Entertainment

Aktor Ferry Ardiansyah Bicara Tentang Eksistensi Dumeca Record

Label musik Dumeca Record menggaet musisi, Fiko Nainggolan


Aktor Ferry Ardiansyah Bicara Tentang Eksistensi Dumeca Record
Musisi Fiko Nainggolan (kiri) didampingi CEO Dumeca Records Ferry Ardiansyah (kanan) saat berkunjung ke kantor redaksi Akurat.co di Jakarta, Kamis (25/11/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Beberapa waktu lalu, AKURAT.CO mengadakan media visit dengan menghadirkan CEO Dumeca Record, dan penyanyinya, Fiko Nainggolan, dalam program Akurat Talk.

Nah, dalam kesempatan itu, tim Akurat Talk membahas tentang dampak pandemi Covid-19 terhadap industri musik Tanah Air dan perekrutan Fiko sebagai penyanyi di label Dumeca Record.

Ingin tahu bagaimana keseruan pembahasan tim Akurat Talk bersama CEO Dumeca Record bersama penyanyinya yang baru-baru ini merilis single terbarunya 'Debar Asmara?' Berikut jawabannya.

Bagaimana Pengalaman Bermusik di Tengah Pandemi Covid-19?

"Yang jelas industri musik ini merupakan salah subsektor industri kreatif yang harus dijaga dan dikawal, dan juga pada saat pandemi para insan musik juga merasakan dampak yang sangat luar biasa, enggak bisa off air, enggak bisa nyanyi kemana-mana. Sedangkan mata pencaharian seorang musisi itu biasanya dari panggung ke panggung," ucap Ferry Ardiansyah.

"Namun hal ini kita bisa memanfaatkan peluang lain yaitu beralih ke digital yang mana pada masa pandemi ini semua orang bisa dikatakan dari sektor pendidikan saja sudah beralih ke digital secara daring dan sebagainya. Nah salah satunya bagaimana di industri musik harus konsisten tetap berkarya ya kita memanfaatkan platform tersebut," lanjutnya.

"Maka dari itu, saya dan teman-teman di Dumeca Record terus mengoptimalkan industri musik ini tetap bisa hadir di tengah pandemi dengan kemampuan yang kita miliki. Alhamdulillah mendapatkan respon yang positif dan bisa memberikan semangat kepada semua yang saat ini merasakan dampaknya pandemi," tambahnya.

Ada perbedaan bermusik secara virtual dengan tatap muka?

Yang jelas itu hampir sama seperti layaknya kayak event ya, event offline event online ini pasti berbeda, dari segi attachment juga berbeda. Kalau secara offline kita bisa lihat secara langsung di depan mata kita sendiri, itu adrenalinnya beda, terus juga keterikatan atau attachmentnya jauh lebih terasa," jelas Ferry.

"Kita bisa mendapatkan suasananya, mendapatkan esensinya lebih dalam, namun kalau harus melalui platform digital itu memang sedikit berbeda sih. Cuma bedanya bisa dinikmati di mana saja dan dari sisi esensi juga tidak jauh, tapi berbedanya itu tadi attachment atau adrenalinnya berbeda kalau melalui online dan offline," sambungnya.

Gimana proses menemukan Fiko hingga merilis single Debar Asmara?

"Ketemu Fiko nih unik ya, jadi projek pertamanya Dumeca Record ini adalah Aldiv yang merupakan pendatang baru juga. Nah waktu itu karena Fiko juga dekat sama Aldiv, Fiko menciptakan single perdananya Aldiv 'Tinggalkan Rasa' kalau enggak salah.

Nah dari situ Fiko sering nih ngobrol di kantor, saya enggak tahu kalau dia ternyata dia punya bakat nyanyi, di satu sisi teman-teman saya diluar kantor itu bilang 'itu Fiko nyanyi juga deh' gitu.

Terus saya coba cari tahu, oh iya tetnyata dia punya suara yang cukup unik dan menurut saya ini mempunyai pasar tersendiri.

Lalu saya tanya, kamu punya materi hak Fik, ada mas, terus sudah dibikin tuh materinya," ucap Ferry.

