Ekonomi

Akui Kondisi BUMN Karya Memprihatinkan, Wakil Erick: Tekanan COVID-19 dan Beratnya Penugasan!

Wakil BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengakui kondisi keuangan BUMN Karya saat ini cukup memprihatinkan karena pandemi covid-19 dan penugasan.


Akui Kondisi BUMN Karya Memprihatinkan, Wakil Erick: Tekanan COVID-19 dan Beratnya Penugasan!
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo melaporkan kondisi perusahaan pelat merah di sektor konstruksi yang saat ini tengah mengalami kesulitan keuangan.

Ia mengungkapkan, terdapat dua hal yang menyebabkan kondisi keuangan BUMN Karya tertekan yaitu dampak dari pandemi COVID-19 yang membuat sulitnya mendapat kontrak baru serta penjualan dan penugasan yang sangat berat. 

"Kondisi (BUMN) Karya saat ini cukup memprihatinkan, kombinasi dari adanya tekanan COVID-19 dan penugasan yang memang sangat berat. Karena tidak di dukung pula dengan PMN yang memadai," jelasnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI terkait Pembahasan Mengenai Usulan BUMN Penerimaan PMN Tahun 2022, di Jakarta, Kamis ini (8/7/2021). 

Pria yang akrab disapa Tiko itu menyebutkan bahwa sepanjang 2017-2019 hampir tidak ada PMN yang diberikan pemerintah ke BUMN Karya yang mengerjakan proyek strategis nasional (PSN). 

Ia merincikan, BUMN Karya yang mengalami kesulitan keuangan pertama yaitu Perum Perumnas yang kondisinya mengalami penurunan pendapatan signifikan sebesar 27,25%. Hal ini disebabkan melambatnya penjualan rumah untuk masyarakat berpendapatan rendah (MBR).

Alhasil, lanjut Tiko, invetori rumah Perumnas menjadi besar yang mengakibatkan rasio utang terhadap ekuitas meningkat tajam. Katanya, Perumnas tercatat memiliki utang sebesar Rp4,62 triliun yang saat ini sedang dilakukan restrukturisasi.

"Namun untuk memastikan bahwa ke depan neraca maupun kekuatan likuiditasnya memadai, kami menginginkan adanya tambahan PMN untuk memastikan bahwa penugasan perumnas untuk membangun rumah bagi MBR bisa berkelanjutan," ungkapnya. 

Selanjutnya, PT Waskita Karya Tbk (Persero), yang keuangannya tertekan lantaran pada 2015-2016 perseroan mengambil alih proyek-proyek jalan tol Trans Jawa dari swasta yang tidak berkelanjutan untuk diselesaikan. 

Kondisi itu membuat utang perseroan meningkat tajam mencapai Rp 64,94 triliun. Di sisi lain, Waskita juga mengalami penurunan pendapatan sebesar 48,42%.