News

Al-Qur'an, Surat Cinta Sepanjang Masa


Al-Qur'an, Surat Cinta Sepanjang Masa
Ust. Didin Rohaedin (AKURAT.CO/Luqman Hakim Naba)

AKURAT.CO, Pernah terjadi dalam sepenggal episode kehidupan Umar bin Khattab di mana dia berada pada suatu momentum bersejarah yang menjadi titik balik 160 derajat perjalanan hidupnya. Dia yang semula paling frontal memusuhi Islam dan berdiri di baris paling depan memerangi Rasulullah Saw dan para sahabatnya, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling mencintai dan membela perjuangan dakwah Islam.

Momentum itu terlampau tipis. Hanya selembar surat cinta yang terdiri dari enam ayat. Surah Thaha ayat 1-6. Surat itu begitu mempesona, dia yang dari rumah berangkat dengan pedang terhunus untuk membunuh Rasulullah Saw, pulang kembali ke rumahnya justru dengan status baru sebagai pemeluk dan pengikut ajaran orang yang akan dibunuhnya itu.

Semua orang terheran-heran melihat perubahan drastis Umar. Mereka bertanya-tanya, gerangan apa yang telah mengubah setan paling kejam itu menjadi malaikat berhati lembut dalam waktu sekejap. Keheranan mereka makin menjadi ketika mengetahui bahwa yang telah mengubahnya itu hanya selembar surat cinta. Tapi ini bukan sembarang surat cinta. Surat ini datang dari Allah Swt, Tuhan Penguasa alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surat yang dulu dibaca Umar itu, sekarang sampai juga ke tangan kita. Bahkan dengan jumlah dan susunan yang lebih lengkap dan sempurna, ya dia adalah Kitab Suci Al-Qur'an. Surat itu telah mewarnai dan menginspirasi hidup milyaran umat manusia dari zaman ke zaman, dan terus akan menjadi cahaya penerang sepanjang masa. Pertanyaannya, akankah surat cinta ini mewarnai dan mengubah kehidupan kita sebagaimana dulu dia mengubah dan mewarnai kehidupan Umar?

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing dan akan sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan kitab suci itu. Jika kita ingin merasakan sensasi dan nuansa sama dengan yang dirasakan Umar ketika berinteraksi dengan Al-Qur'an, maka enam langkah di bawah inilah yang harus kita laksanakan:

Pertama, Mengimaninya ( Al-Imanu Bihi )

Ini langkah pertama yang harus kita lakukan. Beriman kepadanya. Tidak sah keimanan seorang muslim yang tidak mau mengimani kitab suci Al-Qur’an. Demikian tuntutan dalam rukun iman.

Ayat mana dari kitab suci Al-Qur’an itu yang harus kita imani? Jawabnya adalah seluruhnya: 30 Juz, 114 Surah, 6.236 ayat, dari Surah Al-Fatihah sampai An-Nas. Menolak satu ayat berarti menolak seluruhnya. Mengingkari satu ayat sama dengan mengingkari seluruhnya. Karena Al-Imaanu Kullun Laa Yatajaza’. Iman itu harus menyeluruh, tidak boleh separoh-separoh. Beriman 90% tidak boleh. Beriman 99% tidak boleh. Beriman 99,99% juga tidak boleh. Harus 100%. Tidak dibenarkan seorang muslim mengimani sebagian ayat Al-Qur’an, sementara sebagian ayat lainnya ia ingkari. Sebagaimana ia menerima ayat yang mengharamkan memakan babi, ia juga harus menerima ayat yang mengharamkan memakan harta riba.

Kedua, Membacanya (Tilaawatuhu)

Rasulullah Saw menjanjikan balasan yang luar biasa di akhirat nanti bagi muslim yang mau membaca Al-Qur’an. Bahwa setiap huruf yang dibacanya dari kitab suci itu akan diganjar dengan sepuluh kebaikan. Bahkan sekalipun orang membacanya dengan terbata-bata, dia tetap akan mendapat dua pahala; satu pahala untuk membacanya, yang satu lagi untuk terbata-batanya.

