tentu hal ini bukanlah suatu hal yang normal dan dapat diatasi dengan mudah.

Parental burnout kita lihatnya ke tiga part, (yaitu) kita lelah secara fisik dan mental, kemudian kita juga jadi merasa berjarak sama anaknya, dan being parents atau menjadi orangtua tuh udah gak menyenangkan lagi,” jelas Saskhya.

“Nah kalau kita udah ada pikiran-pikiran kayak gitu, itu sebenernya udah bisa nih kita butuh konsultasi ke ahli, sebetulnya,” tambahnya.

Untuk itu, baik Ibu maupun Ayah perlu saling berkomunikasi dan coba kembali merasakan apakah segala emosi negatif yang muncul adalah hal yang wajar. Jika tidak, tentu ini akan berdampak panjang terutama pada buah hati.
Jika dirasa ada yang tidak normal atau bahkan hanya sekadar ingin mencari tahu saja demi mencegah terjadinya parental burnout, Ibu dan Ayah sangat boleh lho pergi menemui pakar atau ahli untuk mengkonsultasikannya.