"Terus setelah itu kita coba restore kira-kira apa yang bisa kita bangkitin, mau enggak nih Fik menjadi salah satu katalognya Dumeca Record, ya Alhamdulillah fetbacknya bagus, karena kita sering ngobrol juga ya Fik ya, karena Fiko tuh jagain workshop di kantor sebetulnya, saya juga kasih kesempatan kepada Fiko untuk eksplor beberapa karya-karya dia, karya-karya teman, ataupun lagu yang datang atau yang suplai lagu ke label kita, Fik coba deh telaah lagu ini," sambungnya.

"Jadi di dapur ini Fiko masak juga istilahnya, akhirnya ya udah kita suka lagu lu ya ini, tadinya dia enggak mau lagu yang Debar Asmara karena sudah dibikin sama dia. Tapi It's oke masuk di industri musik ada beberapa ketentuan yang harus kita diskusikan kembali. Ya Alhamdulillah kita rilis Debar Asmara," imbuhnya.

Gimana proses menciptakan single Debar Asmara?

Jadi awal 2020 saya masih di Bali, itu sudah pandemi. Saya cuma bisa dengar lagu-lagu baru terupdate, nah waktu itu lagu terbarunya lagunya Deikostaria feat Dian Sastro 'Srinata Joalara'.

Dari situ saya terinspirasi wah suatu saat pengen bareng punya lagu kayak gitu tahun-tahun 80-an yang dimana saya memang suka lagu-lagu zaman dulu kan. Terus dua hari tiga hari setelahnya saya langsung bikin lagunya tuh notasinya di posrecord hp, langsung cepat dan besoknya saya bikin liriknya," ujar Fiko Nainggolan.

"Jadi kurang lebih sehari atau dua hari lah bikin lagunya, saya juga enggak tahu kenapa biasanya saya bikin lagu tuh lama, cuman mungkin karena magic moment dan saya suka banget dengan lagu-lagu tahun 80-90-an jadinya cepat aja ngalir gitu. Nah sebenarnya sudah pernah rilis dulu, tapi waktu itu saya masih indie atau sendiri, semuanya produksi sendiri," lanjut Fiko.

"Cuma pas ketemu pak Ferry, dia menawarkan hal baru, 'Fik lagu lu tuh sebenarnya masih bisa diupgrade mau enggak dirilis ulang dengan yang lebih bagus lagi, semuanya versi baru dari reiteg ulang'. 'wah', tadinya sempat enggak mau, kenapa enggak lagu lainnya aja karena sudah pernah dirilis kan. Tapi akhirnya saya setuju 'oke kalau direteg lagi di tempat yang lebih bagus' saya mau-mau aja lah kenapa enggak," tambahnya.

"Awalnya nolak lama banget dia kasi jawaban, terus saya bilang gini, kalau saya lihat dari kacamata industri lagu ini sayang kalau tidak dieksplor lebih matang sesuai dengan image saat ini. Jadi memang lagu ini nafasnya 90 atau 80-an, tapi bagaimana caranya diaplikasikan sesuai dengan industri yang ada saat ini. Mencoba menyesuaikan gitu, makanya dari durasi juga dipersingkat, ada beberapa part yang dipakai dengan sound-sound baru juga," timpal Ferry.

"Tapi memang ada nilai plusnya juga, waktu itu semua saya sendiri kan saya nyuruh teman untuk bantuin masukin ke digital platform dan lain-lain. Cuma dari label itu bisa membuat masa pendengarnya lebih besar gitu, jadi bersyukur banget bisa ditawarin sama Dumeca Record sih," bala Fiko.

Kenapa memilih ciptakan lagu era 90-an?

