Ekonomi

Akibat Covid-19, Puluhan Perusahaan di Jateng Terpaksa Tutup


Akibat Covid-19, Puluhan Perusahaan di Jateng Terpaksa Tutup
Ekshibisi mesin tekstil dalam pameran industri tekstil dan produk tekstil (ITPT) terintegrasi bertaraf Internasional 'Indo Intertex dan Inatex' yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/4). Pameran yang menghadirkan 900 perusahaan dari perusahaan lokal dan 23 mancanegara yang bergerak dalam industri tekstil dan garmen. Pameran yang saling terkait yakni Indo Intertex yang menghadirkan permesinan dan peralatan, sedangkan Inatex memamerkan aneka bahan baku serat, benang, kain, paka (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah Frans Kongi mengatakan terdapat puluhan perusahaan di wilayah tersebut yang terpaksa menghentikan sementara proses produksi mereka sebagai dampak dari penyebaran Covid-19.

"Ada sekitar 40 perusahaan yang sudah setop produksi. Tersebar di Jawa Tengah," kata Frans dalam diskusi hukum yang digelar Rumah Pancasila di Semarang, Sabtu (4/4/2020).

Puluhan perusahaan yang setop produksi tersebut, lanjut dia, antara lain bergerak di bidang garmen serta furnitur.

Dampak dari penyebaran corona, lanjut dia, dirasakan oleh para pengusaha sekitar satu hingga dua bulan terakhir.

Salah satu kendala utama yang dihadapi pengusaha, kata dia, ketergantungan terhadap bahan baku impor, utamanya dari China. Ia mencontohkan bahan baku farmasi, obat-obatan, tekstil, hingga besi yang harus didatangkan dari China.

Selain itu, menurut dia, pengusaha juga kesulitan untuk mengekspor produknya di situasi seperti sekarang ini.

"Pabrik kalau tetap produksi juga bingung karena pasarnya juga tidak ada," katanya.

Ia juga menyebut opsi untuk merumahkan karyawan agar perusahaan bisa tetap beroperasi.

Perusahaan-perusahaan yang masih berproduksi, kata dia, juga telah menerapkan protokol keselamatan di saat darurat pandemi corona ini.

Sementara itu, pakar hukum Universitas Nusa Cendana Kupang, Bernard L.Tanya, mengatakan, di saat kondisi negara seperti sekarang ini yang paling penting dilakukan yakni membangun solidaritas sosial.

"Permasalah yang dihadapi pengusaha bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga peran serta dan pengertian para pekerja," katanya. []

Sumber: Antara