Lifestyle

Seperti Vicky Zainal, 4 Hal yang Harus Kamu Lakukan Saat Alami Kekerasan Verbal

Vicky Zainal mengalami kekerasan verbal yang memiliki efek jangka panjang yang sama dengan kekerasan fisik. Kondisi fisik dan mentalmu akan terganggu


Seperti Vicky Zainal, 4 Hal yang Harus Kamu Lakukan Saat Alami Kekerasan Verbal
Vicky Zainal mengaku menjadi korban KDRT dari sang suami, serta menjadi korban perselingkuhan (Instagram/vickyzainal24)

AKURAT.CO, Pesinetron Vicky Zainal kini tengah menjadi perbincangan publik usai dirinya buka suara soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya. Ya, Vicky mengaku mengalami kekerasan verbal dari suaminya.

Apa itu kekerasan verbal?

Kamu mungkin berpikir sedang tidak dilecehkan jika tidak disakiti secara fisik. Faktanya, dalam hubungan, ada banyak jenis kekerasan. Diantaranya adalah kekerasan fisik, kekerasan finansial, kekerasan sosial, kekerasan seksual dan kekerasan verbal. 

Kekerasan verbal disebut juga kekerasan emosional. Kekerasan verbal merupakan semacam interaksi verbal yang menyebabkan korbannya mengalami kerugian emosional, merasa rendah diri dan mempertanyakan dirinya sendiri. Korban akan merasa bodoh, tidak mampu dan merasa tidak berharga.

Ya, kekerasan verbal biasanya dilakukan pelaku untuk mengontrol dan mempertahankan kekuasaan atas pasangannya.

Ini dianggap sebagai salah satu bentuk kekerasan yang paling sulit dikenali. Sebab, kekerasan verbal tak hanya berupa penghinaan dan ancaman yang terang-terangan, tapi juga bisa dilakukan dengan cara yang lebih halus, seperti terus-menerus mengoreksi, menyela, dan merendahkanmu.

Yang lebih mengerikan lagi, aksi diam terus-menerus (silent treatment) dari pasangan juga dapat dikategorikan sebagai kekerasan emosional. Sebab, korban akan merasa terluka secara emosional. Apabila kekerasan verbal atau emosional ini terjadi terus-menerus, bisa menganggu kesehatan fisik dan mentalmu. Ya, efek jangka panjang sama seriusnya dengan efek kekerasan fisik.

Beberapa efek yang mungkin ditimbulkan akibat kekerasan verbal:

  • Kamu terus menerus mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi dalam hubunganmu
  • Kamu terus mencoba mengubah dirimu karena takut pasanganmu kesal dan bertindak agresif.
  • Selalu merasa malu atau bersalah.
  • Selalu merasa takut membuat pasangan kesal.
  • Merasa tidak berdaya dan putus asa.
  • Merasa dimanipulasi, digunakan, dan dikendalikan.
  • Merasa tidak diinginkan.
  • Perilaku pasangan membuat kamu selalu merasa perlu untuk melakukan sesuatu untuk memulihkan kedamaian dan mengakhiri kekerasan. Tapi pikiran ini malah membuatmu stres dan terbebani.

Apa yang harus dilakukan jika kamu mengalami kekerasan verbal?

Langkah pertama dalam menangani kekerasan verbal adalah mengenalinya terlebih dahulu. Jika kamu dapat mengidentifikasi bahwa yang dilakukan pasangan termasuk kekerasan verbal, maka kamu bisa mengambil langkah untuk mengakhirinya. 

Berikut Akurat.co merangkum tips untuk mengakhiri kekerasan verbal dalam hubungan, dilansir dari Very Well Mind:

Tetapkan batasan

Katakan dengan tegas kepada pasanganmu jika dia tidak memiliki hak untuk mengkritik, menghakimi, mempermalukan, mengancam kamu, dan sebagainya. Kemudian, beri tahu risiko apa yang akan terjadi jika dia terus berperilaku kasar seperti ini.

Misalnya, beri tahu bahwa jika dia memaki kamu, percakapan akan berakhir dan kamu tak akan segan meninggalkan ruangan. Kuncinya adalah memberi batasan.

Batasi pertemuan

Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk menjauh dari pelaku dan habiskan waktu dengan orang-orang yang tulus mencintai dan mendukungmu.

Membatasi pertemuan dengan orang tersebut dapat memberi kamu ruang untuk mengevaluasi kembali hubungan kalian. Mengelilingi diri dengan teman dan keluarga juga akan membantumu mengurangi rasa kesepian dan keterasingan, serta mengingatkan kamu tentang bagaimana seharusnya hubungan yang sehat itu.

Akhiri hubungan

Jika tak ada tanda-tanda bahwa pelecehan verbal akan berakhir, atau bahwa orang tersebut sama sekali tidak berniat memperbaiki perilakunya, kamu harus segera mengakhiri hubungan. Sebelum melakukannya, coba diskusikan dengan teman tepercaya, anggota keluarga, atau konselor.

Sebab, pelaku bisa saja mengamuk dan perilaku kasarnya semakin menjadi-jadi saat kamu memutuskan mengakhiri hubungan dengannya. Bahkan dalam beberapa kasus, kamu bisa saja mendapatakan perilaku yang membahayakan fisik maupun mentalmu. Jadi, kamu perlu berhati-hati.

Mencari pertolongan

Penyembuhan dari kekerasan verbal dalam suatu hubungan mungkin bukan sesuatu yang dapat kamu lakukan sendiri. Hubungi orang-orang terkasih yang tepercaya untuk mendapatkan dukungan. Jangan ragu untuk berbicara dengan terapis bila efek kekerasan verbal yang kamu terima sudah menganggu kehidupan.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co