"Jadi saya membuat lagu ini ambil temannya itu saya membayangkan pesta pada waktu masa lampau 90 atau 80-an kayak gimana sih, yang dimana kan belum ada gadget segala macam kan. Biasanya di pesta terus minggel ketemu orang, entah yang udah kenal atau belum, untuk kenalan kan 'eh namanya siapa'. Nah di lagu ini menceritakan dua orang manusia yang bertemu di suatu pesta terus mereka enggak saling kenal tapi mereka saling tatap-tatapan dari jauh, saling ngasi kode, tapi mereka enggak ada yang berani untuk mengutarakan. Makanya judulnya Debar Asmara, ya pesannya kalau lu kenal sama seseorang kalau niatnya baik ya dekatin aja, sesimpel itu," kata Fiko

"Jadi waktu kecil kalau saya dibangunin orangtua untuk ke sekolah, jadi nyetelnya lagu-lagu Chrisye, Dibitels, zaman-zaman dulu. Jadi sejak kecil terpatri lagu-lagu zaman dulu dan menurut saya itu lagu-lagu jadul kek masih jujur untuk menjadi sebuah karya, enggak terlalu mikirin industri banget tapi bagus dan berkelas. Nah saya tertarik bikin lagu kayak gitu dengan nuansa 50 jadul 50 sekarang gitu dan itu tantangan tersendiri karena saya baru pertamakali buat lagu tahun 80-an," lanjutnya menerangkan.

Lagunya sering dibilang mirip dengan Chrisye, gimana tanggapannya?

"Iya, beberapa masukan itu 'wah saya pikir lagunya Chrisye' ada yang bilang gitu. Di YouTube pun banyak yang bilang 'ini lagu baru ya, gue pikir lagu lama lagunya Chrisye', sebenarnya senang enggak senang sih karena menurut saya kalau dari diri saya pribadi ya saya enggak merasa suara saya mirip Chrisye ya, kayak punya dimensi yang beda tapi mungkin tipis-tipisnya mirip suaranya, reachnya. Tapi kalau dibilang kayak Chrisye tuh kayak gimana ya, Chrisye tuh enggak tergantikan kalau menurut saya, mungkin dari segi musikalitasnya. Kalau dibilang untuk meneruskan sih oke juga tuh, karena saya memang suka lagu-lagu Chrisye kan. Nah saya pengen hadirkan lagi lagu-lagu tahun 90 atau 80-an ke industri musik masa kini, gitu sih cita-citanya," jelas Fiko.

Ketika menciptakan lagu inspirasinya dari mana aja?

"Biasanya dari permasalahan di kehidupan saya, jadi saya bersyukur banyak masalah banyak inspirasi. Misalnya putus cinta, mas Ferry tau lah ketika saya putus cinta, saya diam terus di kantor terus saya bikin aja lirik, nada, jadinya lebih tulus. Jadi ketika saya nyari tuh feel-nya dapat karena saya ngerasain, tapi enggak melulu ketika lagi pedih atau gimana, kadang juga saya berimajinasi kayak lagu Debar Asmara kan saya enggak ngalamin tuh. Saya lebih suka kisah-kisah orang lain, atau enggak imajinasi saya seperti sesama sepupu saling suka, saya pernah seliar itu untuk bikin lirik walaupun enggak mungkin ya. Tapi kalau di Batak mungkin tuh, namanya Pariban, saya pernah bikin lagu yang arah-arah ke sana yang liar gitu. Jadi inspirasinya bisa dari pengalaman pribadi, pengalaman teman, atau imajinasi sih," ungkap Fiko Nainggolan

Sulit enggak bikin Debar Asmara untuk diterima masyarakat?

Kalau bicara kesulitan sebenarnya sih enggak, melihat di mana saat ini cukup baik, sesama 80-an juga sangat diterima dengan baik di industri saat ini dan ini juga merupakan karya yang baru, karya yang berbeda daripada umumnya dan lawannya masih sedikit. Nah di sisi lain secara pribadi saya juga suka, suka lagu-lagu lama bahkan di hp saya playlistnya 80 atau 90-an," kata Ferry.

"Nah pas ngobrol sama Fiko segala macam, saya nyekokin Chrisye ke dia, saya suka Chrisye, saya cinta karya-karya beliau. Saya kenal Chrisye bahwa lagu tuh diciptakan harus jujur dan saya merasakan kejujuran itu dilagu-lagu 80-90 an. Makanya pas Fiko buat lagu kayak gini saya suka banget, cuma bagaimana saya bisa mengkawinkan unsur 80-90 ini tetap kuat tanpa harus keluar dari identitas industri saat ini, coba di sesuaikan. Ya Alhamdulillah, jadi dicoba di versi sekarang," tutupnya.[]