Ekonomi

Ambisi Erick, Minta Pelabuhan Indonesia Jadi Super Hub di Asia Tenggara

Menteri Erick berharap pelabuhan Indonesia menjadi super hub di Asia Tenggara yang menuju Eropa dan kawasan-kawasan lainnya usai adanya penyatuan Pelindo.


Ambisi Erick, Minta Pelabuhan Indonesia Jadi Super Hub di Asia Tenggara
Menteri BUMN Erick Thohir saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI di Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (20/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Menteri BUMN Erick Thohir berharap pelabuhan Indonesia menjadi super hub di Asia Tenggara yang menuju Eropa dan kawasan-kawasan lainnya usai adanya penyatuan Pelindo.

"Sejak penyatuan Pelindo, Kementerian BUMN menugaskan lima sasaran pengembangan industri pelabuhan nasional yakni tentu bagaimana meningkatkan daya saing global kita. Kita tidak mau menjadi hub tetapi kita ingin menjadi super hub di Asia Tenggara yang menuju Eropa dan kawasan-kawasan lainya. Kita kaya dengan sumber daya alam dan market kita," tutur Erick dalam diskusi online, Selasa (23/11/2021).

Erick menambahkan, sasaran berikutnya adalah peningkatan efisiensi operasional, apakah juga nanti yang namanya clean management dengan menekan biaya-biaya mahal dan menghilangkan korupsi-korupsi yang terjadi.

"Saya meyakini direksi dan komisaris Pelindo yang baru memiliki komitmen itu," sambungnya.

Sasaran ketiga yakni peningkatan sinergi terus dilakukan dengan berbagai pihak. Mensinergikan pengembangan pelabuhan dalam sistem transportasi nasional dan sistem logistik nasional. Lalu sasaran keempat adalah peningkatan kapasitas, untuk memenuhi kebutuhan serta mendukung pertumbuhan serta pembangunan ekonomi.

Berikutnya adalah pengembangan SDM, mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dalam industri pelabuhan.

"Penyatuan Pelindo dilakukan agar efektivitas tol laut berjalan sesuai rencana, sekaligus mengatasi berbagai kendala terutama biaya logistik yang tinggi," jelas Erick.

Seperti diketahui kemampuan mengatasi biaya logistik sangat berpengaruh dan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara.

"Biaya logistik di Indonesia masih mahal yakni 23 persen dari PDB, masih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Singapura yang bisa menekan biaya logistik hingga 8 persen atau India dan Malaysia 13 persen lalu kenapa Indonesia tidak bisa," ungkap Erick.