Ekonomi

Alokasi Penghasilan dibawah Rp10 Juta, Begini Racikan Tepatnya!

Melihat penghasilan orang lain yang lebih besar pasti akan memunculkan saja rasa insecure


Alokasi Penghasilan dibawah Rp10 Juta, Begini Racikan Tepatnya!
Ilustrasi mengelola penghasilan gaji dibawah Rp5 juta (Burst)

AKURAT.CO Melihat penghasilan orang lain yang lebih besar pasti akan memunculkan saja rasa insecure. Berapa pun penghasilan kita adalah sebuah anugerah. Makanya, rasa insecure atau diam-diam iri jangan kelamaan dipelihara.

Karena bahayanya cukup ngeri lho, mulai dari membuat jadi malas dan lebih percaya cuan instan hingga kebanyakan ghibah pencapaian orang lain. Bahkan hasil studi Prof.Cary Cooper di Manchester University pun mengungkap, membandingkan pencapaian hanya akan membuat diri sulit bahagia ke arah depresi.

Jadi, gimana dong yang gaji dibawah Rp5 juta atau bahkan UMP bisa mengelola penghasilan juga? Melansir laman Instagram Perencana Keuangan Prita Ghozie @pritaghozie membagikan tips bagaimana meracik alokasi penghasilan dibawah Rp10 juta, cekidot!

First things first!

Penghasilan berapa pun, sebisa mungkin kita tetap berbagi dengan mereka yang lebih kurang beruntung. Maka, untuk yang penghasilan mencapai nisab bayar zakat untuk penghasilannya dan juga mal-nya.

Sedekah, sosial dan berbagi akan sangat besar artinya bagi yang menerima.

Lalu, kita lihat lagi sudah bisa ikut sistem budgeting yang manakah setiap bulannya. Awalnya, pakai metode komitmen yang sederhana banget hanya membagi pengeluaran komitmen (75%) dan saving in itu.

Kemudian, jika sudah memungkinkan bisa upgrade pakai metode Living-Saving-Playing seperti ini.

1. Alokasi Living

Lajang- maksimal 30% ya kalau enggak bisa 50% deh!

- Bayar tagihan-tagihan. - Tempat tinggal, makanan, pakaian. - Cicilan (entah lah ala aja dicicil).

Menikah- maksimal 70%

- Urusan rumah tangga. - Bayar tagihan-tagihan - Pengeluaran pribadi dan anak. - Cicilan (biasanya motor, gadget, atau enggak tau apaan).

2. Alokasi Savings

Lajang- yuk dicoba 50%

- Harus paksain 10% untuk dana darurat. - 20% untuk tabungan tujuan keuangan terdekat: menikah, kumpulin DP rumah, dan sejenis. - 20% untuk investasi: dana pensiun

Menikah- semangat yuk kejar 20%

- Dana darurat + premi asuransi = 10%. - 5% untuk tabungan tujuan keuangan terdekat: persiapan anak, dana pendidikan. - 5% untuk investasi = dana pendidikan.

3. Alokasi Playing

Lajang- maksimal 20% aja ya.

- Jajan jajan. - Jalan jalan. - Kadang enggak jelas beli apa aja dari olshop.

Menikah- yaaa sisa dunia deh...

- Semua poin diatas, plus. - Beli baju gemes buat anak. - Beli tanaman, pot gemes, ikan-ikan, kucing-kucing, entahlah.

Paham banget jika gaji UMP + tanggungan ya lebih susah ngatur uangnya. Aku mau kasih tau saat gaji 5-10 juta = Living 70% dulu. Tapi semakin nambah gaji, Living = 60% terus 50% alias ideal.

Terus, gimana dong kalau gaji aja masih UMP tapi pengin investasi?

Aku yakin penghasilan berapa pun pasti hobi TopUp saldo dompet elektronik kan?

Nah, saat topup, paksaan Rp10 ribu aja dibelikan; - reksa dana pasar uang. - emas.

Berterima kasihlah jaman sekarang hampir semua platform online punya fitur investasi juga start dari Rp10 ribuan aja..

Terus, gimana dong jika buat Livingnya aja masih kurang gajiku?

Ya memang, pahami bahwa penghasilan UMP di sebuah kota adalah patokan hidup layak dan sederhana untuk 1 orang plus 1 tanggungan.

Jadi, apabila kamu bahkan sudah menikah. Pilihannya membuka keran penghasilan baru.

- Dagang nan Halal = produksi sendiri, dagangin barang orang or MLM?

- Cari pekerjaan part-time or freelance

- Memindahkan aset tidur menjadi aset aktif.

Yang jangan dilakukan, iseng pasang aset kripto berharap naik 100% dalam sehari.

Tanpa pemahaman atau pengetahuan yang cukup, kemudian langsung ikut berinvestasi. Sama saja kamu berjalan di tengah hutan yang gelap tak tau arah.

Maka sebelum investasi nih, penting banget buat kamu untuk dapatkan dulu pemahaman yang cukup agar risikonya semakin minim. Pasalnya ada banyak kesalahan yang terlalu umum kerap dilakukan para investor pemula dari kalangan milenial, sehingga investasinya masuk ke zona merah atau justru mengacaukan tata kelola keuangannya.

Kalau ingin memperoleh keuntungan secara cepat, maka yang dilakukan bukan investasi tetapi spekulasi.[]