Kepada Abdullah bin Amr, Rasulullah Saw pernah memberikan nasehat: “Bacalah Al-Qur'an dalam satu bulan”. Maksudnya, khatamkan bacaan Al-Qur'an itu dalam waktu satu bulan. Imam Al-Ghazali mengatakan, “Orang yang sampai dua bulan tapi tidak mengkhatamkan Al-Qur'an, dia telah melalaikan hak Al-Qur'an”.

Selain itu, tidak ada orang yang mendapatkan surat cinta tapi tidak getol membacanya. Kalau kita perhatikan orang yang sedang kasmaran, atau kita ingat-ingat kembali kenangan waktu dulu kita memperoleh surat cinta, maka kita akan mendapati satu kenyataan: Surat itu akan dibaca bolak-balik, dibaca berulang-ulang, tak pernah bosan.

Apalagi Al-Qur'an. Dia memiliki keistimewaan adiluhung yang tidak dimiliki oleh surat cinta jenis manapun yang ditulis oleh manusia paling romantis dimanapun. Sehebat-hebatnya surat cinta buatan manusia, suatu saat nanti kita akan sampai pada titik jenuh membacanya. Karena tokh yang dibaca itu-itu juga, hurufnya itu-itu juga, kalimat dan paragrafnya tak ada beda.

Tidak dengan Al-Qur'an. Orang yang membacanya tidak akan pernah merasa bosan. Never and never. Sekalipun huruf dan kalimatnya itu-itu juga, setiap orang yang membacanya akan mendapatkan nuansa baru, pengetahuan baru, pengalaman baru, penyegaran ruhani yang baru, yang tidak ia dapatkan pada bacaan sebelumnya. Sehingga ia selalu dalam kondisi “seolah-olah baru pertama kali membacanya”, meskipun, sesungguhnya, ia telah mengulangnya ribuan bahkan jutaan kali.

Lihatlah surah Al-Fatihah. Setidaknya setiap muslim membaca surah itu 17 kali sehari dalam setiap rakaat salat. Ini artinya dia membaca surah itu 510 kali dalam sebulan dan 6.120 kali dalam setahun. Bayangkan dia hidup sampai 70 tahun, maka selama itu, setidaknya, sekali lagi setidaknya, dia membaca Surah Al-Fatihah itu sampai 428.400 kali. Ini belum termasuk salat-salat sunnat yang jumlahnya mungkin bisa lebih banyak, dan belum termasuk tadarrus di luar salat. Tapi, pernahkah kita mendengar orang ngomong “Aku bosan dengan surah al-Fatihah”?.

Ketiga, Memahaminya (Fahmuhu)

Poin ketiga ini memerlukan usaha belajar yang berkelanjutan. Setelah membacanya, Al-Qur’an itu wajib dipahami. Dan ini mustahil bisa kita capai kalau kita tidak membaca terjemahnya, karena kita bukan orang Arab dan sebagian besar Umat Islam tidak punya pengetahuan yang bagus tentang Bahasa Arab.

Dalam hal ini, kita mengapresiasi kementerian Agama RI yang sejak awal-awal masa kemerdekaan telah menggagas usaha penerjemahan kitab suci Al-Qur’an ke dalam Bahasa Indonesia, di samping ada juga ulama-ulama lain yang secara individual turut serta berkontribusi menerjemahkan Al-Qur’an itu.

Namun demikian, kita tidak menutup mata dari berbagai kritik membangun yang disampaikan para ulama yang kompeten di bidangnya terhadap sistem dan metode terjemah harfiyah yang digunakan Kementerian Agama. Di antara kritik konstruktif itu disampaikan oleh Ust. Muhammad Thalib dari Majelis Mujahidin Indonesia, yang menyampaikan bahwa metode tarjamah harfiyah itu mengandung banyak sekali kelemahan dari segi kebahasaan sehingga kerap menimbulkan kesalahpahaman pembacanya. Misalnya terjemah QS. Al-Baqarah ayat 191:

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir”.

