News

Aksi Protes Kematian George Floyd Meluas ke Seluruh Bagian AS, Polisi Pelaku Pembunuhannya Terancam 25 Tahun Penjara


Aksi Protes Kematian George Floyd Meluas ke Seluruh Bagian AS, Polisi Pelaku Pembunuhannya Terancam 25 Tahun Penjara
Demonstran membentangkan poster saat aksi unjuk rasa atas meninggalnya George Gloyd di Minneapolis, Minnesota, Rabu (27/5/2020). George Floyd, tewas akibat kehabisan napas akibat lehernya diduduki oleh polisi. Hal tersebut memicu bentrokkan antar pendukung Floyd dan kepolisian sepanjang hari. (REUTERS/Eric Miller)

AKURAT.CO, Aksi demonstrasi pasca kematian George Floyd, warga kulit hitam AS yang tewas di tangan polisi, meluas ke seluruh bagian AS. Bentrokan antara demonstran dan polisi tak terhindarkan di banyak titik di AS.

Titik demonstrasi pertama adalah Minneapolis, yang merupakan lokasi tewasnya George Floyd. Di kota tersebut, aksi demonstrasi berubah menjadi aksi perusakan, pembakaran, dan penjarahan. Gedung-gedung, kendaraan, dan bisnis-bisnis, menjadi sasaran para demonstran.

Di Florida, demonstran menyerbu rumah anggota polisi yang membeku George Floyd hingga tewas. Kepolisian setempat harus mengerahkan pasukan untuk menjaga rumah tersebut.

baca juga:

Sementara di Atlanta, demonstran terlibat bentrokan dengan polisi di depan kantor CNN. Mereka melempari polisi yang berjaga dengan botol plastik dan kaca, salah satu botol kaca yang dilempar ke arah barisan polisi meledak, tetapi tidak menyebabkan korban luka atau tewas.

Di Denver, demonstran meluapkan kemarahan dengan melempari polisi dengan batu, membuat kebakaran kecil, merusak kendaraan, dan menjarah bisnis-bisnis. Tiga orang polisi terluka akibat bentrokan dan 13 demonstran ditangkap dalam kerusuhan di Denver. Polisi di Denver juga menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan demonstran.

Penggunaan gas air mata dan peluru karet juga dilakukan polisi di Albuquerque. Polisi berdalih itu dilakukan sebagai respons atas tembakan yang dilakukan para demonstran dari kendaraan selama aksi. Namun, masih tidak jelas apakah penembakan dari kendaraan itu berkaitan dengan demonstrasi atau dilakukan pihak lain.

Demonstran di New York City menyuarakan protes mereka dengan aksi long-march sampai balai kota. Aksi para demonstran mendapat dukungan dari Wali Kota New York Andrew Cuomo, ia menyebut ia mengerti tuntutan keadilan yang disuarakan demonstran.

Di California, ratusan demonstran memblokir jalan dan terlibat bentrokan dengan polisi selama aksi. Mereka melemparkan batu ke arah polisi dan merusak kendaraan serta menjarah bisnis-bisnis. Sembilan orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut.

Di Ohio, setidaknya 400 demonstran turun dan memblokir jalan-jalan utama. Demonstrasi di wilayah tersebut semula berlangsung damai, namun kemudian berubah ricuh saat demonstran mulai melempar benda-benda ke polisi, toko-toko, dan gedung parlemen setempat. Lemparan para demonstran dibalas dengan tembakan gas air mata oleh aparat dan membuat situasi semakin ricuh.

Kota lainnya yang menjadi titik aksi adalah Houston, di mana ribuan orang turun ke balai kota untuk unjuk rasa. Aksi berlangsung damai, namun sempat ada kerusuhan saat polisi menangkap seorang wanita yang membawa senjata untuk memprovokasi kerusuhan.

Demonstrasi juga tercatat di Phoenix, di mana ratusan warga turun ke jalan sambil membawa tulisan 'bungkam adalah kejahatan' dan 'berkulit hitam bukanlah vonis mati'. Seperti di beberapa negara bagian lainnya, demonstrasi di Phoenix diwarnai bentrokan dan aksi saling lempar antar kubu. Demonstran merusak kendaraan-kendaraan polisi, mereka kemudian dibubarkan dengan gas air mata dan peluru karet.

Insiden yang menewaskan George Floyd sendiri terjadi pada Senin (25/5). Saat itu pria kulit hitam tersebut dibekuk setelah dituduh menggunakan uang palsu untuk berbelanja di sebuah toko. Polisi berdalih Floyd melawan saat hendak ditangkap. Salah satu polisi bernama Derek Chauvin memborgol dan menjepit leher Floyd ke tanah dengan lututnya.

Tindakan polisi tersebut membuat Floyd tidak bisa bernapas, hal itu pun dinyatakannya pada polisi yang membekuknya. Namun, meski mendengar bahwa Floyd tidak bisa bernapas, Chauvin tetap menekan leher Floyd hingga akhirnya pria 46 tahun itu tewas.

4 polisi yang terlibat kejadian kini telah dipecat, namun belum didakwa. Sementara Chauvin dikatakan terancam hukuman 25 tahun penjara.[]