Meski Langgar UU, Abu Nawas Tetap Bebas dari Hukuman Mati, Kok Bisa?

Karena untuk kebutuhan menjelajahi hutan, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid mengajak Abu Nawas untuk mengawal dirinya.

By Akmad Fauzi

Ilustrasi Abu Nawas

AKURAT.CO  Siapa yang tak mengenal Abu Nawas, sosok penyair cerdik yang dikenal memiliki selera humor tinggi ini begitu masyhur di kalangan umat Islam.  Meskipun tingkahnya yang nyeleneh, tetapi Abu Nawas merupakan seorang yang cerdas.

Dilansir dari NU Online, dikisahkan pada suatu masa, karena untuk kebutuhan menjelajahi hutan, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid mengajak Abu Nawas untuk mengawal dirinya.

Sepanjang perjalanan ke hutan, mereka berdua dan beberapa pengawal menyusuri sebuah sungai. Waktu itu, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid mengingatkan kepada Abu Nawas dan para pengawalnya soal Undang-Undang kebersihan lingkungan.

baca juga:

Adapun salah satu pasal UU tersebut berbunyi, “Dilarang berak di sungai kecuali Raja atau seizin Raja”. Pelanggaran atas pasal ini adalah hukuman mati.

Namun di tengah-tengah pengembaraannya di hutan, Baginda Raja kebelet berak. Karena posisinya di hutan, akhirnya Baginda Raja berak di sungai yang airnya mengalir ke arah utara.

Akan tetapi ketika Baginda Raja berak, Abu Nawas ternyata ikut berak juga di sebelah selatan Raja. Begitu Baginda Raja melihat ada kotoran lain selain kotorannya, Baginda Raja langsung marah. Apalagi setelah ditelusuri, yang berak itu adalah Abu Nawas.

Atas dasar UU tersebut, Abu Nawas dibawa ke pengadilan. Dengan begitu, ia divonis hukuman mati. Namun sebelum hukuman dilaksanakan, Abu Nawas diberi kesempatan membela diri.

"Paduka yang mulia, aku rela dihukum mati, tapi aku akan sampaikan alasanku kenapa aku ikut berak bersama Rajaku. Itu adalah bukti kesetiaanku pada Paduka Raja, karena sampai kotoran Raja pun harus aku kawal dengan kotoranku, itulah pembelaanku dan alasanku Raja. Hukum lah aku ini,” kata Abu Nawas membela diri.

Pleidoi tersebut sontak membuat Baginda Raja terharu. Abu Nawas yang tadinya divonis mati, kemudian diampuni dan malah diberikan hadiah oleh Baginda Raja Harun Ar-Rasyid. 

Perlu diketahui, Abu Nawas merupakan orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 Masehi di Ahwaz. Ketika memasuki masa remaja, Abu Nawas banyak belajar ilmu agama, bahasa Arab serta bersahabat dengan orang Badui padang pasir. []

terkait