News

Aksi Terorisme sepanjang 2019, dari Penusukan Wiranto hingga Bom Bunuh Diri Medan


Aksi Terorisme sepanjang 2019, dari Penusukan Wiranto hingga Bom Bunuh Diri Medan
Polisi berjaga pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11/2019). Pelaku diduga berjumlah dua orang dengan mengenakan atribut ojek online. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

AKURAT.CO, Sepanjang tahun 2019, ada sejumlah aksi teror yang melanda Indonesia. Diantaranya yang paling tidak diduga seperti kejadian bom bunuh diri di halaman Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu, 13 November 2019.

Namun, Kapolri Jenderal Idham Azis menyebut pada tahun 2019, kasus kejahatan terorisme alami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi pada jumlah aksi maupun pelaku teror.

"Sepanjang tahun 2019, jumlah aksi teror menurun 10 kasus atau 52,6 persen, dibandingkan tahun 2018 berkat pencegahan Polri bersama masyarakat," kata Idham dalam laporan akhir tahun Polri 2019 di Auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2019).

Meski begitu, setidaknya terdapat lima peristiwa teror yang menjadi perhatian publik selama 2019. Berikut rangkumannya: 

1. Aksi Teror Bom Sibolga

Solimah, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah, di Kecamatan Sibolga Sambas, Sibolga, Sumatera Utara, Sabtu, 16 Maret 2019. Aksi bom bunuh diri yang dilakukan Solimah pada Rabu 13 Maret 2019 dini hari saat upaya penangkapan oleh Densus 88.

Mulanya, peristiwa ini dari penangkapan terduga teroris Husain alias Abu Hamzah (AH) di Sibolga, Sumatera Utara, pada 12 Maret 2019.

Husain diduga tergabung dalam jaringan teroris Jamaah Ansharut Daullah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. 

Akibat aksi nekatnya, menyebabkan sedikitnya 151 rumah warga rusak berat, sedang dan ringan.

2. Bom bunuh diri di Pos Polisi Sukoharjo

Pelaku diketahui berinisial RA (22) saat itu 3 Juni 2019 diduga dirinya ingin mencoba untuk melakukan bom bunuh diri. Namun, RA hanya terkena luka yang cukup parah.

RA yang telah terpapar paham radikalisme, merupakan terduga teroris lone wolf atau bertindak sendiri. 

Pihak kepolisian mengatakan, RA menggunakan bom itu di pinggang saat melakukan aksinya.

3. Pura-pura membuat laporan, Anggota Polisi Diserang

Pada 17 Agustus 2019, Polsek Wonokromo, Surabaya diserang oleh seseorang berinisial IM. Dengan modus berpura-pura ingin membuat laporan, IM yang berbekal senjata tajam pun menyerang seorang anggota polisi. 

Akibat dari aksinya, korban yang bernama Aiptu Agus Sumarsono, mengalami luka sabetan senjata tajam di bagian kepala dan tangan.
Bahkan, IM juga terkait dengan pelaku pengeboman gereja di Surabaya satu tahun lalu.

"Dia masih punya keterkaitan dengan pelaku bom gereja di Surabaya tahun lalu," kata Kapolri saat itu, Jenderal Polisi (Purn) Tito Karnavian di RS Bhayangkara Polda Jatim, 19 Agustus 2019.

4. Penusukan Wiranto

Mantan Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Wiranto ditusuk terduga teroris berinisial SA alias AR saat tiba di Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang. 

Dalam melakukan aksinya, SA bahkan turut mengajak istrinya, FA, dan anaknya. Namun, meski sudah diperintahkan SA untuk melakukan serangan, anaknya mengurungkan niat.

"Tapi anaknya mengurungkan niatnya karena dia tidak berani. Yang berani melakukan itu Abu Rara sendiri dan istri," kata Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, 17 Oktober 2019.

Usai kejadian itu, total 40 terduga teroris ditangpak Tim Densus 88 selama 10-17 Oktober 2019.

5. Aksi Nekat Bom bunuh diri di Polrestabes Medan

Pelaku diketahui berinisial RMN (24), kesehariannya berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol), ia diduga terpapar radikalisasi. Dalam menjalankan aksinya, RMN dibantu dua rekannya untuk membuat bom.

"Dalam proses investigasinya, pemeriksaan terhadap beberapa orang terdekat tersangka tersebut, baru terungkap siapa-siapa yang berperan untuk mempersiapkan saudara RMN itu melakukan suicide bomber," tutur Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, 18 November 2019.

Hingga 19 November 2019, polisi telah menetapkan 30 tersangka terkait peristiwa bom bunuh diri tersebut.

Termasuk di dalamnya, tiga orang yang meninggal dunia, yakni RMN dan dua orang yang ditangkap di Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang.

Para tersangka terdiri dari 3 orang perempuan dan 24 laki-laki. Mereka memiliki peran yang bermacam-macam, mulai dari bendahara, perakit maupun perekrut.

Namun, secara keseluruhan, hingga 2 Desember 2019, Densus 88 telah menangkap 92 terduga teroris usai peristiwa bom bunuh diri itu. []