Humor Gus Dur: Rugi Tak Bisa Salaman dengan Orang-orang

Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur datang ke sebuah pesantren untuk menghadiri haul temannya.

By Akmad Fauzi

Ilustrasi Gus Dur

AKURAT.CO KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kerap kali menyelipkan humor dalam aktivitasnya. Bahkan, humor-humor Gus Dur sering dilontarkan sebagai media kritik terhadap kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, termasuk kehidupan umat beragama. 

Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur datang ke sebuah pesantren untuk menghadiri haul temannya. Waktu itu, Gus Dur ditugaskan mengisi tausiyah keagamaan sebagai rangkaian puncak haul. Akan tetapi, saat Gus Dur sudah di rumah sohibul bait, Gus Dur justru heran dengan keadaan tempat acara.

"Kok kali ini tidak banyak yang bersalaman dengan saya. Tidak kaya biasanya begitu..?” tanya Gus Dur kepada para panitia acara haul.

baca juga:

Saat Gus Dur membuka pembicaraan, tidak ada orang yang membalas apa yang ditanyakan Gus Dur. Keadaan justru berubah hening ketika Presiden RI ke-4 itu menanyakan apa yang menjadi keheranannya.

"Mohon maaf Gus, saat Gus Dur turun dari mobil, tadi saya yang mengawal langsung agar tidak ada orang yang bersalaman. Karena jadi repot jika ribuan orang minta bersalaman dengan Gus Dur. Bisa tidak selesai-selesai seharian," jawab salah seorang kiai dengan yang berambut gondrong.

“Waduh, kiai. Sejak mata saya tidak bisa melihat, untuk bisa mengetahui apakah pengajian banyak yang hadir atau tidak ya dengan salaman. Kalau tidak dibolehkan salaman mana mungkin saya bisa melihat berapa yang hadir," kata Gus Dur menjelaskan.

Setelah mendegar penjelasan Gus Dur, kiai berambut gondrong itupun merasa bersalah. Bahasa tubuhnya terlihat mengabarkan penyesalan. Seketika itu juga rang tamu menjadi hening, berbeda dengan halaman pesantren yang mulai ramai didatangi ribuan jemaah.

Akan tetapi, tidak lama kemudian Gus Dur melanjutkan perkataannya.

“Kalau orang-orang itu tidak boleh nyalamin saya, saya juga yang rugi. Coba kalau mereka salam tempel, berapa amplop yang saya terima?” ucap Gus Dur.

Seketika itu juga sasana hening pun berubah menjadi cair kembali. Ruang tamu yang tadinya terlihat sepi, berubah menjadi ramai disambut dengan kekeh-kekeh para kiai yang hadir di ruangan sohibul hajat. Wallahu A'lam Bishawab. []

terkait