News

Alih-alih Dijadikan 'Duta', 4 Penentang Masker Ini Meninggal akibat Tertular COVID-19

Penentang aturan memakai masker sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya.


Alih-alih Dijadikan 'Duta', 4 Penentang Masker Ini Meninggal akibat Tertular COVID-19
Ilustrasi antimasker.

AKURAT.CO, Baru-baru ini, Indonesia digegerkan dengan aksi 2 pria yang menolak memakai masker. Di Bekasi, ada pemuda bernama Nawir yang secara kasar menarik masker seorang jemaah masjid. Sementara itu, di Surabaya, seorang pria bernama Putu Arimbawa juga terciduk mengejek pengunjung mal yang mengenakan masker. Dua kejadian ini memang sudah diselesaikan secara baik-baik. Namun, yang cukup mengherankan, keduanya 'dinobatkan' sebagai duta masker dan duta protokol kesehatan.

Penentang aturan memakai masker sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya. Namun, tak pernah terdengar kabar mereka dijadikan duta protokol kesehatan. Sebaliknya, beberapa di antaranya justru terkena COVID-19 dan mengembuskan napas terakhirnya.

Dihimpun AKURAT.CO dari berbagi sumber, ini 4 penentang masker yang meninggal dunia akibat COVID-19.

1. Richard Rose

Twitter/kat_blaque

Pria 37 tahun asal Ohio, Amerika Serikat (AS), ini menarik perhatian warganet berkat berbagai unggahannya di Facebook yang mendukung Donald Trump, mengkritik demonstran Black Lives Matter, menjadikan isu pemerkosaan sebagai bahan guyonan, dan menuding Partai Demokrat menyebarkan hoaks agar menang Pemilu.

Dalam unggahannya pada 28 April 2020, ia menyatakan tak sudi membeli masker. Beberapa hari kemudian, ia menulis sudah muak dengan COVID dan mengunggah meme Islamofobia yang menyamakan cadar dengan masker medis.

Pada 1 Juli 2020, ia mengumumkan kalau dirinya mengalami gejala COVID-19 dan terbukti positif setelah dites beberapa jam kemudian. Saat mulai menjalani karantina 14 hari, Rose mengeluh susah bernapas. Pada 4 Juli 2020, beredar berita soal kematiannya.

2. Joe Hinton

ABC3340

Pria 78 tahun asal Alabama, AS, ini tidak percaya manfaat memakai masker di tengah pandemi COVID-19. Menurut keterangan putrinya, Amy Hinton, Joe berpikir protokol kesehatan tersebut hanya dibesar-besarkan. Jadi, ia bertekad menjalani hidupnya sesuai kemauannya sendiri, tak peduli seberapa keras keluarganya memohon padanya.

Joe pun positif virus corona pada 18 Juni 2020. Baru berselang beberapa hari, tepatnya pada 22 Juni, ia menelepon ambulans dan meninggal tak sampai 3 jam kemudian. Tak heran, Amy dan keluarganya meminta masyarakat belajar dari pengalaman ayahnya dan patuh memakai masker.

"Jika Anda tak setuju, lebih baik tidak usah pergi ke mana-mana," sarannya.

3. Juan Ciprian

Boston Globe

Pria 81 tahun yang tinggal di Massachusetts ini merupakan pendukung setia Trump dan menolak memakai masker. Ia lebih percaya ucapan Trump yang menyebut virus corona bukanlah masalah besar. Juan pun mulai menunjukkan gejala COVID-19 pada 20 September dan dirawat di rumah sakit pada 23 September. Enam hari kemudian, ia wafat. 

Menurut pengakuan cucunya, keluarganya sebenarnya sangat peduli pada protokol kesehatan. Namun, hanya kakeknya yang tidak mau patuh. Ia lebih mendengarkan teori konspirasi dan lebih percaya pada pandangan Trump. Padahal, seminggu setelah kematiannya, Trump mengumumkan kalau dirinya juga didiagnosis COVID-19.

4. Bill Montgomery

KTAR News

Pria 80 tahun ini merupakan salah satu pendiri Turning Point USA (TPUSA) organisasi sayap kanan yang mengampanyekan narasi konservatif untuk anak muda. Senada dengan Trump, TPUSA juga menentang protokol kesehatan yang dirancang untuk menekan penyebaran COVID-19, seperti memakai masker. Kampanye antimasker itu kerap diunggah organisasi tersebut di akun Twitter-nya.

Salah satu aktivis yang juga ikut mendirikan TPUSA, Charlie Kirk, juga menimbulkan kontroversi. Menurutnya, orang-orang yang berisiko tinggi terserang COVID-19 serius, seperti lansia dan orang berpenyakit penyerta, harus mengisolasi diri. Dalam kolom opini Fox News pada Maret 2020, ia berpendapat bahwa anak muda yang tak mematuhi protokol kesehatan dapat membahayakan seluruh masyarakat. Namun, dalam podcast-nya pada Juli 2020, ia mengatakan kalau perintah memakai masker itu salah. Menurutnya, pemakaian masker tidak boleh dipaksa. Ia pun mengaku tak akan memakainya.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 29 Juli 2020, Montgomery dikabarkan meninggal akibat COVID-19. Tak ayal, TPUSA dan Kirk menghapus semua unggahannya yang menentang protokol kesehatan, termasuk kampanye antimasker.

Bagaimanapun juga, pandemi COVID-19 belum berakhir dan kekebalan kawanan melalui program vaksinasi belum tercapai. Jadi, protokol kesehatan masih diperlukan untuk mencegah penyebaran virus corona. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co