Tech

Alasan Elon Musk Bakal Buka Blokir Akun Trump di Twitter

Blokir permanen akun Twitter hanya akan mengecilkan kepercayaan pada platform tersebut.


Alasan Elon Musk Bakal Buka Blokir Akun Trump di Twitter
Ilustrasi foto menunjukkan akun Twitter Donald Trump yang diblokir. (reuters.com)

AKURAT.CO, Elon Musk menyatakan dirinya akan membatalkan pemblokiran akun Twitter milik mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Melansir dari laman Reuters, Musk menyebut dirinya "absolutis kebebasan berbicara", tetapi ia tidak memberikan rincian soal rencananya membatalkan pemblokiran akun ini.

Saat berbicara dalam konferensi Financial Times, Musk mengatakan bahwa dia dan salah seorang pendiri Twitter, Jack Dorsey, meyakini bahwa blokir permanen seharusnya "sangat jarang" dan hanya boleh untuk akun yang menjalankan bot atau menyebarkan sampah (spam).

baca juga:

Cuitan atau tweet yang "salah dan buruk" harus dihapus atau dibuat tidak bisa dilihat dan penangguhan akun sementara bisa dilakukan, kata Musk.

"Saya rasa blokir permanen adalah mengecilkan kepercayaan di Twitter sebagai alun-alun kota, tempat setiap orang dapat menyuarakan pendapat mereka," kata Musk.

Menurut pendiri SpaceX sekaligus CEO Tesla itu, memblokir akun Twitter Trump hanya memperluas pandangan politik Trump. Dia juga menyebut pemblokiran akun merupakan "keputusan yang salah secara moral" dan "sangat bodoh."

Twitter memblokir akun Trump pada Januari 2021, tidak lama setelah kerusuhan di US Capitol. Cuitannya dinilai memicu kekerasan.

Dimana pendukung Trump berusaha menyerbu gedung itu sebagai upaya untuk menghentikan sertifikasi pemilihan presiden 2020, yang mana kemenangan tersebut diraih oleh Joe Biden.

Selain itu, selama masa kepemimpinannya, Trump mengumumkan perintah eksekutif melalui Twitter, memecat anggota kabinet, dan mencemooh para kritikus dan tokoh utama Partai Demokrat, seperti mantan Wakil Presiden Hillary Clinton dan Ketua DPR Nancy Pelosi. 

Selain menyebarkan kebohongan, cuitan Trump juga menuai kritik karena kerapkali menggunakan retorika yang rasis dan seksis.

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dia tidak akan kembali ke Twitter meskipun kembali diizinkan menggunakan media sosial tersebut.

Mantan presiden itu menyampaikan bahwa ia lebih suka memfokuskan waktunya pada media sosialnya sendiri, Truth Social, yang diluncurkan di toko aplikasi Apple pada akhir Februari lalu.

Sekretaris pers Gedung Putih, Jen Psaki mengatakan bahwa larangan Twitter terhadap Trump adalah masalah yang harus diputuskan oleh perusahaan.

Pemerintahan Biden menginginkan platform online untuk melindungi kebebasan berbicara, tetapi juga memastikan mereka bukan forum untuk disinformasi, katanya.

Sementara itu, Musk, yang masih menjabat CEO Tesla, membeli Twitter senilai 44 miliar dolar AS beberapa waktu lalu. Diperkirakan, Musk akan menjadi CEO temporer setelah akuisisi selesai.[]