Harus Hati-hati, Ini Hukum Mempercayai Ramalan dalam Islam Menurut Prof Quraish Shihab

Prof Muhammad Quraish Shihab mengatakan, ramalan adalah sesuatu yang berkaitan dengan hal yang tidak nyata atau gaib.

By Akmad Fauzi

Prof Quraish Shihab

AKURAT.CO Ramalan secara sederhana dapat dipahami sebagai usaha-usaha untuk mendapatkan pengetahuan atas pertanyaan atau situasi masa yang akan datang melalui cara-cara ritual tertentu. Namun dalam kenyataannya, masih banyak diantara kaum Muslimin sendiri yang tanpa sadar mengikuti dan percaya akan sebuah ramalan.

Lantas bagaimana hukum ramalan dalam agama Islam, apakah diperbolehkan atau dilarang?

Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab mengatakan, ramalan adalah sesuatu yang berkaitan dengan hal yang tidak nyata atau gaib Hal tersebut disampaikannya dalam tayangan video yang diunggah dari akun YouTube Najwa Shihab, Senin (7/2/2022).

baca juga:

Prof Quraish kemudian menjelaskan bahwa gaib dibagi menjadi dua macam. Pertama, gaib hakiki (atau) mutlak hanya Tuhan yang tahu. Misalnya terkait dengan kapan waktu terjadinya kiamat.

"Dulu pernah ada itu siapa: oh kiamat akan terjadi ini, ini, ini. Tidak boleh dipercaya," kata Prof Quraish.

Sehingga, kata Prof Quraish, Al-Qur'an tegas mengatakan: akaadu ukhfiihaa: "Sebelum hampir saja saya menyembunyikannya sehingga saya lupa. Saya bisa lupa,".

Kedua, gaib nisbi. Gaib yang kedua ini memiliki jenis yang bermacam-macam. Salah satunya gaib nisbi relatif (contoh).

"Abi tahu, Nana tidak tahu, gaib buat Nana, buat Abi tidak," tutur Prof Quraish.

"Ada juga gaib (contoh) misalnya, "Hari ini kita tidak tahu, besok kita tahu" atau "Hari ini kita tidak tahu, kemarin kita tidak tahu, sepuluh tahu ke depan baru kita tahu," terang Prof Quraish.

terkait