News

Amukan COVID-19 di India Makin Ganas, Pasien Meninggal saat Antre Stok Oksigen

Sejumlah rumah sakit di Delhi telah kehabisan seluruh persediaan oksigen pada Kamis (22/4)


Amukan COVID-19 di India Makin Ganas, Pasien Meninggal saat Antre Stok Oksigen
Perdana Menteri Narendra Modi meminta para pejabat mencari jalan untuk mendapatkan lebih banyak oksigen. (Foto: European Pressphoto Agency)

AKURAT.CO, India telah mencatat angka kasus harian COVID-19 tertinggi di dunia dan jumlah kematian tertinggi di negara tersebut selama 24 jam. Jumlah kasusnya pun hampir menembus 16 juta kasus, tertinggi kedua setelah Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari BBC, Negeri Taj Mahal berada dalam cengkeraman gelombang kedua, sehingga timbul kekhawatiran terhadap sistem perawatan kesehatan yang mulai oleng. Sekitar 314.835 kasus harian baru tercatat pada Rabu (21/4), sementara angka kematian bertambah 2.104.

Kerumunan terjadi di depan rumah sakit di kota-kota besar yang sudah penuh. Sejumlah orang pun tewas saat menunggu ketersediaan oksigen.

Pasokan oksigen telah menjadi masalah khusus. Sejumlah rumah sakit di ibu kota Delhi telah kehabisan seluruh persediaan pada Kamis (22/4), menurut Wakil Menteri Utama kota tersebut. Ada laporan bahwa rumah sakit lainnya pun hampir kehabisan.

Karena rumah sakit memperingatkan persediaan yang berkurang dengan cepat, Perdana Menteri India Narendra Modi mengadakan rapat pada Kamis (22/4) untuk mencoba mengakhiri krisis ini. Ia meminta para pejabat mencari jalan untuk mendapatkan lebih banyak oksigen, sambil memberi tahu negara bagian untuk menindak siapa pun yang menimbun persediaan.

Sementara itu, banyak keluarga harus menunggu berjam-jam untuk melangsungkan upacara pemakaman. Setidaknya satu krematorium di Delhi pun terpaksa membuat tumpukan kayu di tempat parkir mobilnya untuk mengatasi banyaknya permintaan.

Peningkatan pesat jumlah kasus COVID-19 selama sebulan terakhir ini didorong oleh lemahnya protokol keselamatan. Sebuah festival Hindu yang dihadiri jutaan orang telah menyebarkan berbagai varian virus, termasuk jenis 'mutasi ganda'. Varian ini terdeteksi di 61 persen sampel yang diuji di Maharashtra, menurut National Institute of Virology.

Kampanye Pemilu besar-besaran, termasuk oleh Modi, juga tidak dihentikan di negara bagian Benggala Barat yang mengadakan Pemilu secara bertahap dalam beberapa pekan terakhir. Para pemilih juga masih akan memberikan suaranya pada Kamis (22/4) untuk tahap keenam pemungutan suara. Pemerintah pun memutuskan tetap melanjutkan pemungutan suara.

Meski telah jatuh dalam krisis, tak ada penguncian nasional diberlakukan seperti tahun lalu. Sebaliknya, daerah menerapkan aturannya sendiri.

Delhi mengumumkan penguncian selama seminggu pada akhir pekan. Akibatnya, hanya kantor pemerintah dan layanan penting, seperti rumah sakit, apotek, dan toko sembako yang buka. Otoritas di negara bagian Maharashtra yang paling parah terdampak pun telah mengumumkan berbagai pembatasan tambahan mulai Kamis (22/4) malam.

Sementara itu, Uttar Pradesh yang juga melaporkan beban kasus yang tinggi telah menerapkan pendekatan yang lebih konservatif. Pengadilan tingginya pada Senin (18/4) memerintahkan penutupan di 5 distrik yang terdampak parah. Namun, keputusan ini ditunda setelah pemerintah mengajukan banding di Mahkamah Agung.

Langkah pencegahan juga diterapkan berbagai negara dengan memberlakukan aturan yang lebih ketat terhadap perjalanan dari dan ke India. Menurut Perdana Menteri Australia Scott Morrison, jumlah penerbangan antara kedua negara tersebut akan dipangkas. Sementara itu, Inggris telah memasukkan India ke daftar merah, membatasi perjalanan, dan memberlakukan karantina hotel untuk seluruh kedatangan dari India mulai Jumat (23/4) pagi.[]

 

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu