News

Albertina Ho: Saya bukan Konseptor SK Penonaktifan 75 Pegawai KPK

Dewas menyatakan laporan pegawai nonaktif KPK atas dugaan pelanggaran etik Indriyanto Seno Adji dalam pelaksaan TWK tak dilanjutkan ke persidangan.


Albertina Ho: Saya bukan Konseptor SK Penonaktifan 75 Pegawai KPK
Anggota Dewan Pengawas KPK Albertina Ho bersiap mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). (Antara)

AKURAT.CO, Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) Albertina Ho menyangkal keterlibatan Dewas dalam pembuatan Surat Keputusan (SK) Pimpinan KPK Nomor 652 Tahun 2021 soal penonaktifkan 75 pegawai KPK yang tak memenuhi syarat tes wawasan kebangsaan (TWK).

Albertina Ho menyatakan bahwa dirinya bukan salah satu pihak yang mencetuskan SK tersebut.

"Saya bukan konseptor surat itu. Tolong tanyakan ke Humas saja ya," ujar Albertina dalam keterangannya, Senin (26/7/2021).

Sebelumnya, Dewas menyatakan laporan pegawai nonaktif KPK atas dugaan pelanggaran etik Indriyanto Seno Adji dalam pelaksaan TWK tak dilanjutkan ke persidangan. Dewas beralasan tak cukup bukti untuk disidangkan.

Atas putusan tersebut, Kepala Satuan Tugas Pembelajaran Internal nonaktif KPK Hotman Tambunan mengaku tak terkejut dengan tak diindahkannya laporan pegawai oleh Dewas KPK.

"Kami merasa tidak terkejut dengan putusan Dewan Pengawas. Dalam TWK kami melihat Dewas lebih berat memihak pimpinan KPK. Keberpihakan ini sudah terlihat sejak pengumuman hasil TWK. Dewas menemani pimpinan KPK jumpa pers," ujar Hotman dalam keterangannya, Minggu (25/7/2021).

Hotman menyebut, dugaan keterlibatan Dewas KPK dalam polemik TWK ini saat membuat draft Surat Keputusan Pimpinan KPK yang menonaktifkan 75 pegawai.

"Bahkan (Dewas KPK) ikut membuat draf SK 652, dan draf supervisi terhadap SK 652 ini dilakukan Ibu Albertina Ho, yang meminta kami menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada atasan langsung. Maka tentu saja Dewas tidak akan melanjutkan ke sidang etik, karena Dewas terlibat dalam proses TWK ini," kata Hotman.

Hotman menyebut, alasan Dewas tak melanjutkan ke persidangan lantaran tak memiliki cukup bukti hanya alasan yang mengada-ada.

Menurut Hotman, Dewas memiliki kewenangan penuh mencari bukti dari data awalan saat pengaduan para pegawai.

Menurutnya, Dewas memiliki posisi kuat di internal KPK sebagai lembaga yang ditunjuk untuk mengawasi KPK termasuk dalam hal Kepegawaian. Namun rupanya, terkait pelanggaran etik pelaksaan TWK ini Dewas hanya memeriksa tiga orang pegawai saja.

"Ada 24 orang sebenarnya yang mewakili 75 yang melakukan pengaduan pelanggaran etik oleh pimpinan, tetapi konpers pimpinan kemarin yang diperiksa oleh Dewas hanya tiga orang, dan kebetulan mereka tidak menguasai semua hal terutama yang bersifat detail tentang TWK," kata dia. []