Terjemah ayat tersebut di atas berpotensi disalahpahami oleh sebagian Umat Islam untuk melakukan tindakan-tindakan anarkhis terhadap non muslim. Solusinya, Majelis Mujahidin Indonesia menawarkan metode Tarjamah Tafsiriyah sebagai cara untuk menerjemahkan Al-Qur’an. Terjemahan itu disusun dengan kalimat yang lebih moderat namun memiliki makna yang sama dan ditunjang dengan referensi dari kitab-kitab tafsir yang diakui orisinalitas dan validitas keilmuannya. Sehingga terjemah ayat itu menjadi:

“Wahai kaum mukmin, apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka umumkanlah perang kepada kaum musyrik dimana saja kalian temui mereka di tanah haram...”.

Memang bagaimanapun juga, tidak akan pernah cukup kita memahami Al-Qur’an hanya dengan membaca terjemahnya saja. Mau tidak mau kita harus juga mempelajari tafsirnya. Dan hal ini perlu bimbingan dari guru yang kompeten.

Keempat, Mengamalkannya (Al-Amalu Bihi)

Konon, KH. Ahmad Dahlan, Pendiri persyarekatan Muhammadiyah itu, pernah mengulang-ulang pengajian Surah Al-Ashri sampai delapan bulan lamanya. Kemana saja beliau berdakwah, beliau pasti menyampaikan kajian Surah Al-Ashri ini. Terus begitu dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu daerah ke daerah lain. Kenapa? Karena beliau melihat surah ini tidak diamalkan dengan baik. Banyak orang yang teledor dengan waktunya. Tidak tepat waktu, tidak menghargai waktu. Banyak orang yang tidak memanfaatkan waktu dan menyia-nyiakannya berlalu begitu saja. 

Para sahabat Nabi Saw mengatakan “Kami itu dulu mempelajari Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Kalau kami telah memahaminya, kami langsung mengamalkannya”.

Kelima, Mengajarkannya

Langkah kelima ini perlu mendapat perhatian khusus dari setiap muslim. Bahwa kita punya kewajiban untuk mengajarkan Al-Qur’an semampu yang kita bisa. Kalau kita paham tafsir Al-Qur’an, maka ajarkanlah tafsir itu kepada orang lain. Kalau tidak paham tafsir, maka ajarkanlah cara menerjemahkannya. Kalau tak tahu juga, ajarkanlah cara membacanya. Kalau tak sanggup dari Iqro 1 sampai Iqro 6, minimal kita ajarkan Iqro 1 saja. Kalau tak mampu mengajari anak orang lain, minimal kita ajari anak-anak kita sendiri. Kita upayakan, mereka bisa membaca Al-Qur’an itu langsung dari bimbingan kita sebagai orangtuanya. Sehingga setiap huruf yang mereka baca dari Al-Qur’an itu kelak, kita kebagian buahnya.

Keenam, Membelanya

Kapan kita membela Al-Qur’an? Ketika ada orang yang coba-coba memalsukannya. Satu hurufpun kita jaga dan kita bela dari kelicikan tangan-tangan kotor yang akan menodainya.

Kita juga punya kewajiban membela Al-Qur’an ketika ada orang yang berusaha memanipulasi maknanya. Banyak orang yang memanipulasi makna ayat Al-Qur’an sesuai selera nafsu dan kepentingan mereka. Sesuatu yang terang haram kata Al-Qur’an, terus mereka otak-atik, dibeginikan dan dibegitukan, sampai akhirnya sesuatu itu menjadi halal. Kita wajib membela Al-Qur’an dari orang-orang seperti ini.

Kita juga wajib membela Al-Qur’an, saat ada orang yang menistakannya. Karena ada ghirah disitu. Rasa panas di dalam dada saat sesuatu yang kita banggakan dilecehkan orang lain. Kalau kita orang NU, terus ada orang yang melecehkan NU, ada rasa panas di dada kita, itulah ghirah. Kalau kita orang Muhammadiyah, terus ada orang yang berani-beraninya menghina Muhammadiyah, kita merasa panas di dada, itulah ghirah. Kalau kita punya ibu, kita akan merasa sakit hati saat ada orang yang melecehkannya. Itulah ghirah.

Ghirah ini harus ada pada diri setiap muslim. Terutama kalau yang dinista itu adalah kitab sucinya, surat cinta dari Tuhannya.[]

Iwan Setiawan

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu