News

Alasan ACT Potong Dana Umat 13,7 Persen

Dana potongan 13,7 persen itu digunakan untuk operasional


Alasan ACT Potong Dana Umat 13,7 Persen
Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar (kanan) didampingi anggota dewan pembina yayasan ACT Bobby Herwibowo (kiri) memberikan keterangan pers di Jakarta, Senin (4/7/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar mengatakan pihaknya mengambil dana operasional sebanyak 13,7 persen dana infak sodaqoh yang telah diamanahi oleh masyarakat. Dana potongan 13,7 persen itu digunakan untuk operasional.

"Dalam lembaga zakat, secara syariat dibolehkan 1/8 atau 12,5 persen, ini patokan kami secara umum, tidak ada secara khusus untuk operasional lembaga," ucap Ibnu saat konferensi pers di kantor ACT, Senin (4/7/2022).

Ibnu mengatakan, pengambilan potongan dana sebesar 13,7 persen digunakan untuk operasional. Hal ini dikarenakan ACT bukanlah lembaga zakat sehingga hal itu dianggap bisa dilakukan.

baca juga:

"ACT bagaimana bisa mengambil 13,7 persen, sebagai amil zakat 12,5 persen, kenapa lebih? Sebab ACT bukan lembaga zakat, tapi filantropi umum dari mayarakat, CSR, sedekah umum atau infaq, dan alokasi dana zakat," sambungnya.

Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan bahwa lembaganya bisa saja memotong dana sumbangan sebesar 30 persen untuk biaya operasional. Menurutnya, hal itu sudah sesuai dengan saran dari Dewan Syariah sebagai pengawas. Namun, ACT belum pernah mengambil kesempatan itu.

"Lembaga belum pernah ambil kesempatan 30 persen, bukan ngambil, ditoleransi kalau butuh hal luar biasa seperti masuk Papua. Dewan Syariah membolehkan dana operasional di luar zakat diambil 30 persen, dan lembaga belum pernah ambil 30 persen," ujar Ibnu.

Konferensi pers petinggi ACT digelar merespon ramainya perbincangan karena ACT terseret rumors tak sedap. Tempo dalam laporannya menyebut, uang donasi miliaran rupiah yang dikelola ACT masuk ke kantong pribadi sejumlah petingginya.

Dalam laporan berjudul "Aksi Cepat Tanggap Cuan", Tempo menyebut mantan Presiden ACT, Ahyudin, diduga menggunakan dana lembaganya untuk kepentingan pribadi. Ahyudin bahkan disebut memanfaatkan dana untuk membeli sejumlah rumah hingga transfer bernilai belasan miliar ke keluarganya. 

Laporan Tempo juga menyebut pemborosan duit lembaga terjadi di ACT. Gaji Ahyudin disebut mencapai Rp 250 juta per bulan. Belum termasuk berbagai fasilitas kendaraan mulai dari Toyota Alphard, Mitsubishi Pajero Sport hingga Honda CRV. 

Ahyudin juga disebut menggunakan dana masyarakat tersebut untuk membeli rumah dan perabotan dengan nilai yang fantastis.

Tak hanya itu, para petinggi ACT juga disebut mendapatkan fasilitas makan tiga kali sehari dengan standar ala restoran. 

ACT merupakan salah satu lembaga filantropi terbesar di Indonesia. Pada 2018 hingga 2020 lembaga ini disebut mengumpulkan dana masyarakat sebesar Rp 500 miliar.

ACT ramai menjadi perbincangan warganet bahkan masuk Google Trends usai pemberitaan Majalah tempo tersebut. Selain masuk menjadi salah satu tema dalam Google Trends, tagar atau hastag #JanganPercayaACT dan #AksiCepatTilep menjadi trending topik di Twitter.[]