Wajib Diketahui, Ini Sejarah dan Keutamaan Bulan Rajab Menurut UAH

Menurut UAH, Rajab secara bahasa berarti sesuatu yang diagungkan dan memiliki makna at-Ta'dzim.

By Akmad Fauzi

Ustaz Adi Hidayat

AKURAT.CO  Ustaz Adi Hidayat atau yang akrab disapa UAH mengatakan, di dalam Al-Qur'an Surah at-Taubah ayat ke-36, Allah SWT berfirman tentang diantara dua belas bulan hijriah, ada empat yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai bulan hurum. Bulan hurum sendiri dalam agama Islam disebut bulan yang dihormati.

UAH menambahkan, bulan hurum adalah bulan-bulan tertentu yang dijelaskan oleh Nabi SAW dari jumlah empat bulan tersebut. Sedangkan dalam riwayat Sahabat Ibnu Abbas RA menyampaikan bahwa Nabi SAW menegaskan tiga dari bulan tersebut berada dan berurutan, yaitu Dzulqa'dah bulan kesebelas, Dzulhijjah bulan keduabelas dan al-Muharam bulan yang pertama.

"Sedangkan satu dari empat itu terpisah berada pada posisi ketujuh yaitu bulan Rajab," ujar UAH dalam video yang diunggah dari YouTube Adi Hidayat Official, Selasa (2/2/2022).

baca juga:

Lebih lanjut lagi, UAH menjelaskan tentang bulan Rajab. Menurut UAH, Rajab secara bahasa berarti sesuatu yang diagungkan dan memiliki makna at-Ta'dzim. Sebab, pada masa itu orang-orang jahiliah, khusunya suku Mudor yang menjaga keagungan di bulan Rajab ini menjadikan penghormatan terhadap bulan ini.

Bulan Rajab, kata UAH adalah bulan yang istimewa karena memang mengetahui turunan-turunan sejarah kemuliaan dari bulan ini yang termasuk dalam bulan mulia yang ditegaskan dalam Al-Qur'an dengan nama bulan hurum.

"Bulan hurum adalah bulan yang sangat dihormati, bulan yang terjaga dari segala nilai-nilai keburukan, bulan yang terjaga dari segala tindakan-tindakan kontraproduktif, perilaku-perilaku maksiat," ucap UAH.

"Karena itu Allah SWT memberikan keutamaan-keutamaan yang ditegaskan dalam Al-Qur'an juga dijelaskan oleh Nabi SAW," imbuh UAH.

Selain itu, kata UAH menyampaikan, salah satu pesan Allah SWT pada bulan Rajab adalah jangan sampai kita berbuat zalim di bulan-bulan tersebut. 

Pemaknaan tersebut, menurut UAH telah diterangkan oleh sahabat Ibnu Abbas RA yang seakan memberi pesan kepada kita, menurut beliau, sang penafsir Al-Qur'an yang dikukuhkan oleh Nabi SAW, beliau menegaskan di bulan itu adalah bulan melatih kita untuk menunaikan amalan-amalan mulia, menjauhi perbuatan-perbuatan yang kontraproduktif.

"Yang dengan penegasan ayat ini memberi pesan orang yang meningkatkan ibadah, mengukir perbuatan mulia, maka dilipatgandakan pahalanya seperti halnya orang yang berbuat maksiat, maka berlipat pula dosa untuknya karena ayat Al-Qur'an tegas mengatakan dalam bentuk larangan: Jangan sekali-kali kalian berbuat zalim di bulan yang dimaksudkan," tandas UAH. []

terkait