Urgensi Aturan Penggunaan Zat Pemanis dan Asin Pada Makanan

Penduduk Indonesia suka mengonsumsi makanan asin gurih dan manis, tapi ini tidak bagus buat kesehatan. Harus ada kebijakan mengatur ini

By Annisa Fadhilah

Ratusan pengunjung memadati lokasi wisata kuliner di Kawasan Pasar Lama, Tangerang, Sabtu (19/2/2022).

AKURAT.CO  Setidaknya dalam satu dekade terakhir penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian terbesar penduduk dunia menggantikan penyakit infeksi. 

Karena sifatnya yang kronis atau menahun dan tidak memberikan dampak kesehatan seketika, umumnya masyarakat tidak sadar bahwa perilaku mereka berisiko pada penyakit tidak menular (PTM). 

Sekitar 52,7 persen penduduk Indonesia mengonsumsi natrium lebih dari 2000 mg/hari atau melebihi batas yang dianjurkan. Rata-rata asupan natrium penduduk Indonesia mencapai 2.764 mg/orang/hari. 

baca juga:

Sebanyak 73 persen natrium yang dikonsumsi, berasal dari makanan yang dimasak di rumah dan 23 persen dari makanan yang dibeli di luar rumah.

Lalu, rata-rata minuman manis yang beredar di Indonesia mengandung terlalu banyak gula.

"Ternyata produk minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di Indonesia kandungan gula memang sudah sangat tinggi. Contohnya, ada soda rasa strawberry ukuran 350 ML kandungan gulanya sampai 46 gram, ini sudah sangat tinggi," ujar Plt. Manajer Riset CISDI Gita Kusnadi, MPH. dalam Webinar Aliansi Penyakit Tidak Menular (PTM) Indonesia, pada Rabu (18/5/2022).

Padahal, dalam anjuran Kementerian Kesehatan dikatakan bahwa asupan gula harian yang sehat maksimal 4 sendok makan atau 50 gram. Seharusnya, jumlah gula hanya pada satu kemasan minuman berpemanis sudah hampir setara dengan anjuran batas aman dari Kemenkes.

"Itu baru kadar gula dari minuman, belum lainnya lagi," kata Gita.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Riskesdas 2018 menunjukkan, prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa di Indonesia 34,11 persen atau naik dari sebelumnya 25,8 persen tahun 2013. 

terkait