Ekonomi

Akhirnya IHSG Kembali Bangkit Berkat Obat Ini


Akhirnya IHSG Kembali Bangkit Berkat Obat Ini
Tampak layar elektronik pergerakan saham menggunakan kamera ponsel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Pada penutupan perdagangan akhir pekan, IHSG ditutup menguat 2,18 persen atau 89,52 poin ke level 4.194,94. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Kamis (26/3/2020) akhirnya kembali bangkit. Penguatan ini mencapai 5,21% atau 205,28 poin ke 4142,92.

Sebanyak 160 saham menguat, 45 melemah, dan 53 stagnan. Asing membeli saham hingga Rp82,02 miliar.

Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 menguat 7,72%, Kelompok 30 saham unggulan dari LQ45 (IDX30) menguat 7,78%, dan Kelompok 30 saham syariah unggulan atau Jakarta Islamic Index (JII) menguat 5,7%.

Saham dari Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang paling menguat adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai 15,11% ke Rp25.900. Secara umum, saham yang paling menguat adalah PT Indofarma Tbk (INAF) menguat 18,18% ke Rp1.040. 

Saham teraktif adalah Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bernilai Rp217,67 miliar.

Direktur riset dan investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico menilai penguatan IHSG didorong oleh stimulus AS, China, dan pemerintah untuk menanggulangi dampak Corona, serta intervensi BI terhadap rupiah.

"Congratulations, pada akhirnya White House dan Senat sepakat untuk mencapai kesepakatan pada hari Rabu pagi mengenai bantuan sebesar US$2 T, yang dimana paket tersebut seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya merupakan paket stimulus terbesar sepanjang sejarah Amerika, dan hal ini dilakukan untuk melawan efek dari wabah virus corona," kata Nico.

Bantuan tersebut akan langsung diberikan kepada masyarakat Amerika, meningkatkan langsung bagi pengangguran, dan bentuk pinjaman darurat terhadap usaha kecil, dan memberikan lebih banyak sumber daya bagi rumah sakit dan peralatan medis lainnya.

Sejauh ini meskipun hasil akhirnya dari kesepakatan belum disampaikan, namun terlihat dari draft yang diberikan pada hari Selasa kemarin, Pemerintah akan menyediakan bantuan tunai hingga US$1.200 untuk per orang, US$2.400 untuk yang sudah menikah, dan US$500 per anak, dan akan dikurangi apabila ternyata orang tersebut telah menghasilkan lebih dari US$75.000 atau pasangan yang menghasilkan lebih dari US$150.000.

Bagi usaha kecil akan diberikan bantuan sebesar US$350 miliar secara keseluruhan untuk membantu membayar gaji para pegawai. Tidak hanya itu saja, Pengusaha akan mendapatkan penangguhan mengenai pajak gaji. 

"Bank Sentral China pun akan mengumumkan penurunan tingkat suku bunga deposito dalam beberapa mendatang. Financial Times melaporkan berita hangat ini. Jika hal itu benar terjadi, tentu saja hal ini menjadi yang pertama sejak 2015 silam. Pemotongan ini bertujuan untuk membantu meningkatkan profitabilitas bank dan mendorong mereka untuk memberikan pinjaman yang lebih murah terhadap bisnis dan sektor rumah tangga," kata Nico.

Alasan utama lainnya adalah untuk mendorong Bank meminjamkan pinjaman tapi tanpa harus menekan margin mereka. Tentu hal ini memberikan kabar yang baik,  bahwa China terus melakukan pemberian stimulusterhadap pemulihan perekonomian China ketika China sudah pulih. Kalau kita lihat sebelumnya China juga telah mendorong untuk melonggarkan kredit dan melakukan pemotongan pajak. 

Saat ini, di domestik pemerintah sedang mengkaji beberapa alternatif pada kebijakan kurs guna menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah tekanan, hal ini termasuk adanya kemungkinan penerapan currency board system yang tujuannya akan mematok rupiah terhadap dollar pada level tertentu.

Sistem tersebut dinilai dapat menjadi solusi dimana mestabilkan nilai tukar di tengah masa – masa sulit ketika tahun 1998. Namun sayangnya, ketika tahun 1998 pemerintah tidak dapat menerapka currency board system dimana cadangan devisa yang mencukupi adalah sebagai syarat guna melancarkan kebijakan sesuai rencana.

Hingga saat ini Bank Indonesia telah cukup komit dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pada pasar keuangan. Bank Indonesia juga telah melakukan intervensi hampir Rp 3 triliun. Hal tersebut seiringan dengan aliran modal asing keluar akibat wabah Covid-19 yang hingga saat ini telah mencapai Rp 125.2 triliun. 

Selain itu, pemerintah RI membuat stimulus yaitu akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Stimulus tersebut sangat penting untuk masyarakat. Langkah ini sebagai respon pemerintah terhadap turunnya daya beli masyarakat dampak dari virus corona. Tentu hal ini akan memberikan sebuah harapan bagi para pekerja harian untuk tetap menjalankan amanah dari Pemerintah mengenai Work From Home.

Bantuan yang serupa juga tengah disiapkan oleh Go Jek untuk menjaga mitra mereka untuk tetap bekerja dan mendapatkan penghasilkan. Program tersebut dinamakan, Gojek Partner Support Fund. Tentu hal ini menjaga kestabilan ekonomi ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini.[]

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu